bath

Soonyoung kembali ke ruang tengah ketika malam datang. Pikirannya masih melayang kemana-kemana, dia belum melanjutkan membaca buku harian yang baru ia temukan tadi siang.

Terlalu banyak yang harus di cerna dan rasanya otak Soonyoung sudah kelewat panas dan lelah.

Wonwoo berjalan santai keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dengan satu helai handuk melingkar di pinggangnya. Dadanya pun juga basah karena tetesan air dari rambutnya.

Pemandangan biasa yang Soonyoung dapati sejak tinggal di asrama bersama Wonwoo.

Wonwoo menghampiri ke sofa tempat Soonyoung duduk, berdiri di depan yang lebih muda, mencubit kecil hidungnya. Memijat sisi kiri dan kanan kepala Soonyoung.

“Mandi sana” kata Wonwoo.

“Capek, nu” balasnya.

“Iya gue tau, sabar dulu kita cari pelan-pelan” ucap Wonwoo mengusap kepala Soonyoung.

Soonyoung yang diusap kemudian memeluk pinggang Wonwoo yang hanya terbalut handuk putih yang tepat berada di hadapannya.

“Nu...”

“Hmm?”

“Udah lama...enggak...”

“Iya...”

Soonyoung kemudian mengusap pipinya ke bagian depan pinggang Wonwoo, mencari sesuatu di sana untuk dibangunkan. Pikirannya terlalu kalut dan Soonyoung butuh itu untuk mendistraksinya.

Tangannya tak ikut diam, Soonyoung meraba bagian itu bersamaan dengan pipinya memberikan friksi-friksi halus yang membangkitkan sesuatu dalam diri Wonwoo.

Tangan Soonyoung bergrilya ke bagian atas tubuh Wonwoo. Dingin dan basah Soonyoung suka.

Ditariknya simpul handuk Wonwoo yang membalut pinggangnya membuat yang lebih tinggi sudah tidak dilapisi apapun. Bulu kuduknya meremang entah karena udara malam di dalam hutan yang semakin rendah atau hembusan napas Soonyoung yang begitu dekat dengan kepemilikkannya.

Soonyoung mengusap milik Wonwoo yang sudah setengah terbangun, tangannya bergerak lambat naik dan turun membuat kepala Wonwoo tiba-tiba terserang pening. Nikmat dan memabukkan.

“Ahh nyong” akhirnya lolos dari bibir Wonwoo.

Mendengar itu Soonyoung menjadi ikut memanas, dijulurkannya lidah basah Soonyoung pada ujung milik Wonwoo dan dihisapnya pelan. Wonwoo kembali merinding, bulu-bulu kuduknya berdiri dan kepemilikkannya mengeras sempurna di dalam mulut Soonyoung.

Digerakkannya kepala itu dengan tempo sedang agar keduanya bisa menikmati rasa masing-masing.

Kecipak lidah basah Soonyoung yang mengulum milik Wonwoo menggema di ruangan ini, membuat Wonwoo terbakar dan ikut mendorongnya masuk ke dalam tenggorokkan Soonyoung lebih dalam. Kepalanya ia tekan halus namun dorongan pinggulnya ditekan konsisten.

Soonyoung hampir tersedak ketika Wonwoo menghentakan pinggulnya sedikit lebih kencang.

“Ummh..” keluh suara Soonyoung yang masih penuh tersumpal milik Wonwoo.

Wonwoo yang mendengar langsung mengeluarkan kepemilikkannya dan menunduk untuk mencium bibir Soonyoung. Ciuman dengan sapuan-sapuan lidah malas yang saling membelit.

Wonwoo dapat merasakan cairan pre cum-nya dari mulut Soonyoung.

Di dorongnya yang lebih rendah untuk bersandar pada sofa tua itu, ditariknya turun celana pendek Soonyoung untuk membebaskan miliknya yang sudah memerah.

Wonwoo mengusap batang lembut Soonyoung yang mengeras dengan ibu jarinya kemudian meniup lubang berkedut di bawahnya yang membuat Soonyoung meringis.

Diciuminya paha dalam Soonyoung yang seputih bayi, diusapnya setiap bagian sensitif yang sudah dihapal Wonwoo di luar kepala, kemudian lidahnya bermuara pada lubang milik Soonyoung. Ujung lidah Wonwoo menyentuh halus pada rektumnya yang mengkerut, jilatan basah yang membuat Soonyoung hampir mengeluh nyaring.

“Hnghh” lolos dari bibir bervolume milik Soonyoung.

Wonwoo masih berlutut di atas lantai menikmati lubang Soonyoung, menekan lidahnya masuk lebih dalam dengan kakinya yang mengangkang, memberikan akses Wonwoo lebih mudah.

Akhirnya malam sunyi itu mereka habiskan dengan erangan-erangan halus di atas sofa tua di ruang tengah dengan derit lantai yang kerap berbunyi ketika penyatuan keduanya kian memanas.

Wonwoo memenuhi Soonyoung dengat putihnya, melupakan sejenak ancaman disekitar mereka. Malam itu keduanya dibanjiri peluh dan tidur dengan milik Wonwoo yang masih di dalam Soonyoung dan ekor Soonyoung yang melingkar di paha Wonwoo.