The Rails
Usia 24 tahun dan bekerja di salah satu Bank Swasta selepas lulus kuliah, memutuskan untuk hidup sendiri di Apartement kawasan Cengkareng, Jakarta Barat membuatnya harus bangun lebih awal mengejar jadwal komuter line di stasiun terdekat.
Aktifitas rutin bangun pukul lima pagi, mengecek pesan yang masuk di ponsel sambil sesekali menghela napas singkat dan menenggelamkan kembali wajah di dalam selimut karena kantuk yang masih membuat mata terasa berat, menatap langit-langit kamar yang lampunya dipadamkan sebelum tidur tadi malam, menerka-nerka bagaimana hari ini akan berlalu, berharap akan lebih mudah dibanding kemarin dengan tumpukan berkas pelamar pekerjaan yang harus ia pilah dengan cermat agar mendapatkan kandidat calon karyawan terbaik dan sesuai kualifikasi untuk menjabat posisi-posisi yang kosong saat ini.
Tidak mudah bekerja sebagai Human Resources Officer seperti Wonwoo atau yang lebih kita kenal dengan staff HRD, banyak yang bilang bekerja sebagai HRD itu perkara mudah, hanya melihat-lihat berkas pelamar, mengecek beberapa posisi kosong dan sisanya bisa pulang cepat. Nyatanya berbeda, ia harus dengan teliti menyaring kandidat karyawan, menelusuri asal usulnya termasuk mencari informasi kehidupan calon karyawan melalui sosial media, menganalisa kemampuan yang bersangkutan dari rekam jejak pengalaman agar hasil rekrut dari perusahaan dengan biaya operasional yang sudah dikeluarkan tidak sia-sia.
Belum lagi setiap awal bulan ia harus membuat laporan jumlah update karyawan aktif, mendaftarkan ke Kantor BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan bagi karyawan baru demi kesejahteraan bersama, ditambah serentetan keluhan karyawan lama silih berganti yang kerap menuntut kenaikan gaji dan tunjangan jabatan yang sebenarnya bukan ranahnya untuk memberikan keputusan atau tanggapan, ujung-ujungnya ia pun akan menjadi teman curhat bagi mereka, untung ada Seungkwan rekan sejawat yang juga berada di divisi yang sama senantiasa melakukan bagiannya terlebih untuk urusan laporan, Seungkwan kerap ia juluki sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan setiap saat, walaupun sering mengeluh dengan wajah masamnya saat dikejar deadline.
Pagi ini ia akan disibukkan dengan jadwal interview hampir 15 orang kandidat untuk divisi yang berbeda, hasil dari seleksi tumpukan surat lamaran pekerjaan kemarin. Hari ini tentu manjadi hari yang panjang.
Ia mengusap wajahnya pelan sebelum turun dari tempat tidur dengan pencahayaan minim itu, membuka tirai putih berbahan polister yang ketika kita tarik tali sisi kirinya maka akan terlipat otomatis ke atas. Apa yang diharapkan dari suasana pagi hari pukul 05.15 masih sama gelapnya dengan kondisi kamar Wonwoo saat ini. Tapi, paling tidak sirkulasi udara dapat berganti.
Dengan langkah malas ia membersihkan tempat tidur yang kusut dan menata dua bantal dan satu guling ke posisi yang lebih baik agar nyaman di pandang. Hidup sendiri bukan berarti ia menjalani hidup yang tak teratur, bukan alasan bagi Wonwoo.
Kegiatan selanjutnya adalah memilih pakaian yang akan dikenakan untuk hari ini, merupakan hal penting baginya karena mengenakan pakaian kerja yang bersih, wangi, dan rapi adalah poin penting untuk siap menjalani aktifitas yang sibuk dan panjang di kantor sepanjang hari. Ia akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan pakaian yang ia kenakan.
Pukul 05.30 suara tetesan dari pemancur air di dalam kamar mandi terdengar. Ia siap menjalani hari ini.
.
.
.
