His Stories
Pohon-pohon besar berjajar rapi di sisi jalan menunjukkan arah menuju ujung yang dituju, sebuah hotel sederhana berbintang tiga dengan nuansa alam yang kental di sekelilingnya dan pemandangan indah membentang di hapadan.
Letaknya di pinggiran kota dengan total tiga jam perjalanan dari asrama mahasiswa tempat sepasang kekasih ini berasal.
Jeonghan sudah menurunkan koper berukuran 20 inci miliknya diikuti Mingyu yang mengambil satu backpack yang diletakkan di bagasi mobil. Keduanya saling bertukar senyum saat sampai di tujuan walaupun jauh di dalam hati Jeonghan ada janggal yang mengganggu perasaannya. Namun, ia berusaha tenang karena ini adalah Mingyu kekasihnya selama tiga tahun terakhir, ia percaya pada lelaki yang lebih muda darinya ini bahwa apapun yang terjadi Mingyu pasti akan melindunginya dan tidak akan melukainya.
Tujuan mereka kali ini adalah untuk berlibur setelah menyelesaikan Ujian Semester yang membuat kepala mereka harus bekerja keras selama satu minggu terkahir. Begitu katanya saat berpamitan pada Seungcheol ketua asrama yang juga mahasiswa semester akhir di kampus mereka.
Namun, akan ada banyak 'namun' dalam kisah romansa mereka karena tersimpan rahasia besar yang keduanya tutupi dalam-dalam. Kepergian rutin mereka setiap malam tertentu menjauh untuk menuntaskan sebuah hasrat yang entah sebenarnya adalah kutukan atau pemberian paling berharga.
Jeonghan membuka pintu kamar hotel yang akan mereka tempati dengan pelan, sejuk menguar merambat di permukaan kulit pucatnya entah karena pendingin ruangan yang sudah dinyalakan oleh pemilik hotel atau karena memang tempat ini berada di dataran tinggi sehingga suhu udaranya rendah, yang pasti Jeonghan menyukai tempat ini lebih baik dari dugaannya sebelumnya.
Mingyu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan selimut tebal berwarna putih yang terasa lembut dan nyaman. Ia menghela napas berat melepaskan penat setelah menyetir tiga jam tanpa henti sejak pagi.
“Yang~” panggilnya manja tipikal Mingyu saat meminta atensi penuh Jeonghan.
Dihampiri kekasihnya yang memiliki postur tubuh layaknya atlet olahraga sekaligus model majalah dengan kulit sawo matang itu yang terlihat indah saat diterpa sinar matahari dari pantulan jendela seperti saat ini.
“Hmm” sahut Jeonghan ikut bergabung dengan Mingyu di atas tempat tidur, mengelus lembut kedua sisi wajah kekasihnya.
“Peluk dulu sini, yang” katanya lagi kemudian saling memeluk di sana, menghirup aroma tubuh masing-masing yang menjadi candu. Bagi Jeonghan pelukan Mingyu adalah yang terbaik karena lengan besarnya yang akan memeluk tubuhnya penuh mengukung protektif dalam dan hangat kemudian memberikan rasa aman serta nyaman yang otomatis menyelimuti dirinya. Pelukan Mingyu adalah rumah bagi Jeonghan.
Mingyu mengecup puncak kepala Jeonghan.
“Kamu percaya sama aku kan?” tanyanya.
Jeonghan tidak langsung menjawab, baru kali ini rasanya ia ragu.
“Aku tau kamu pasti udah ngerasa ada yang aneh dari aku” lanjutnya. “Hari ini aku mau buat pengakuan-” belum sempat ia meneruskan ucapnya, Jeonghan sudah memeluk Mingyu lagi menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Mingyu. Takut akan rahasia lain yang akan ia ketahui dan kali ini mengancam hubungannya dengan Mingyu.
“Sayang...” panggil Mingyu menarik bahu Jeonghan. Ada raut wajah khawatir dan takut terpancar jelas dari wajah kekasih manisnya.
“Yang bakal aku bilang ini gak akan ngerubah apapun di antara kita, aku cuma butuh kamu di samping aku sampai semuanya selesai. Aku mohon sekali lagi kamu mau nerima aku yang seperti ini” jelas Mingyu mencoba meyakinkan Jeonghan.
“Ada hubungannya sama kita pergi ke hotel ini?” tanya Jeonghan pelan masih dalam pelukan Mingyu namun matanya menatap manik hitam kekasih di depannya.
“Ada” balas Mingyu. “Kamu tau rahasia aku dan makasih banget, yang”. lanjutnya.
Ada rematan di pundak Jeonghan saat Mingyu mengatakan itu.
”...kamu tau aku ini apa?”
Jeonghan mengangguk.
”...kamu tau aku sayang banget sama kamu?”
Jeoghan mengangguk lagi.
”...sayang” Mingyu menghela napasnya pelan. “...setiap hybrid yang lahir ke dunia ini sudah punya mate-nya masing-masing, begitu juga aku” jelas Mingyu.
Jeonghan membeku aliran darahnya seolah-olah berhenti mengalir, matanya menatap kaget dan sedih di waktu yang bersamaan. Hatinya seperti diremas kuat, sesak dan sakit.
“Mate?” akhirnya. “Mate maksudnya kaya jodoh yang udah ditakdirkan buat kamu, gyu?”
