Vanilla Mocha

Masih ada dua hari sebelum ujian tengah semester mereka selesai, Soonyoung di meja belajarnya disibukkan dengan berbagai macam buku dan jurnal sesuai materi ujiannya besok sedangkan Wonwoo belajar santai di atas tempat tidurnya sambil menyiapkan satu lembar cheat sheet tipikal mahasiswa tak banyak pikiran dan lihai menyimpan contekan.

Soonyoung tiba-tiba terbatuk padahal sedang tidak memakan apa-apa, Wonwoo yang mendengar langsung melompat dari tempat tidurnya dan mengambil satu gelas air putih di atas nakas dekat pintu masuk.

“Minum, nyong”

Soonyoung mengambil gelas dari tangan Wonwoo dan menegak hampir setengahnya dengan helaan napas panjang setelahnya.

“Haus lo?” goda Wonwoo.

“Makasih” balas yang lebih pendek singkat, kembali fokus pada buku di depannya.

Wonwoo meringis mendapatkan reaksi datar seperti itu, ia tahu Soonyoung dalam mode serius harusnya ia kembali ke tempat tidurnya dan ikut belajar. Namun, bukan Wonwoo namanya kalau tidak ada hal-hal ajaib yang akan ia lakukan untuk mengganggu sahabat satu kamarnya itu.

Suara teriakan kesal Soonyoung adalah kepuasan sendiri bagi Wonwoo, seperti sekarang Soonyoung sudah mengomel karena Wonwoo yang tiba-tiba mematikan lampu kamar.

“WONWOO!!! NYALAIN!!”

“WONWOOOOO!! BALIKIN HP GUEEEE!!!

“WONWOO MINGGIR ISHHH JANGAN PELUK-PELUK GUE MAU BELAJAR!!”

“WONWOO GUE TENDANG YA BURUNG LO!!” dengan itu Wonwoo melepas pelukannya di samping Soonyoung yang sejak tadi meronta tak bisa bernapas karena pelukan Wonwoo yang menyesakkan membuatnya sulit belajar.

“Istirahat dulu napa sih, nyong” katanya, sekarang menyandarkan kepala di atas meja menatap Soonyoung yang tak peduli dan terus melanjutkan materinya.

“Lo mending belajar nu jangan gangguin gue” kata Soonyoung masih menatap bukunya.

“Nyong~” Wonwoo menarik ujung baju Soonyoung.

Soonyoung yang sudah hampir habis kesabarnnya akhirnya mengalah, meletakkan pulpennya di atas coretan kertas dan berbalik menatap Wonwoo, sahabatnya ini mungkin akan mati bosan jika tidak mengganggunya sehari saja.

“Apa nu?”

“Lo gak capek?”

“Capek lah apalagi sama kelakuan lo” balas Soonyoung masih menatap Wonwoo yang tak kunjung mengangkat kepalanya di atas meja.

“Malem ini bobonya sama gue ya? Pelukan” kata Wonwoo tulus.

Soonyoung paham maksud Wonwoo, ia sadar sejak kepergiannya ke rumah Ibunya, ia tidak pernah berubah ke wujud aslinya menjadi seekor anak kucing karena harus selalu waspada akan sekeliling.

Bila malam ini ia pergi tidur bersama Wonwoo di tempat tidur yang sama dan menurunkan kewaspadaannya dan menjadi seekor kucing, Soonyoung takut sesuatu yang buruk akan terjadi di waktu yang tidak tepat. Ia tidak menginginkan itu, pelarian mereka satu minggu kemarin akan menjadi sia-sia, Soonyoung akhirnya menggeleng.

Wonwoo menghela napasnya pelan berusaha mengerti jalan pikiran orang di depannya ini.

“Mau puding mocha gak, nyong? tadi gue bawa dapat lebihan dari cafe”

Soonyoung tersenyum.

“Mau” jawabnya.

Kemudian Wonwoo bangkit dari kursinya dengan semangat, menangkup pipi Soonyoung dan mengecup bibirnya singkat dan berlalu mengambil puding yang ia sebut barusan di kulkas.

Tak sadar aksinya membuat telinga dan pipi Soonyoung merona, ia tiba-tiba merasa ada banyak kupu-kupu berterbangan di perutnya. Rasanya hangat juga memabukkan.


Keduanya menikmati puding mocha yang Wonwoo bawa dengan obrolan ringan, rasanya sudah lama sekali seperti ini.

Satu minggu lalu terasa begitu berat dan menyesakkan dada, bahkan menegak air putih pun tak pernah nyaman.

Mereka rindu hari-hari normal mereka saat Wonwoo pulang dengan kaki terkilir karena bermain futsal dengan teman-teman di fakultasnya, rindu saat Soonyoung melempar pakaian kotor Wonwoo yang tak pernah ia bereskan di keranjang pakaian hingga tercampur dengan milik Soonyoung, rindu saat keduanya pergi makan malam di pinggir jalan karena malas mencuci piring di asrama, rindu saat bermain PS semalaman dengan Juna dan mahasiswa satu asrama mereka yang lain.

Kedua tertawa mengingat-ingat kejadian lalu yang membuat perut sakit.

Wonwoo memperhatikan mata Soonyoung yang menyipit manis saat tertawa, pipinya yang mengembang lucu dan bibir tipisnya yang punya bentuk bulat sekaligus, membawa Wonwoo mengikis jarak keduanya, menarik tekuk wajah Soonyoung yang membuat pemiliknya diam seketika menatap mata satu sama lain. Waktu seolah melambat, keduanya hanyut sampai akhirnya kedua belah bibir itu bertemu.

Wonwoo menarik napasnya dalam dan mencium bibir Soonyoung lamat, keduanya memejamkan mata saling mengecup manisnya ciuman ini. Soonyoung meletakkan tangannya di pundak Wonwoo mendekatkan jarak mereka, Wonwoo masih menarik tekuk Soonyoung memperdalam ciumannya, tangan lainnya sudah berada di pinggang Soonyoung memberikan cengkraman tipis membuat pemiliknya tergelitik dan membuka mulutnya, kesempatan itu Wonwoo manfaatkan untuk mendorong lidahnya masuk dan bergulat dengan lidah Soonyoung. Manis dan manis Soonyoung suka.

Ada tarikan dan gigitan kecil yang Soonyoung berikan pada bibir bawah Wonwoo membuat pemiliknya melenguh dan tertawa tipis atas aksi tiba-tiba Soonyoung barusan. Wonwoo tak habis pikir dan langsung mencium Soonyoung lagi dalam senyumnya.

Keduanya masih saling mencumbu saat-

“NYOOONG GUA BAWA MARTAB- ANJENG!!!!”

Dobrakan tak sopan dari pintu kamar Wonwoo dan Soonyoung yang tidak dikunci menampilkan teman dekat mereka Juna yang sedang diserang shock atas apa yang tengah ia lihat di depannya. Kedua orang teman laki-laki yang sering ia sebut sobat kentel-nya sedang saling melumat bibir satu sama lain.

Juna hampir pingsan, martabak yang ia bawa lolos merosot di atas lantai dengan kakinya yang rasanya berubah menjadi jelly, kepalnya tiba-tiba di serang pening.

Wonwoo dan Soonyoung gugup.

Mengusap bibir masing-masing dari tali saliva yang sempat tertarik karena langsung melepas cumbuan secara mendadak.

Mampus.