milkyways1707

Wonwoo dan Seokmin bergegas ke kelas Hansol dengan membawa CD-R ruang cctv yang tadi ia dapatkan dari Pak Abdul teknisi sekolah. Di kelasnya, Hansol sudah membuka perangkat laptopnya mengotak-atik beberapa software yang mungkin akan membantu mengembalikan rekaman CD-R yang disebut wonwoo menghilang dan tidak bisa terbaca di PC.

Setengah jam setelah mencari celah dimana penyebab CD-R tersebut tidak terbaca akhirnya Hansol berhasil, CD-R tersebut kini sudah bisa berfungsi dan seluruh datanya bisa di kembalikan.

Hansol membuka file dengan tanggal di hari Minggu kemarin dimana kejadian hilangnya kostum lomba Soonyoung secara tiba-tiba. Mereka bertiga dengan sabar memperhatikan 4 multi layar dari 4 sudut cctv di sekitar aula yang mucul di laptop Hansol.

Keterangan bahwa Minho dan Daniel sempat mengobrol di belakang mobil Jun memang benar dan setelahnya Daniel juga meninggalkan mobil tersebut untuk membantu Irene, bahkan dari waktu yang terlihat pada rekaman cctv tersebut Daniel hanya meninggalkan mobil selama 3.34 menit saja saat menitipkannya kepada Joshua yang baru datang dari arah gerbang sekolah, semua kejadian tertangkap kamera cctv dengan jelas. Tidak ada hal aneh yang terjadi, setelah Daniel kembali pun Joshua langsung pergi ke ruang OSIS.

Dari sini tidak ada yang dapat membuktikan tuduhan yang merujuk pada Joshua sebagai pelakunya. Hingga tim the Breeze berangkat ke Hotel pun tidak ada kejanggalan yang terjadi.

Rekaman terus di putar, beberapa bagian pun memang sengaja di percepat untuk mempersingkat waktu karena jujur saja Wonwoo merasa sangat tidak sabar untuk melihat keselurahan hasil rekaman selama seharian itu. Ia yakin pasti ada sesuatu yang tersimpan dalam rekaman di hari itu. Beruntung sekarang adalah jam terakhir di sekolah dan semua guru sedang rapat dengan Kepala Sekolah sehingga kelas mendapatkan jam kosong hingga bel pulang nanti berbunyi. Wonwoo, Hansol dan Seokmin bisa dengan tenang memeriksa cctv.

“SOL SOLLL SOLLLLLL STOPPPP SOLLLLLL BALIK DIKITTTT 2 MENIT YANG LALU” Seokmin yang merasa melihat sesuatu saat hansol mempercepat rekaman cctv tersebut tiba-tiba heboh sambil memukuli pundak si adik tingkat.

Pada pukul 10.48 yang tertera pada layar rekaman terlihat mobil Jun kembali datang ke Sekolah, padahal jika wonwoo ingat pada pukul tersebut tim the Breeze seharusnya sudah bersiap untuk naik ke atas panggung karena tepat pukul 11.00 the Breeze dipanggil sebagai performer selanjutnya, yang menjadi pertanyaan di kepala wonwoo kenapa tiba-tiba ada mobil Jun kembali ke Sekolah?

Yang membuat ketiga siswa itu semakin terkejut adalah bahwa seseorang yang keluar dari mobil adalah orang yang tidak diduga-duga. Minho. Seorang diri. Menyetir mobil Jun.

Minho memang bergabung di tim ekskul dance the Breeze di Sekolah dan rutin latihan bersama, namun untuk perlombaan ini Minho memang tidak berpartisipasi dikarenakan ia yang baru bergabung di semester awal kelas 2 sedangkan persiapan lomba ini sendiri sudah berjalan sejak semester akhir kelas satu. Karena Soonyoung sangat menyukai Minho dan mau teman satu timnya itu untuk tetap bisa berpatisipasi dalam lomba, dan juga sekaligus pemanasan untuk lomba selanjutnya di tahun depan maka dari itu Soonyoung memberikan tanggung jawab kepada Minho untuk membantu mengurusi segala persiapan lomba, Soonyoung yakin dengan begitu Minho juga akan merasa lebih termotivasi dan mengerti hal apa saja yang diperlukan untuk persiapan sebelum kompetisi.

Kembali pada rekaman cctv, hal yang lebih mengejutkan lagi adalah saat Minho keluar dari mobil Jun membawa satu setel baju atasan berbahan satin putih dan celana kain hitam yang Wonwoo kenali dengan jelas adalah Kostum soonyoung untuk penampilan solonya. Minho berjalan menuju lapangan basket yang ada di depan aula kemudian terus lurus ke arah ruang ganti yang biasa di pakai anggota eksul basket untuk mengganti pakaian ataupun mandi setelah latihan.

Minho terlihat menunggu seseorang di depan karena pintu terlihat masih di kunci. Lima menit rekaman itu terus berputar, selama itu juga Minho menunggu dengan tenang di depan ruang ganti, pada menit selanjutnya orang yang paling di curigai oleh teman-teman Soonyoung muncul, orang yang sama yang pernah ada di hidup wonwoo untuk berbagi kisah kasihnya. Joshua datang tanpa menyapa Minho dan langsung membuka pintu ruang ganti. Pada detik ini Wonwoo memukul meja yang ada di depannya dengan keras “ANJING!!” .

Seokmin dan Hansol tidak terkejut, terlebih Seokmin yang rasanya juga sama marahnya dengan wonwoo. Soonyoung adalah teman akrabnya sejak SMP, melihat hal buruk terjadi pada soonyoung tentu membuat Seokmin juga ikut naik pitam.

“Bang lo dimana? ke kelas hansol sekarang bang” itu seokmin yang menelepon Seungcheol. Saat Seokmin masih dalam panggilan teleponnya Hansol dengan inisiatif mengedit dan memotong bagian kejadian barusan yang dibutuhkan sebagai bukti untuk di kirim kepada Seungcheol dan Jeonghan.

Wonwoo juga menghubungi Jun yang ternyata sedang berada di ruko sebelah untuk mengecek cctv ruko tersebut yang ternyata juga menangkap area belakang sekolah mereka, dari ruko sebelah Jun mendapatkan rekaman yang lebih jelas karena cctv yang digunakan memiliki hasil rekamannya yang berwarna. Jun mengirimkan beberapa screenshoot wajah Joshua dan Minho dari depan kamera cctv via chat kepada wonwoo. Bukti-bukti ini menambah keyakinan Wonwoo bahwa pelaku sabotase kostum soonyoung pada lomba hari Minggu kemaren bukan hanya Joshua tapi juga Minho.


Bergegas menuju ruang OSIS, seungcheol menggandeng lengan Minho dengan protektif bahkan Minho hampir saja jatuh terseret karena tarikan tangan Seungcheol yang kuat dan langkahnya yang cepat, Wonwoo dan Seokmin mengikuti dari belakang.

Saat keempatnya sampai, Jeonghan sudah ada di ruang OSIS duduk berseberangan dengan Joshua di ruang khusus ketua OSIS dan wakilnya yang biasa di pakai untuk menuntuntaskan tugas-tugas dan kewajibannya sebagai wakil siswa di sekolah.

