Hari Kedua

Langit masih mendung seperti kemarin suasana sepi dengan rintik hujan yang menyelimuti rumah kecil di tengah hutan dengan dua orang yang tersesat dalam pikirannya masing-masing.

Soonyoung duduk bersila di atas permadani lusuh di ruang tengah, kembali membolak-balik lembar catatan harian milik mendiang ibunya. Mencari mungkin ada rahasia kecil yang masih belum ia pecahkan. Ada satu nama keluarga yang total dua kali ibunya tuliskan dalam catatan tersebut, satu marga asing yang entah firasat Soonyoung mengatakan dapat memberikan titik terang untuknya. Ia hanya memegang tiga buku harian milik sang ibu namun rasanya ia yakin kalau ada catatan lain yang belum ia temukan dan pasti menyimpan lebih banyak rahasia yang harus ia ketahui.

Wonwoo menemani dalam diamnya, pikirannya melayang entah kemana menatap langit-langit dari tempatnya merebahkan tubuh di atas sofa tua di ruang tengah, tepat di belakang Soonyoung.

“Menurut lo mungkin gak sih nu masih ada yang tersimpan dari rumah ini?” tanya Soonyoung masih memandangi buku harian lusuh dengan kertas yang sudah keriting di setiap sisinya.

Wonwoo menarik napas panjang.

“Ada” balasnya. “Kemarin gue liat sesuatu di atas kamar mandi” lanjut Wonwoo.

Soonyoung langsung memutar badannya menghadap Wonwoo menunggu kelanjutan ucapan sahabatnya.

”...langit-langit rumah ini rendah, nyong. Gue bahkan bisa gapai tanpa bantuan kursi padahal kalau kita lihat dari luar bangunannya tinggi menjulang ke atas...” jelas Wonwoo. “...ada ruangan lain di sini” tutupnya.

Soonyoung seketika mengedarkan pandangannya, memperhatikan setiap sudut rumah tua ini menerka kira-kira rahasia apa yang masih tersimpan. Matanya kemudian tertuju pada pintu kamar mandi di dekat dapur yang disebutkan Wonwoo barusan dan kemudian beranjak pelan ke sana.

Kamar mandi kecil dengan satu bak mandi rendah yang sama tuanya dengan rumah ini, tidak ada shower hanya satu sambungan keran yang terlihat baru hasil pekerjaan Wonwoo kemarin, terlihat mencolok karena modelnya yang modern di antara pipa berlumut dan bak yang hanya di lapisi semen gelap.

Soonyoung meraba setiap sisi dindingnya mendorongnya hati-hati namun tak ada yang bergerak sedikitpun.

“Lihat ke atas, nyong” sergah Wonwoo yang menyusul dari belakangnya.

Langit-langitnya sama seperti di ruang tengah hanya saja bedanya di sini ada sarang laba-laba di sudut kiri yang menutupi ventilasi udara.

Soonyoung memperhatikan dengan seksama namun tak juga ia temukan apa yang dimaksud Wonwoo, sampai akhirnya Wonwoo ikut masuk ke sana berdiri berhadapan dengan Soonyoung, di dalam kamar mandi kecil berukuran 1,5 meter x 2 meter ini keduanya harus berhimpitan. Soonyoung menatap mata Wonwoo, binar mata gelap milik Wonwoo bagai kristal di antara cahaya temaram.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Soonyoung sampai akhirnya Wonwoo bersuara.

“Mundur setengah langkah, Nyong” ujar Wonwoo mengintruksi.

Dengan sedikit gelagapan Soonyoung kembali dalam sadarnya dan mengikuti perintah. Wonwoo kemudian mengangkat tangan kanannya tinggi hingga mencapai langit-langit kamar mandi, menempelkan buku-buku jarinya untuk menekan ujung langit-langit tersebut dan dengan seketka Soonyoung dibuat terkejut dan merinding.

Langit-langit tersebut terbuka seukuran tubuh satu orang dewasa. Hanya hitam dan gelap dari sana tak ada cahaya sedikit pun.

“Lo mau naik?” tanya Wonwoo.

Soonyoung mengangguk, kemudian Wonwoo mengulurkan tangannya.

Soonyoung sudah berdiri tepat di bawah lubang langit-langit itu dan Wonwoo yang siap memeluk kaki Soonyoung untuk mengangkatnya memanjat masuk ke ruang rahasia yang baru mereka temukan.


Debu dan debu...

Wonwoo yang menyusul di belakang setelah memanjat bak mandi bahkan sampai bersin beberapa kali, Soonyoung di depannya melangkah lambat memperhatikan sekelilingnya.

Ruangan ini luasnya sama seperti ruangan utama di bawah sana hanya saja atapnya lebih rendah, hanya satu kepalan tangan maka kepala mereka bisa menyentuh langit-langitnya. Wonwoo yang lebih tinggi pun kerap kali membungkukkan badan menghundari tulang kayu penyokong atap.

Sumber cahaya lagi-lagi hanya masuk dari jendela buram yang tertutup debu di ujung ruangan. Jendela yang menghadap bagian depan rumah, jendela yang memang menjadi kecurigaan Wonwoo sejak awal akan ruangan rahasia yang akhirnya mereka temukan. Kecurigaan yang muncul ketika pertama kali datang ke rumah ini karena ia tidak menemukan jendela tersebut dari dalam.