Perjalanan dari apartement di Jalan Daan Mogot tempatnya tinggal ke stasiun KRL Bojong Indah membutuhkan waktu 9 menit jalan kaki, tidak seperti kebanyakan orang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, Wonwoo lebih suka menggunakan moda transportasi masal seperti KRL. Katanya lebih praktis dan anti macet, tidak harus terjebak diantara pengendara lain dan menghabiskan waktunya sia-sia, dengan KRL Wonwoo bisa menghemat waktu dan biaya, dalam perjalanannya pun ia bisa menikmati perjalanan atau sekedar melamun membuat rencana kerja hari ini di kantor.
Total ada dua kali transit KRL di stasiun Duri dan Manggarai membuatnya turun berganti KRL. Senin pagi yang sibuk untuk warga Jakarta harusnya sudah mulai terlihat pagi ini namun keadaan berbeda ketika Wonwoo turun untuk transit di stasiun Manggarai. Keadaan masih lengang hanya ada beberapa orang yang sedang menunggu di sisi peron dengan jarak aman, pintu masuk pun tidak ada antrian sama sekali. Wonwoo kemudian mengecek jam tangan bermerknya yang dibeli dua bulan lalu hasil bonus akhir tahun dari perusahaan. Terang saja ini masih pukul 06.05 pagi tentu belum banyak orang mengantri, ia memang baru ingat kalau hari ini pergi lebih awal guna menyiapkan beberapa berkas dan jadwal interview yang dibuat lebih pagi dari biasanya. Tidak buruk juga berangkat ke kantor di jam ini karena ia bisa lebih santai.
Melangkahkan kakinya ke gerbong kereta nomor tiga dari depan, ia duduk dengan tenang sambil mengecek kembali ponselnya, tidak ada pesan lain setelah reminder singkat dari Supervisornya di kantor Mas Seungcheol dan titipan roti rasa Moca langganan Seungkwan yang ada di stasiun Tebet yang juga merupakan pemberhentian terkahirnya untuk sampai di kantor Bank Swasta di daerah Kuningan, Jakarta Selatan tempat Wonwoo bekerja.
Gerbong masih lengang dengan wangi khas KRL yang anehnya menjadi kesukaan Wonwoo, wangi dari pengharum ruangan dan cairan pembersih kaca yang masih kentara tercium di pagi hari.
Dua menit sebelum berangkat dalam perhitungan Wonwoo, sesorang yang nampak familiar masuk di gerbong yang sama. Orang yang sama ia jumpai setiap pagi dan menjadi salah satu alasan Wonwoo selalu memilih gerbong nomor 3.
Laki-laki berparas manis, rambut hitam tertata rapi dan nampak begitu lembut. Wajahnya yang selalu terlihat tanpa ekspresi dengan kulit seputih susu memberikan kesan dingin dan kesepian. Itu yang ada di dalam pikiran Wonwoo.
Sudah enam bulan terkahir Wonwoo selalu bertemu dengan sosok ini di gerbong dengan nomor yang sama, awalnya hanya kebetulan saja lama-lama ia dengan sengaja memilih berangkat di waktu dan tempat yang sama. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu lagi hari ini mengingat ia berangkat lebih awal.
Sosok itu masih sama, selalu duduk atau berdiri di tempat paling ujung dekat pintu keluar, selalu sibuk dengan ponselnya membalas sesuatu dengan cepat atau berbicara melalui earpods yang terpasang di telinganya. Pandangan matanya tidak pernah berubah, selalu menatap jendela luar seolah-olah tidak memperdulikan sekitarnya. Wonwoo diam-diam memperhatikan dan diam-diam jatuh hati.
Sosok misterius yang selalu ia jumpai tanpa mengetahui namanya, sosok itu akan hilang di kerumunan seusai kereta sampai, seolah-olah tenggelam di telan bumi. Namun, satu yang Wonwoo tahu ia akan selalu naik dari Stasiun Manggarai dan turun di stasiun yang sama. Stasiun Tebet.
Hari itu pun masih sama, Wonwoo masih memperhatikan dari jauh. Mempelajari raut wajah di seberangnya, terlihat kelelahan namun lebih releks hari ini mungkin karena ia salah melihat jam dan berakhir datang lebih awal dan menyadari masih memiliki cukup waktu untuk bernapas lega atau memang pekarjaannya hari ini akan lebih mudah. Entahlah, Wonwoo si pengecut ini hanya bisa menebak-nebak.