Joshua, Wonwoo, Minho, Seungcheol, Jeonghan dan Seokmin sekarang berada di ruangan yang sama, untuk meredam suara Seokmin menutup pintu ruangan tersebut namun belum sempat tertutup rapat Jun datang dengan tiba-tiba menerobos masuk dan langsung menghantam Minho dengan kepalan tangannya. Tidak kurang dari 5 pukulan bertubi-tubi ia layangkan ke wajah satu tim ekskulnya itu, Minho jatuh tersungkur di lantai dan sebelum Jun mendaratkan pukulan keenamnya, Jun sudah di tarik mundur oleh Wonwoo.

“Lo harus tahan emosi lo jangan sampai lo ikut-ikutan bersalah dan dihukum bareng sama mereka” kata wonwoo masih dengan kuat menarik tubuh Jun. Selain wonwoo, tidak ada yang melerai perkelahian Jun barusan bahkan Minho sendiri tidak melawan.

Ican yang ada di depan pintu hanya bisa berdiri mematung melihat Minho, tidak pernah ada dalam bayangan Ican bahwa Minho yang sudah di anggap sebagai saudara akan berbuat hal jahat seperti itu untuk Soonyoung. Ican anak yang mudah akrab bahkan dengan kakak tingkat sekalipun, ikatan kuat dengan anggota tim the Breeze membuat Ican percaya bahwa pertemanan mereka bukan hanya sekedar teman mengisi waktu luang untuk ekskul namun bagi Ican the Breeze adalah keluarga dekatnya termasuk Minho. Tapi, hari ini Ican harus melihat kenyataan pahit bahwasannya yang terbaik pun bisa melakukan hal terburuk.

Kenyataan terbongkar tak dapat dielak, fakta dan bukti sudah di tangan. Yang ada hanyalah menunggu pengakuan dari Joshua dan Minho.

“Iya gue yang bawa baju nyong ke ruang ganti” kata Minho tertunduk.

“KENAPA SIH NJINK LO ADA MASALAH APA SAMA NYONG?! LO BAHKAN DI TERIMA SAMA DIA BUAT JOIN PADAHAL THE BREEZE GAK OPEN RECRUITEMENT BABIIIII !!! NYONG MAU AJA NERIMA ELO TAPI INI TERNYATA NIAT LO GABUNG DI KITA?!!! BANGSAT YA LO !!” jun kembali tersulut emosinya namun kini Ican yang menahan.

“Gue suka sama Joshua” ucap Minho pelan, Joshua terlihat membuang mukanya ke arah lain. “tapi dari awal gue gabung di the Breeze bener tulus, ga ada sangkut pautnya sama ini gue emang mau ikut dan gue suka nari, gue murni mau nyalurin bakat Jun. Gue sadar gue udah kelewat batas bahkan dari kemaren gue ngga tenang ngeliat nyong bisa sampe masuk rumah sakit gara-gara itu, gue minta maaf” sambung Minho

“Minta maaf sama soonyoung” suara berat Wonwoo menggema menarik atensi Joshua

“Lo bucin boleh tapi jangan goblok” kini Han yang bersuara

“iya kak” “Awalnya gue gak mau sampai begini, gue cukup ngeliat kak shua dan sukain dia dari jauh tapi waktu gue tau kak shua masih suka sama wonwoo, dan nyong bisa aja jadi penghalang buat bahagianya kak shua, gue gak mau ak shua sedih dan karena itu gue jadi berpikiran pendek kak, gue ngga mikirin nyong lagi” Minho mengakui semua kesalahannya

“bagus bener ya akting lo dari kemaren sat!!” tambah jeonghan lagi

“biar lo bisa tetap gabung di the breeze setelah lo bikin nyong masuk rumah sakit? GITU? DASAR ANAK SETAN LO!!! ” Jun kembali tersulut emosi, sedangkan Minho hanya bisa diam tanpa bisa mengelak lagi. Semua telah terjadi dan penyesalan selalu di akhir.

“LO NJING?? DIEM AJA DARI TADI?” Jeonghan menyambar Joshua yang hanya diam sejak tadi

“Gue cuma minjemin kunci, dia yang minta” Sang ketua Osis menunjuk Minho.

Plakk

Satu tamparan keras di hadiahi Jeonghan untuk Joshua, ada goresan kecil di pipinya dan mata yang tiba-tiba berkabut. Perih yang Joshua rasakan apalagi melihat Wonwoo hanya diam di ujung ruangan.

“Udah kak Han kita ke Ruang BK ajalah” Ujar Seokmin

“Gua bikin malu mampus lo tapi gak perlu lah bentar lagi lo juga lengser kan dari jabatan maha besar lo ini. Gue nggak muluk-muluk njing lo minta maaf aja ke soonyoung gausah main ke BK males gue urusan panjang sama orang ga penting kaya lo berdua” kata Jeonghan

“Asal lo tau ya kalo sampai annouce lomba nanti soonyoung gagal dan ga bisa dapat beasiswanya gue jamin lo berdua bakal nyesal seumur hidup lo, terutama lo No !! Lo tau segimana kerasnya nyong latian. Lo rusak perjuangan orang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun” sambat Jun.

“Beasiswa apa?” Joshua yang tak tahu arah pembicaraan Jun barusan.

“Lomba kemarin pembuka jalan soonyoung buat dapat beasiswa di IKJ, dia mau masuk jurusan Seni. Makanya dia harus menang lomba performance solonya kemaren sebagai tiket dia ke sana dan lo celakain dia kak” Ujar wonwoo tajam

“Lo catat ya Ketos yang terhormat! nyong latihan hampir setahun buat itu dan dalam sehari lo buat dia kacau” sambung Jun menunjuk-nunjung wajah Joshua

Kontan rasa bersalah menjalar di hati Joshua, ia tidak tahu perbuatan nekat tanpa pikiran panjang kemarin bisa berakhir fatal untuk masa depan seseorang.

“Maaf.......” akhirnya Joshua menunduk

“Lo bisa bilang langsung ke soonyoung, gue ga ada hak buat ngehakimin lo atau memaafkan lo karena gue udah ga ada urusan lagi sama lo kak. Soonyoung yang sakit” ucap Wonwoo

Setelahnya mereka masing-masing pergi dari ruang OSIS membiarkan Joshua dan Minho merenungi kesalahannya. Biarlah Soonyoung nanti yang memutuskan apakah dia mau melanjutkan laporan kasus ini, yang terpenting sekarang adalah kebenarannya sudah terungkap. Yang terdekat bahkan bisa melukai lebih sakit.

Saat turun panggung mereka langsung menyambar minuman isotonik yang di bawa, rasanya lelah namun juga puas semua anggota the Breeze saling berangkulan.

“Kalian keren!” kata soonyoung sedikit emosional, dia bangga dengan teman-temannya yang sudah berjuang 8 bulan terkahir untuk lomba hari ini.

Saat sedang mengambil nafas dan menunggu waktu ISOMA, Minho datang dengan wajah yang panik.

“Nyong !!! sumpah nyong asli baju solo lo nggak ada padahal udah gue cek 2 kali pas tadi pagi” ujar Minho yang masih ngos-ngosan berlari dari arah penyimpanan wardrobe untuk peserta.

“Hahh???” Soonyoung terkejut, jantungnya berdetak bahkan lebih cepat dibanding sebelum naik ke panggung tadi.