Soonyoung di sudut lain berdiri di hadapan satu peti besar yang tergeletak di sana. Ada gembok besar berkarat yang menyegel kuncinya.

Ukiran di peti itu terlihat sangat tua, motif ukiran yang tidak pernah Soonyoung lihat sebelumnya. Dibelakang peti itu ada satu tempat tidur yang tidak memiliki dipan, langsung bersisihan dengan dinding dan dari bentuknya sudah tak layak lagi untuk dipakai. Soonyoung penasaran ruangan apakah ini? Kenapa ibunya memerlukan ruangan lain dengan tempat tidur jika tinggal sendirian di tengah hutan?

Di dekat Wonwoo ada satu meja persegi setinggi pinggangnya, letaknya berseberangan dengan peti dan tempat tidur tadi, menghadap dinding dengan satu lampu tradisional di atasnya yang sudah tidak berfungsi. Diperkirakan ini adalah meja yang mungkin dipakai oleh ibu Soonyoung untuk menulis buku hariannya.

Wonwoo kemudian berjalan menuju satu-satunya jendela yang ada di sana. Kuncinya erat bahkan dengan kekuatannya pun Wonwoo tidak dapat membuka jendela tersebut, ia akhirnya hanya bisa melihat dari balik kaca yang buram mengedarkan pandangannya keluar. Yang diilhatnya benar-benar di luar ekspektasi karena dari sini ia bisa melihat hamparan hutan di depan, jalan setapak dengan jarak pandang jauh serta sungai kecil yang mengalir pelan di ujung bukit. Dari sini Wonwoo bisa memperhatikan sekelilingnya dalam kesimpulan tempat ini bisa membantu untuk mengamati sekitar dan berjaga-jaga saat bahaya mendekat dari luar.

“Nu, lo punya obeng gak?” tanya Soonyoung di belakangnya.

“Ada, buat apaan?”

Soonyoung kemudian menunjuk peti di depannya.

Wonwoo kemudian mendekat dan mengecek gembok besar yang mengunci peti tersebut.

“Gak bisa pakai obeng doang ini, nyong” “Lo tunggu di deket situ ya, gue ambil ke bawah perkakasnya ntar lo sambut” Wonwoo mengintruksi.

Soonyoung memperhatikan Wonwoo yang turun lewat lubang kamar mandi yang tadi mereka lewati, menunggunya beberapa saat sendirian di sana. Suasana benar-benar hening dan sepi hanya terdengar derit kaki Wonwoo yang berjalan di bawah dan bunyi perkakas yang di ambil.

Soonyoung kembali melihat sekelilingnya ketika ada suara hantaman keras dari bawah.

“NU!!!” “Nu, lo gapapa?” panik Soonyoung.

Tidak ada jawaban.

“Nu.....????” panggil Soonyoung lagi. Suara tadi sangat nyaring bahkan rasanya sampai bisa membuat rumah kayu ini bergetar.

Soonyoung yang panik berusaha turun menyusul Wonwoo namun terhenti karena yang di khawatirkan muncul.

“Sssst” Wonwoo mengisyaratkan untuk tidak membuat suara dan langsung memanjat naik.

“Barusan itu apa, nu?” bisik Soonyoung.

Wonwoo menggeleng, “Gue juga gak tau nyong, dari luar” balas Wonwoo sama pelannya.

Keduanya hanya saling bertatapan selama beberapa waktu, tidak mau membuat pergerakan yang mungkin akan membahayakan keduanya.

Wonwoo jalan merunduk menuju jendela melihat keluar mencari tahu asal suara tadi. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaannya.

“Nyong, lo mau buka ini sekarang?” ujar Wonwoo ketika kembali mendekat dengan Soonyoung.

“Iya, siapa tau ada petunjuk lain?” Soonyoung bahkan tak yakin.

“Lo tolong ambilin kain itu dong, nyong” Wonwoo menunjuk kain putih yang menggantung di samping mereka. Kain itu digunakan untuk menyelimuti gembok berkarat tersebut agar suaranya teredam saat Wonwoo membukanya dengan palu dan obeng yang ia bawa.

Butuh usaha yang cukup lama untuk akhirnya gembok tersebut terbuka, bahkan Soonyoung yang berusaha membantu sempat melukai tangannya sendiri.

Keduanya terduduk dengan napas kelelahan, bukan perkara mudah membongkar gembok besi berkarat yang mungkin usianya lebih tua dari mereka.

Soonyoung yang membuka tutup peti itu perlahan di buat was-was, tidak bisa menerka apa isinya yang mungkin saja berbahaya.

Di dalam sana penuh berisi barang-barang usang seperti kain kuning, lembaran-lembaran dengan bahasa asing yang sepertinya adalah mantra dan bahkan beberapa set senjata tajam berkarat. Namun, satu yang langsung menjadi perhatian Soonyoung yaitu tumpukan buku yang sudah menguning persis seperti buku harian milik ibunya.

Soonyoung mendapatkannya, satu lagi petunjuk yang mungkin bisa menuntunnya untuk mengakhiri pelariannya.

Misteri keluarga K yang berhasil menghindari takdir dewa