Mingyu mengangguk.
Jeonghan melonggarkan pelukannya di pinggang kekasihnya. Tidak terima, Mingyu langsung menarik Jeonghan kembali ke pelukannya mencoba merasakan detak jantung yang terkasih yang saat ini berdetak bahkan terlewat kencang, seperti ada sesuatu yang siap meledak dari sana tetapi ditahan oleh pemiliknya.
“Yang, aku udah bilang tadi kalau gak akan ada yang berubah dari kita, aku cuma butuh waktu untuk ngelindungin kamu dan ngelindungin dia” ucap Mingyu dengan Jeonghan di dalam pelukannya yang sudah terisak mendengar ada orang lain di antara mereka, ada dia yang juga Mingyu jaga. Dia yang ditakdirkan untuk Mingyu.
Mingyu dan Jeonghan pertama kali bertemu di Semester awal masa perkuliahaan mereka. Mingyu dari Fakultas Teknik yang memiliki pergaulan luas sering kali mampir ke Fakultas Ekonomi yang juga Fakultas tempat Jeonghan menuntut ilmu akhirnya bertemu di salah satu kantin di sana. Waktu itu Mingyu tidak sengaja mengambil pesanan Jeonghan yang sama-sama memesan nasi goreng, padahal Jeonghan yang sudah lebih dulu memesan, alih-alih Jeonghan mengambil pesanan milik Mingyu sebagai penggantinya ia malah meninggalkan kantin dengan terburu-buru karena kelas Jeonghan yang selanjutnya dimajukan lebih awal secara mendadak oleh Dosen Pengajar, alhasil Mingyu yang merasa bersalah karena Jeonghan yang belum sempat menyantap makan siangnya berinisiatif mengajak Jeonghan makan di lain waktu sebagai pengganti.
Berbekal koneksi teman yang banyak Mingyu akhirnya mendapatkan nomor ponsel Jeonghan dan keduanya mulai sering bertemu, perasaan pun tumbuh perlahan di antara keduanya hingga Mingyu pun menyerah dengan rasa kupu-kupu yang menggangu isi perutnya setiap kali melihat tawa renyah milik Jeonghan dan akhirnya menyatakan perasaannya.
Satu tahun berlalu, hubungan mereka begitu manis banyak mata yang memperhatikan kedua pasangan ini. Kalau kata mahasiswi di kampus Jeonghan yang sering melihat mereka, Mingyu dan Jeonghan memiliki Relationship Goals di mana semua mahasiswa dan mahasiswi di sana ingin memiliki hubungan percintaan seperti mereka.
Di malam bulan penuh Mingyu yang menghilang tiba-tiba tanpa memberikan kabar kepada Jeonghan bahkan tidak meninggkan pesan sedikitpun pada teman satu kamarnya di asrama yaitu Juna membuat Jeonghan panik. Selama satu tahun ini tidak pernah sedikitpun Mingyu mengabaikan pesan singkatnya di ponsel ataupun tidak mengangkat teleponnya.
Jeonghan berusaha mencari Mingyu dari teman-teman terdekatnya, mulai dari komunitas futsal hingga pecinta buku sejarah, tidak ada satupun yang melihat keberadaan Mingyu hari itu sampai akhirnya Jeonghan berada di persimpangan jalan di dekat kampus mereka, jalan tikus yang biasa di pakai para mahasiswa untuk merokok atau sekedar lewat menuju jalan utama, jalan kecil dengan penerangan minim di malam hari, jalan kecil yang saat ini Jeonghan lewati dan membuat langkah seribu dalam hitungan detik saat dilihatnya seseorang yang sejak tadi siang ia cari ada di sana, tersungkur meringkuk di atas aspal yang sudah mulai berlubang karena tergenang air. Ada Mingyu yang kesakitan tubuhnya dipenuhi keringat dan ada ekor hitam yang entah muncul dari tubuh belakang Mingyu.
Malam itu lah Jeonghan akhirnya bertemu pada kenyataan baru bahwa ada kaum lain yang hidup berdampingan dengan meraka manusia di sini. Kekasihnya yang sudah ia pacari selama satu tahun terkahir ternyata adalah kaum hybrid yang selama ini berwujud manusia.
Rahasia Mingyu yang sering dikejar-kejar kaum hybrid untuk kembali ke Teagan, kisah keluarga Mingyu yang harus hidup terisolasi selama beberapa tahun, siksaan Dewa saat bulan penuh hingga wujud asli Mingyu dengan ekornya pun Jeonghan ketahui malam itu.
Sejak saat itu, setiap kesakitan Mingyu di malam bulan penuh akan ada Jeonghan yang membantunya melewati siksaan nikmat. Ada Jeonghan yang bersedia memberikan tubuhnya untuk obat bagi Mingyu. Walaupun, Mingyu sebenarnya memiliki obatnya sendiri yang Jeonghan juga baru tahu disebut Supressant, pil penenang saat masa Rut-nya datang. Namun, pil tersebut pun tidak akan mampu membendung hasrat Mingyu di malam bulan penuh, pil itu hanya digunakan saat pre-rut mulai datang saat masih beraktifitas di luar.
Malam itu Mingyu kehabisan supressant-nya dan berakhir di jalanan, pil rahasia yang ia dapatkan dari dokter kenalannya yang tahu akan sejarah keluarga KIM.