Mereka berlarian ke arah ruang wardrobe mencari-cari baju soonyoung yang mungkin terselip saat di keluarkan dari mobil Jun, setengah jam mencari dari halaman parkir, lobi hotel, hingga menulusuri arah masuk ke hall lomba namun tidak menemukan titik terang. Sudah pukul 12.00 tandanya sekarang memasuki paruh waktu untuk ISOMA yang akan dilanjutkan Penampilan Solo peserta, perasaan soonyoung sudah semakin gusar, kostumnya belum kunjung ditemukan. Ia harus apa? Soonyoung berusaha berpikir cepat, bagaimana kalau dia perform dengan baju yang sekarang saja? blazer saja yang dilepas? tidak..tidak..tidak bisa seperti itu, penampilan adalah salah satu point penting untuk penilaiannya, Soonyoung tidak bisa naik ke panggung dengan penampilan yang seadaanya begini, bisa-bisa soonyoung dianggap tidak menghargai perlombaan hari ini. Kepalanya mulai pusing dan tidak fokus, Soonyoung panik.

“Sebentar nyong gue hubungin anak-anak siapa tau masih ada yang di sekolah”

Minho sibuk menghubungi teman-teman di grupchat sekolah yang diikutinya, menghubungi hampir semua kontak yang ada di handphonenya. Minho merasa bersalah, ini adalah tanggung jawabnya sejak awal harusnya hal ini tidak terjadi ditambah melihat wajah soonyoung yang memang masih berusaha tenang namun bisa Minho rasakan Soonyoung sudah mulai panik. Minho tau seberapa penting lomba ini untuk Leader timnya itu, jika sesuatu terjadi karenanya bisa-bisa Minho akan merasa bersalah seumur hidup.

Hal yang sama dilakukan oleh anggota lain, Jun dan Chan sibuk dengan ponsel masing- masing. Sampai akhirnya Chan bersuara “Bang ada Yeri di sekolah meeting Osis!! di bantu cari ke aula”

“Gue ke sekolah aja” kata soonyoung dan langsung membuka aplikasi ojek online motor.

“Biar sama gue aja nyong gue anter” Jun mengambil kunci mobil yang ada dalam tasnya.

“Gak bisa junpi kalo pakai mobil waktunya gak ke kejar tinggal satu jam-an lagi” soonyoung masih sibuk mengorder ojolnya. Benar juga bisa-bisa mereka malah terjebak macet, kalau ingin dibonceng motor oleh jun sebenarnya bisa saja tapi mereka semua tadi pagi berangkat dengan mobil Jun, tidak ada yang membawa motor sama sekali.

Setelah Soonyoung mendapatkan driver ojolnya ia langsung berlari keluar hotel dengan menitipkan balzernya kepada Chan, membuat semua orang khawatir melihat kepergian soonyoung.

Jun tidak bisa tinggal diam saja, dia kemudian memesan ojol motor lain untuk dirinya menyusul soonyoung di ikuti oleh Minho.

Soonyoung sampai di sekolah pukul 12.45, masih ada sedikit waktu, penampilannya di prediksi pukul 13.35 sesuai rundown acara. Soonyoung berlari menuju aula memeriksa seisi ruangan itu, nihil ! Kostumnya tidak ada disitu. Walaupun kemungkinannya kecil soonyoung berusaha mencari ke ruangan kegiatan lain yang biasa dipakai oleh para siswa untuk kegiatan ekskul. Kalau sudah begini satu sekolah pun soonyoung sanggup jika harus mencari.

Berlari ke lantai dua aula untuk ruang musik ternyata yang dituju masih terkunci. 'Bodoh! ini kan hari minggu pasti ruangan lain di kunci' ujar soonyoung dalam hati. Dengan peluh yang membanjiri kening dan hampir seluruh badan soonyoung akhirnya ia kembali ke lantai satu, di bawah sudah ada Jun dan Minho yang baru sampai dengan ojol motor masing-masing.

“Ke ruang OSIS dulu deh tadi gue ketemu daniel katanya mau meeting sekalian kita pinjem kunci ruang lain”

Saat di ruang OSIS memang banyak anggota OSIS yang berkumpul mereka terlihat sedang berada di tengah-tengah pembahasan meeting termasuk Joshua dan Daniel. Otomatis semua mata tertuju pada tiga anggota grup tari sekolahnya yang datang dengan terengah-engah.

“Niel minjem kunci ruang ganti, ruang musik, aula belakang sama kalo bisa boleh ga ngeliat dalam ruangan-ruangan OSIS?” Kata Minho yang masih mengumpulkan nafasnya sisa berlari tadi.

“Boleh sih emang kenapa?” tanya Daniel lagi

“Baju soonyoung ilang, lo liat ngga? yang tadi pagi gue taro di mobil jun”

“hAh?!!! gak ada bro gue terakhir liat masih ada di mobil jun, yang baju putih kan?”

“iya niel”

“yaudah ini lo cari dulu” daniel berdiri dan mengambil rentengan kunci di dinding ruangannya dan memberikan ke Minho.

Kunci semua ruangan tadi Minho berikan lagi ke Soonyoung dan Jun untuk berpencar mencari di ruangan ekskul lain, sedangkan Minho fokus mencari di ruangan OSIS dengan mendapatkan pandangan aneh dari Joshua dan anggota OSIS yang lain.

Seperti sedang dikejar-kejar setan ketiganya mencari hampir ke setiap sudut sekolah, sambil berkomunikasi dengan Chan yang memantau jalannya lomba di Hotel, sekarang sudah masuk ke urutan kedua berarti empat perserta lagi sebelum giliran soonyoung naik panggung.

Semakin panik, rasanya kaki soonyoung mulai kebas berlari ke sana kemari mencari bajunya, sekolah ini luas dan sudah hampir setengah area dikelilingi. Soonyoung ingin menangis tapi ia harus kuat, tidak bisa seperti ini soonyoung tetap harus melanjutkan lombanya walaupun dengan keadaan kacau seperti sekarang, baju yang sudah berkeringat bahkan basah, stamina yang drastis turun dan isi kepala yang tidak fokus. Tidak perduli, soonyoung harus bertahan.

Di ujung lapangan Jun berteriak. “NYONG BAJU LO!” dari ruang ganti di ujung lapangan basket Jun mengibas-ngibaskan satu setel pakaian yang familiar di mata soonyoung. Benar, itu bajunya yang akan di pakai untuk lomba, tanpa panjang lebar Soonyoung kembali berlari ke arah Jun. Kenapa ada di sana? Entahlah.

“Cepat pesan ojol sekarang nanti Minho gue kabarin, lo balik duluan ke hotel sekarang nyong” kata Jun dengan wajah khawatir.

Soonyoung dengan tangannya yang sudah tremor, bergetar karena kelelahan karena berlarian terus sejak tadi mencoba membuka aplikasi ojol di ponselnya kembali, lelah semakin terasa di tambah dirinya yang tidak sempat beristirahat pasca penampilannya bersama the Breeze tadi. Semua rasa lelah yang menjalar disekujur tubuhnya ia kesampingkan dulu untuk sementara, yang penting sekarang ia harus mengejar waktu sebelum namanya di panggil ke atas panggung.

Soonyoung sampai kembali di hotel pukul 13.25 sepuluh menit lagi adalah gilirannya, dibantu Chan ia langsung mengganti kostumnya, membersihkan keringat, dan sedikit memberikan riasan wajah yang tidak seberapa oleh Chan, karena Chan sendiripun kurang mengerti untuk urusan merias wajah. Tidak apa, ini sudah cukup bagi soonyoung. Saat baru menegak satu teguk air mineralnya nama Soonyoung di panggil naik, benar-benar tidak ada waktu beristirahat baginya, semua berlalu dengan cepat. Soonyoung naik dengan keadaan kelelahan, bagaimanapun ia harus tetap melanjurkan lombanya.

Berusaha tenang soonyoung mengikuti irama sentimental dari musik yang di putar, tubuhnya berusaha keras untuk fokus, ini adalah kesempatan emasnya Soonyoung tidak ingin manja, ia harus kuat hingga akhir. Kalau saja boleh jujur dalam hitungan menit bisa saja ia ambruk di atas panggung saking kelelahannya tapi bukan Soonyoung namanya kalau harus menyerah. Dengan peluh yang terus bercucuran Soonyoung mencurahkan perasaannya dalam setiap gerakannya. Beberapa gerakan soonyoung terlihat tidak sesuai tempo walaupun di mata orang awam hal itu tidak terlihat, berbeda dengan juri hal-hal kecil itu menjadi concern untuk penilaian.

Di antara kerumunan penonton, ada satu orang yang sejak tadi memperhatikan dengan bangga penampilan soonyoung tanpa memberikan kabar sebelumnya. Sejak awal lomba di mulai Wonwoo sudah ada di kursi penonton, dirinya benar-benar kagum dengan penampilan mantan musuhnya itu. Tidak salah, Soonyoung memang punya daya tariknya sendiri dan itu sudah mengganggu hati dan pikiran wonwoo dalam 2 bulan terkahir. Soonyoung membuatnya jatuh hati.

Saat penampilan soonyoung selesai di tandai dengan riuh tepuk tangan penonton, Wonwoo bangkit dari kursinya dan berjalan mengarah ke belakang panggung. Wonwoo ingin memberikan kejutan untuk kerja keras soonyoung, ia mau soonyoung tahu dirinya hadir untuk memberikan dukungan.

Saat soonyoung turun dari panggung kakinya terasa lemas, pandangannya mengabur, kepalanya diserang sakit yang begitu tajam dan akhirnya tubuh soonyoung menyerah di tangga terakhir belakang panggung, soonyoung jatuh ke lantai bertepatan dengan wonwoo yang sampai di sana, otomatis wonwoo berlari menghampiri soonyoung menarik tubuhnya dalam pelukan wonwoo. Di lantai yang dingin itu soonyoung melihat wajah khawatir wonwoo, merasakan hangat tubuhnya dalam dekapan sang pria, soonyoung terisak dalam pelukan itu.

“Wonu........aku capek....” Setelahnya pandangan soonyoung hitam dan gelap. Suara terakhir yang soonyoung dengar adalah teriakan Chan memanggil namanya.

  • LOMBA +

The Breeze sudah bersiap di belakang panggung dengan kostum kebanggan mereka, Jun yang dari kemarin terlihat paling tenang saat ini malah sedang mondar-mandir menenangkan perasaan gugupnya sebelum naik panggung.

Kalau Jun yang biasanya terlihat santai namun tidak dengan hari ini, keringat dingin sudah timbul di permukaan kulit, debaran jantung sudah tidak tehitung lagi seberapa cepatnya. Untuk mengatasi itu Jun beberapa kali melakukan pemanasan dengan merenggangkan tumbuh, mungkin saja bisa mengurangi rasa nervous yang muncul di dalam hati, pikirnya.

Berbeda dengan Chan, bocah paling muda di grupnya ini sekarang lebih tenang. Chan beberapa kali mengecek kembali gerakan koreografinya memastikan semua sudah sesuai, bahkan sejak tadi pagi Chan datang dengan wajah yang benar-benar segar dan siap untuk tampil pada lomba hari ini. Chan yakin persiapan berbulan-bulan kemarin akan membuahkan hasil yang manis. Sekarang yang termuda sedang mengajak Jun untuk mengambil air mineral yang dibawa tadi, berusaha menenangkan kakak tingkatnya yang sedang dilanda demam panggung tersebut.

Di tempat lain Soonyoung duduk di belakang panggung, memperhatikan penampilan dari sekolah lawan, saat ini nomor urut 5 yang beraksi berarti 4 penampilan lagi tim Soonyoung akan naik ke atas panggung. Jujur perasaannya memang masih gugup namun sooyoung benar-benar bersemangat, suntikan dukungan dari orang tuanya tadi pagi banyak membantu menenangkan perasaannya. Soonyoung bukan tipe anak yang suka di tonton oleh keluarga ataupun orang terdekatnya pada saat tampil untuk berlomba karena hal itu akan membuat dirinya merasa terbebani dan tidak bisa menunjukan dirinya yang seutuhnya di atas panggung. Soonyoung lebih senang jika orang tuanya, keluarga ataupun temannya mendoakan dari rumah dan mendukungnya sebelum berangkat jadi saat pulang nanti dan membawa piala kemenangan ada euforia tersendiri yang muncul saat mengabari keluarga di rumah dan soonyoung senang dengan perasaan itu.

Untuk penampilan solo sendiri soonyoung berada di urutan ke-6, masih ada waktu 1 jam setelah jam makan siang sebelum ia tampil, dirinya masih ada waktu untuk persiapan yang lebih matang. Penampilan solo soonyoung ini sangat penting, kemenangan itu bisa menjadi tiket awal soonyoung untuk masuk perguruan tinggi yang di idamkannya melalui jalur prestasi. Soonyoung memilih Institute Kesenian Jakarta sebagai tujuannya setelah lulus sekolah, soonyoung ingin memperdalam ilmunya tentang Seni Tari hal yang menurut soonyoung paling ia sukai. Melakukan hal yang kita sukai tentu akan membuat perjalannya mudah dan nyaman. Soonyoung tidak ingin salah mengambil jurusan dengan nama keren namun menyesal dikemudian hari dengan embel-embel 'salah jurusan'. Sejak awal soonyoung sudah tau dimana 'passionnya' sehingga dia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan itu. Ini kesempatan soonyoung dan dia siap.

Jun dan Chan sudah kembali mereka kini sudah berjejer di sisi satu sama lain, setelah ini The Breeze akan naik, mereka membuat lingkaran saling berpegangan tangan dan berdoa agar semua diberi kelancaran tanpa ada anggota yang cidera satupun.

“Penampilan selanjutnya nomor urut sembilan The Breeze perwakilan SMA NEGERI 17 TANGERANG”

Sekali lagi soonyoung menarik napasnya dalam. This is it!

The Breeze naik ke atas panggung dengan riuh penonton, entah apakah ada teman-teman sekolah mereka yang juga datang atau memang kepopuleran tim dance soonyoung yang sudah sampai luar membuat siswa-siswa dari sekolah lain pun ikut mendukung penampilan mereka. Apapun itu sorakan penonton membuat tambahan energi positf untuk Soonyoung dan tim.

The Breeze memilih konsep dark untuk penampilannya dengan kostum serba gelap dan make up yang tegas berbeda dengan rata-rata performer lain yang mengambil konsep ceria khas anak SMA. Soonyoung sebagai leader tim ini mengambil langkah berani dengan pilihan konsepnya, lagu mulai diputar dan terdengar musik yang cukup membuat bulu kuduk merinding, facial expression dari semua anggota benar-benar membangun penampilan mereka. Semua bergerak dengan tariannya, hentakan demi hentakan membuat penonton semakin riuh. SEMPURNA. Penampilan the Breeze hari ini sesuai ekspektasi.

Housemate

Keadaan apartemen itu sepi karena sang penghuni tengah asyik membaca beberapa artikel di laman berita online di kamarnya. Sudut-sudut ruangan terlihat lengang dengan beberapa ornamen sederhana, apartemen ini cukup besar untuk ukuran seseorang yang masih single, kita panggil saja Jeon Wonwoo, pria 29 tahun yang saat ini bekerja sebagai General Manager di salah satu Bank Swasta terbesar di kotanya.

Sudah 5 tahun semenjak Wonwoo membeli apartemen ini, sejak saat itu pula ia tinggal sendiri jauh dari keluarga dan memutuskan untuk mandiri. Jabatan tinggi Wonwoo di tempatnya bekerja membuatnya dengan mudah memenuhi segala kebutuhan hidup, apartemen besar, mobil SUV berkelas dan baju-baju branded. He's living a good life.

Until....

Suara bel di pintu apartemennya berbunyi. Sepertinya seseorang yang ditunggu sudah datang, calon penghuni baru apartemen Wonwoo atau bisa kita bilang Housemate?

Ya, Wonwoo menyewakan satu kamar kosong yang tidak terpakai di apartemennya untuk disewakan. Saat ini wonwoo memang pelan-pelan mengiklankan apartemennya untuk di sewakan full rent atau sharing, karena dalam lima bulan ke depan dirinya akan di mutasi ke cabang lain yang berlokasi di kota yang berbeda. Banyak dari rekan wonwoo yang menyarankan untuk menjual saja apartemennya ini dan membeli yang baru, namun bagi Wonwoo apartemennya ini memiliki cerita spesial tersendiri. Apartemen ini hasil kerja kerasnya selama dua tahun pertama ia bekerja, jadi sangat sayang jika Wonwoo harus menjualnya. Agar tetap terawat selama ia di mutasi maka munculah ide untuk menyewakan apartemen ini, menurut Wonwoo paling tidak sang penghuni selanjutnya bisa tetap menjaga rumahnya dengan baik.

Wonwoo berjalan menuju pintu depan, wajah pertama yang Wonwoo temui bukan seperti perkiraannya. Laki-laki muda usia 19-20 tahunan yang cukup tinggi dengan badan yang besar, jauh dari ciri-ciri penyewa baru apartemennya yang ada di foto kontak.

“Siang om, betul ini rumah om Wonwoo?” laki-laki muda tadi bertanya dengan sopan.

“Betul, kamu siapa?”

“Saya Mingyu om, temannya Soonyoung ini” Mingyu menarik tangan Soonyoung yang dari tadi berdiri di belakangnya

“Perkenalkan Pak, saya Soonyoung” Soonyoung mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Wonwoo yang kemudian di sambut baik.

“Oh iya silahkan masuk, barangnya dibawa masuk juga sekalian” Wonwoo mempersilahkan

Kemudian kedua tamu itu dengan sigap mengangkat 3 koper dan 1 tas ransel yang mereka taruh di lantai sejak tadi dan masuk ke apartemen Wonwoo.

“Silahkan duduk, santai aja” kata Wonwoo

Mereka bertiga duduk di sofa tamu tidak jauh dari pintu masuk.

“Makasih om”

“Jangan panggil om, kamu sepupu Seungcheol kan?”

“Iya betul o-m eh”

“Seungcheol bahkan lebih tua dari saya, kamu biasa panggil dia siapa?”

“Bang Seungcheol”

“Oke samain aja kalau gitu”

“Bang wonwoo ya?”

“Iya, kalian mau minum apa?”

“Adanya apa bang?”

“Cola, is it that okay?”

“Oh iya gapapa makasih bang”

“Soonyoung?”

“E-eh... iya pak?”

“Kenapa diam aja?”

“Gapapa saya cuma kaget apartemennya besar banget pak”

“Oh itu, kita bahas nanti” Kemudian Wonwoo berdiri dan menuju kulkas yang ada di dapur.


“Jadi soonyoung karena kita tidak sempat banyak mengobrol lewat chat kemarin dan karena saya juga sangat sibuk satu minggu lalu di kantor makanya saya ajak kamu ngobrol dulu di sini”

“Iya pak gapapa saya maklum”

“Di sini kamu bebas saja, anggap seperti kamu ngekos di tempat kemarin, cuma seperti yang sudah saya bilang tolong untuk menjaga kebersihan, saya tidak mengijinkan untuk mengadakan party dan hal-hal yang terlalu bising, kalau untuk sekedar mengajak teman seperti Mingyu dan mungkin beberapa teman dekatmu itu tidak masalah” Tutur Wonwoo menjelaskan peraturan di apartemennya

Lanjutnya “Saya juga tidak ada jam malam, jam berapapun kamu pulang itu terserah. Kita akan menjaga privasi masing-masing. Ada yang mau kamu sanggah atau tanyakan?”

“Untuk keperluan di sini saya boleh ya pak sesekali berbelanja karna ga enak sama bapak saya di kasih murah di sini lengkap dengan fasilitasnya” kata soonyoung.

“Boleh, silahkan. Ada lagi?”

“Ngga ada pak itu aja, untuk yang lainnya mungkin saya tanya sambil jalan ya pak, kalau saya ada salah mohon ditegur aja pak”

“Oke”

“Bang wonwoo apa ini ngga ada kontrak sewa-menyewanya?” tanya Mingyu yang masih ada disana sedari tadi ikut menyimak pembicaran antara pemilik apartemen dan penyewanya

“Nggak usaha cukup bayar ontime saja di awal bulan, dan kalau bisa soonyoung bisa betah disini karena bulan Juli nanti saya akan pindah”

“hAH??! bapak mau pindah kemana?”

“saya di mutasi ke Batam, tidak usaha kamu pikirkan tinggal saja disini dengan nyaman”

“oh oke siap pak”


Setelah Mingyu berpamintan pulang dan meninggalkan Soonyoung di tempat tinggal barunya, kedua housemate itu berjalan menuju kamar yang ada di ujung ruangan.

“Kamar kamu yang disana kuncinya ada di belakang pintu, kamar mandi juga ada di dalam jadi kamu tidak usah ribet”

Wonwoo mengantar Soonyoung ke kamarnya, untuk kedua kalinya Soonyoung terkagum-kagum melihat isi apartemen ini. Bentuk kamarnya yang sekarang jauh lebih bagus dibanding dengan kos-kosannya yang berukuran sepetak kemarin. Kamar yang Soonyoung tempati sekarang memiliki dominan warna putih susu bersih yang memberikan kesan yang sangat menenangkan.

“Kamar saya disana” Wonwoo menjuk arah kamar yang tepat bersebrangan dengan kamar Soonyoung. “Kalau ada apa-apa ketuk saja, sakarang boleh istirahat dulu”

“Iya pak, makasih banyak bantuannya”

Kemudian wonwoo masuk ke dalam kamar dan Soonyoung yang menyeret 3 kopernya masuk.

SORE

Pukul 5 sore mereka sudah bersiap untuk pulang, hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Walaupun singkat tapi benar-benar berkesan. Terimakasih Puncak.

Soonyoung sudah siap dengan tas ranselnya yang menggembung akibat terlalu malas melipat kembali pakaian kotor yang sudah dipakai, katanya sekalian pulang dan nggak keluar mobil juga tasnya.

Susunan pembagian mobil masih sama kecuali soonyoung dan wonwoo yang berbeda. Wonwoo mengajak soonyoung pulang bersama dengan alibi ingin mampir di rest area untuk membeli gemblong yang tidak sempat soonyoung beli kemarin. Untuk mobil lain mereka sepakat untuk tidak berhenti di rest area karena mau mengejar sampai di Jakarta sebelum magrib.

Karena mobil wonwoo akan berhenti di rest area maka susunan keberangkatan dipimpin oleh wonwoo, kemudian disusul mobil mingyu, seungcheol dan jun.

“Kamu ngga mau minum dulu wonu?” Kata soonyoung saat mereka baru keluar dari jalan kecil keluar dari area villa.

“Boleh deh itu ada di jok belakang soon minta tolong ambilin”

Soonyoung mengambilkan satu botol air mineral yang memang sudah dibuka dan sisa tiga per empatnya karena sudah diminum wonwoo. Soonyoung membantu membukakan botol agar wonwoo tidak kesulitan. Dia menyerahkan air kemasan tersebut ke depan dagu wonwoo agar mudah diambil, melihat wonwoo yang sedang fokus menyetir, saat wonwoo mengambil botol dari tangan soonyoung kulit mereka sedikit bersentuhan yang memberikan kesan menyetrum di dada soonyoung. Entah kenapa rasanya masih sama seperti tadi malam saat wonwoo menggenggam tangannya.

“Makasih”

“Hmm”

“Kamu kalo mau tiduran gapapa ntar kalo udah sampe rest area aku bangunin”

“Engga ah aku nemenin kamu nyetir aja”

“Semalem kamu begadang gitu nonton youtube sama bang cheol”

“Iya abisnya seru kak han sampe marah-marah hahaha”

“Kaget bang cheol di seret ke kamar sama kak jeonghan gara-gara kamu tuh”

“Ih mana ada wonu, aku kan ngga ngajakin..bang cheol aja yang next next terus nontonya” kata soonyoung antusias menceritakan keseruannya nonton kimbab family dengan seungcheol yang baru pertama kali menonton.

Wonwoo tersenyum sambil terus menyetir. Rasanya tidak pernah semenyenangkan ini perjalanannya dari Bogor ke Jakarta. Mungkin karena ada soonyoung...

Satu jam perjalanan mereka sampai di rest area, saat melihat pedagang dengan box biru besar yang begantung di depan dadanya, soonyoung langsung gelabakan ingin cepat keluar kalau aja tidak di tahan oleh wonwoo.

“Aku parkir dulu ya soonie”

“Ih buruan wonu ntar abangnya pergi”

Wonwoo mengarahkan mobilnya ke pedagang gemblong tadi, membuka kaca mobilnya.

“Bang tunggu bentar ya parkir mobil dulu”

“ABAAAAAAANG TUNGGU YAAAA” Soonyoung menyambar dari sebelah wonwoo membuat si pengemudi sempat kaget

Sama si abang tukang gemblong cuma di jawab “oke a disini aja saya” dengan dua jempol diacungkan

Saat mobil wonwoo sudah terparkir dengan rapih, soonyoung buru-buru turun menghampiri pedagang gemblong tadi. Total ada 5 bungkus gemblong yang soonyoung beli waktu wonwoo menyusul.

“Berapa bang?” Itu wonwoo yang tanya

“50 ribu a”

Wonwoo menyerahkan uang seratus ribu karena dia juga mengambil 2 bungkus tahu sumedang yang kebetulan di jual abang gemblong tadi

“Jadinya 70 ribu ya a, kembalian 30”

“Makasih bang” jawab wonwoo sopan

“Wonu ini aku ganti uang kamu ya” soonyoung membuka waist bag yang di bawanya

“Udah gausah, di makan yang banyak”

“Enggak ah aku beli banyak buat mamah juga ini”

“Yaudah gapapa anggap aja oleh-oleh dari aku”

“Aneh wonu kalo oleh-oleh harus lebih banyak lah tapi makasih ya hehe” kata soonyoung sambil mengunyah gemblong yang sudah di idamkan sejak kemarin

“Hahahaha dasar, ini kamu duluan aja ke mobil, aku mau pipis dulu atau kamu mau ikut?”

“Enggak aku mau makan aja”

Lagi-lagi wonwoo harus menahan rasa gemasnya.

Mereka berjalan menuju parkiran, karena toilet juga tidak jauh dari tempat wonwoo memarkir mobilnya, sebelum pergi wonwoo kemudian menyerahkan kunci mobilnya kepada soonyoung.


Mereka sampai dirumah soonyoung pukul 7.15 malam, setelah masing-masing mengabari teman-temannya di grup kalau mereka sudah sampai, keduanya masuk ke rumah soonyoung agar wonwoo bisa beristirahat sebentar.

“Mamaaaaaaah ~ soonie pulang”

“Kak? Ya ampunnnnn muka kamu kok belel banget kakkk?”

Soonyoung cuma bisa bersungut dengan ucapan ibunya yang membuat dia malu di depan wonwoo. Sedangkan wonwoo cuma bisa menahan tawanya dari tadi.

“Mandi dulu sana kak ajak wonwoo sekalian ke atas cuci muka capek tuh pasti”

“Gak usah tante, wonwoo bentar lagi pulang kok”

“Eh jangan gitu makan dulu disini jadi di kos tinggal istirahat”

Wonwoo melirik ke arah soonyoung meminta persetujuan. Soonyoung mengangguk “ayok wonu”. Setelahnya mereka naik ke kamar soonyoung

Wonwoo jujur canggung masuk ke kamar soonyoung tapi si pemilik kamar terlihat biasa-biasa saja.

“Duduk aja sini” soonyoung menepuk ujung kasurnya, wonwoo menuruti.

“Kamu mau cuci muka duluan? Atau aku duluan mandi?” Hmm kalimat itu terdengar aneh di telinga wonwoo tapi buru-buru di tepisnya.

“Kamu aja duluan mandi, muka kamu udah belel” dengan itu wonwoo dihadiahi lemparan boneka macan soonyoung yang di beri nama 'youngmaeng'. Otomatis gelak tawa wonwoo terdengar seiring soonyoung yang masuk ke kamar mandi.

Setelah makan malam akhirnya wonwoo memutuskan untuk menginap di sana karena paksaan dari Ibunya soonyoung, pertimbangan beliau adalah hujan deras yang turun saat inu sangat deras dan baru saja mendapat berita di tv bahwa banyak pohon yang tumbang di jalan. Awalnya wonwoo merasa tidak enak karena sudah merepotkan tapi akhirnya setuju. Sekarang mereka sudah kembali ke kamar soonyoung untuk beristirahat.

“Kamu pake baju aku dulu ya wonu” soonyoung menyerahkan satu baju kaos yang dia rasa muat untuk wonwoo.

Wonwoo hanya meminjam baju soonyoung karena celananya masih ada yang bersih, hanya baju saja yang sudah habis dipakai semua.

Setelah bersih-bersih dan mandi wonwoo kembali ke kasur yang sudah ada soonyoung yang tengah asik menonton video dance practice di youtube.

“Lomba kamu kapan jadinya?” Kata wonwoo sambil men-charge batrai hpnya di pinggir kasur

“Desember, udah bentar lagi tapi aku masih ngerasa kurang”

“Latihan terus sama yakin”

“Yakin sih tapi kadang suka insecure, kaya apa yaaaa wonu adaaaaa aja yang masih slip”

“Manusia mah emang gitu mana pernah puas”

“Hehe iya sih” kalimat tadi dikuti soonyoung yang menguap dan petir yang menyambar di luar.

“Ih kaget” kata soonyoung tiba-tiba menutup mulutnya yang tadi menguap

“Ayo tidur capek banget sampe mo meninggoy”

“ASTAGAAAA WONU ALAY BANGETTTT”

Wonwoo cuma ketawa sambil merebahkan kepalanya di bantal, sedangkan soonyoung turun dari kasur.

“Ini lampunya aku matiin gapapa wonu?”

“Gapapa aku juga tidurnya gelap”

“Oke”

Tek.

Kemudian lampu dimatikan, soonyoung kembali ke kasurnya dan tidur di sebelah wonwoo. Kalo tadi soonyoung terlihat biasa-biasa saja sebenarnya dia juga berusaha setengah mati untuk menetralkan degup jantungnya. Ada wonwoo yang tidur di sebelahnya.

Puncak,

Mereka sampai di villa afy pukul 11.30 siang, walaupun terhitung masuk tengah hari namum udara terasa sangat sejuk, berbanding terbalik dengan keadaan kota Tangerang jika dibandingkan saat ini.

Saat dijalan tadi tidak begitu banyak hambatan, mereka sekali berhenti di rest area toll Jagorawi KM 45 untuk beristirahat sejenak. Para 'driver' yang bertugas hari ini seperti seungcheol, mingyu dan jun langsung menuju kios kecil diujung food court untuk memesan mie instan rebus rasa kari yang dicampur telur setengah matang yang di aduk bersamaan di panci, untuk mingyu spesial wajib sayur sawi segar sebagai pelengkap.

Sedangkan, untuk yang lain beberapa berpencar untuk hunting jajanan khas rest area.

Namun, ada satu orang yang sejak turun dari mobil tadi bersungut kesal karena tujuannya untuk lekas sampai di rest area ini tidak ada. Soonyoung yang dari tadi mengomel karena penjual gemblong yang di idam-idamkannya tidak ada satupun yang berjualan.

Biasanya dimusim liburan seperti ini ada banyak pedagang gemblong berkeliling, kue ini terbuat dari campuran ketan dan kelapa parut yang di bentuk lonjong kemudian di balur oleh gula merah cair, setelah itu didinginkan menjadi camilan, bentuknya yang pas sekali lahap cocok untuk menemani saat perjalanan ke puncak.


“Ini AC nya emang dinyalain apa ya?” Tanya seokmin yang bersandar pada sofa dekat jendela ruang tengah

“Jangan norak lo! Mana ada pake AC, ini pintu, jendela kebuka semua, emang dingin lah malih” jawab mingyu sambil membawa kardus mie instan yang dipersiapkan untuk agenda menginap mereka hari ini.

“Seok lu mending nyusul ke bawah ambilin sisa barang di mobil” seungcheol yang juga baru masuk membawa tas anak-anak yang lain langsung menyuruh adik tingkatnya yang lumayan tidak tahu diri itu untuk membantu.

“Hehe iya bang”

Saat ini, waktu mereka habiskan untuk beristirahat dulu menunggu sore, sebagian ada yang berberes di kamar masing-masing dan ada juga yang berkeliling villa seperti Jihoon, Jun dan Seungkwan.

Jangan tanya soonyoung ada dimana, dia sudah pasti ada di tim yang 'sedang berberes di kamar'. Yang berberes cuma Ichan dan Jeonghan karena soonyoung sudah di pastikan menjajah kasur springbed disana.

“Bang tas lo mana sih? Pinggirin dulu” kata Ichan yang masih sibuk menata tas-tas kakak tingkatnya yang kebetulan satu kamar dengannya.

“Tuhhhhhh deket pintu” soonyoung cuma mengerucutkan bibirnya sambil bermain hp, menunjuk dimana tas miliknya diletakkan.

“Nyong tas lo gue buang di kolam renang apa deket rawa-rawa yang kita lewatin tadi?” Kalau jeonghan yang sudah bersuara soonyoung otomatis pasti akan langsung berdiri dan membereskan tasnya. Terbukti dia bangkit dan berjalan gontai ke depan pintu.

'Luar biasa yoon jeonghan' dalam hati Ichan kagum.

Pembagian kamar hari ini, Kamar 1 Jeonghan, seungkwan, Ichan, Soonyoung.

Kamar 2 Vernon, Jun, Seungcheol, Wonwoo

Kamar 3 di lantai dua, mingyu, seokmin, minghao dan jihoon. Sudah dipastikan seokmin girang bukan kepalang bisa berbagi kamar dengan jihoon. Well, lucky for you seok...

Mereka tidak menyiapkan games untuk agendanya dipuncak kali ini karena memang niat awal adalah untuk bersatai-satai saja menikmati liburan sekolah atau kalau boleh dibilang memang jeonghan tidak mau ribet menyiapkan keperluan games yang menguras energinya. Baiklah paduka.

Sampai saat ini soonyoung belum mendapat kabar lagi dari wonwoo, balasan chat terakhir tadi adalah saat mereka akan berangkat dari rumah jeonghan dimana wonwoo yang katanya akan menyusul pukul 5 sore dari rumahnya.

Soonyoung sekarang berada di balkon lantai 2, menghadap perbukitan di depannya. Memang tidak salah jeonghan menyarankan villa ini, letaknya memang berada paling ujung di bading lokasi villa lain, sedikit masuk lebih jauh untuk sampai, belum lagi harus naik ke jalan tidak beraspal yang cukup menanjak. Namun, hasilnya benar-benar sesuai dengan usaha, karena posisi paling ujung dan lebih tinggi dari villa lain maka saat kita berada di balkon lantai dua ini hamparan bukit hijau terlihat jelas, menyejukkan dan menenangkan. Lumayan untuk melepas penat dari hiruk pikuk Jabodetabek yang penuh dengan asap kendaraan dan bising jalanan. Hati soonyoung rasanya tenang.

Jam sudah menunjukan pukul 7.00 malam dan hari sudah gelap, penjaga villa sudah sejak tadi menyiapkan catering makan malam yang memang satu paket dengan penyewaan villa ini. Makan yang disajikan juga beragam mulai dari ayam bakar, ikan nila goreng, sayur asem, lalapan, sambal terasi, sambal mangga, tempe tahu goreng, tumisan kangkung dan kerupuk udang. Benar-benar tidak salah pilih.

Saat seungcheol memanggil teman-temannya untuk berkumpul makan malam, dari depan pintu utama akhirnya datang seseorang yang diam-diam soonyoung tunggu sejak tadi.

Wonwoo dengan baju kaos hitam, celana jeans hitam, kaca mata andalannya dan masker

'hmm apa tidak kedinginan dia ke pucak naik motor dengan pakaian begitu?' dalam hati soonyoung yang melihat kedatangan wonwoo dari arah dapur

“Sampe lo won” kata seungcheol yang menghampiri wonwoo

“Iya bang, agak sorean gua tadi berangkat pamit sama nyokap dulu soalnya”

“Iya gapapa santuy aja bro, buru dah langsung makan itu udah pada ngumpul di dapur”

“Sip bang” setelahnya wonwoo mengikuti seungcheol ke dapur, tas yang di bawanya hanya di letakkan di atas sofa ruang tengah yang tadi sempat di pakai seokmin bersantai

Masing-masing sudah sibuk mengambil makanannya. Lihat saja seungkwan dan Ichan yang berebut bagian dada ayam yang menurutnya paling besar, ada juga mingyu dan jihoon yang sudah tenang di pojok meja makan dengan segunung lauk pauk dan jeonghan yang membantu seungcheol mengambil makanannya.

“Hai” sapa wonwoo saat melihat soonyoung yang masih berdiri mengantri

“Hai” balas soonyoung dengan canggung

“Udah kaya 2 tahun ga ketemu aja canggung banget” goda wonwoo

“Siapa juga yang canggung ih gaje wonu” telinga soonyoung merah hingga ke leher, untung lampu dapur ini temaram jadi tidak begitu nampak

Wonwoo tersenyum, wonwoo kangen panggilan khas soonyoung untuknya 'wonu'.

Setelahnya mereka berdua makan di ruang tengah di depan tv duduk bersila dengan rapih, karena meja makan di dapur tadi sudah penuh oleh yang lain.

“Jam berapa tadi berangkatnya wonu?” Katanya soonyoung sambil menyuap tempe gorengnya

“Jam setengah 7, jalannya setengah jam doang. Ngaret banget ya?”

“Lumayan”

“Iya soalnya nunggu bunda pulang dari rumah sakit dulu aku mau pamit”

“Loh emangnya ga balik rumah lagi?”

“Enggak, ntar aku langsung ikut ke tangerang juga bareng kalian pulang ke kosan”

“Lohhh naik motor begitu wonu”

“Yee biasa aja kali udah sering, tapi ini aku ga bawa motor sih. Aku tinggal di rumah bogor”

“Jadi kesininya tadi di anter?”

“Enggak, tadi aku bawa mobil ayah dari rumah. Ayah ada seminar minggu depan di Jakarta jadi gapapa mobilnya aku bawa, kalau seminarnya udah kelar di bawa balik deh mobilnya ke bogor”

“Oh gituuu pantes bajunya begitu doang”

“Kenapa emang?”

“Kamu kaosan doang apa ga kedinginan kalo naik motor”

“Cie merhatiin”

“Ih apaan engga tuh, jelek banget wonu mulutnya” kemudian soonyoung meneguk es tehnya dengan gugup.

Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di halaman parkir Mall Summarecon Serpong, keduanya memasuki pusat perbelanjaan hits di daerah Tangerang itu sekitar pukul 17.46.

“Kemana wonu?”

“kita nonton gimana?”

“umm, ada film apa ya?” kata soonyoung.

“tadi udah nyari-nyari sih, nih coba kamu liat” wonwoo memberikan hpnya ke soonyoung untuk mengecek jadwal film yang diputar hari ini.

“Frozen!!!” soonyoung bersemangat saat melihat poster Frozen ada di daftar paling atas aplikasi ticket online tersebut

“kok kaya bayi sih” wonwoo ngga habis pikir

“ishhhhh ayoooo wonu please please”

“ada yang lain loh padahal itu ada Pet Sematary atau Six Underground” wonwoo menggeser-geser layar hpnya yang di pegang soonyoung untuk menunjukan film lain

“Pet Sematary film apaan?” tanya soonyoung tertarik

“Gak tau juga sih tapi kayanya seru”

“liat trailernya dulu dong wonu, youtube mana youtube?” soonyoung mencari-cari aplikasi menonton video tersebut di hp wonwoo, tapi soonyoung ngga sadar kalau dari tadi wonwoo fokus menatap wajah lucu soonyoung yang menyebutkan “youtube” dengan bibir manyunnya. Wonwoo benar-benar harus menahan rasa gemasnya hari ini yang meningkat seribu kali lipat dari hari biasa. Hmm..

“IHH APANIH GAK MAU BANYAK KUBURANNYA GITU HOROR YAAAA”

“ya dari posternya juga udah ketahuan film horor soon”

“aku kira ada pet petnya gitu kaya film petualangan aku gak mau ahhhh males film horor, lagi ngga mood”

“jadi moodnya apa?”

“Frozen hehehehe”

Oke. Wonwoo menyerah tidak ada perdebatan lagi setelahnya karena mereka berdua sepakat menonton film pilihan soonyoung.

Sekarang mereka menuju elevator ke lantai 3 dimana XXI berada, saat baru sampai di lantai 2 tiba-tiba soonyoung menarik lengan wonwoo dan menyeretnya bersembuyi di balik salah satu counter pakaian.

“shhhhh shhhhh wonu diem dulu” soonyoung masih bersembunyi sambil mengintip ke arah timur mall tersebut.

“ada apa sih?” wonwoo masih bingung dan jadi ikut-ikutan berbisi juga

“ada junpi sama uji ituuuuuu” soonyoung menunjuk kedua temannya yang sedang jalan berdua

“terus kenapa? kamu malu jalan sama aku?”

“Ih bukanlah wonuuuu ngapain malu, itu mereka kenapa bisa jalan berdua? mencurigakan hmm” soonyoung memasang wajah curiga ala-ala detektif yang penasaaran. “Junpi parah banget diam-diam ngegas”

“gapapa kali soon kita juga jalan berdua, ayuk samperin mereka” sekarang wonwoo yang menarik tangan soonyoung menghampiri kedua temannya tadi

“ehh ehh- ehhh wonuuuu ntar dulu” wonwoo tetap manarik tangan soonyoung

“Ji.... ” itu wonwoo yang menepuk pundak jihoon dari belakang, yang di tepuk otomatis kaget. Ngerasa kaya ke-gap jalan sama selingkuhan padahal engga sih

“Eh won.. lo sama sia-OHHH ANJIR” Jihoon yang melihat soonyoung dibelakang wonwoo langsung menunjukan wajah usilnya “berdua banget nih?” Kata jihoon

“harusnya gue yang nanya jikkk !!! dalam rangka apa nih hmm hmm?” tanya soonyoung yang menyembul dari belakang punggung wonwoo

“Jalan lah ngga liat mata lo?” itu junpi yang ngejawab

“loh loh junpi diem aja ya gue gak mau nanya lo, pertemanan kita udah cukup sampai disini”

“drama banget lo ngehe” junpi santai sambil meminum es bobanya

“gitu lo ga ada cerita-cerita sama gue”

“emang lo ada cerita mau jalan sama wonwoo hari ini? cie”

Soonyoung kicep

“Kenapa pada berantem sih? Udah sono lo nyong jangan sampe ketemu gue lagi” samber Jihoon

“IHH UJIK !”

“hahaha udah udah, gue duluan ya ji jun” kata wonwoo yang membawa soonyoung menjauh

“yo! cepet jadian ya won”

soonyoung yang sudah ditarik wonwoo masih sempat menengok “bacot lo junpi!”

Jun dan Jihoon otomatis menertawakan teman gembulnya yang satu itu.


Sekarang wonwoo dan soonyoung sudah siap di seatnya masing-masing dengan satu popcorn medium asin, satu hot chocolate untuk wonwoo dan satu Java Tea Macchiato untuk soonyoung.

Mereka menonton dengan soonyoung yang sesekali terlihat bersemangat mengikuti jalan cerita dan sesekali bergumam kesal ketika tokoh yang ada dalam film tersebut melakukan hal yang tidak sejalan dengan pikirannya. Wonwoo yang duduk disamping menonton dengan tenang terkadang tersenyum melihat tingkah soonyoung yang mengomel sambil menguyah popcorn yang dipangkunya. Enggak, wonwoo gak ikutan makan popcorn, nggak suka katanya.

Film hari ini selesai dengan akhir bahagia, membuat mood soonyoung jauh lebih baik.

“ayo makan” ajak wonwoo saat mereka baru keluar dari pintu theater.

“okeee marugame?”

“sip” kata wonwoo yang dengan sengaja mengamit telapak tangan soonyoung dan menggenggamnya selama menuju resto makanan jepang yang diinginkan soonyoung barusan.

Wonwoo ngga tau seberapa kacau detak jantung soonyoung karena perlakuannya, karena soonyoung benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan hati dan pikirannya.

“YOYOOOOOO MAN!!!!!!” Seokmin dengan bangga berkeliling lapangan dengan medali emas yang melingkar di lehernya, membanggakan kemenangan kelasnya hari ini.

“Selamat seok” Jihoon yang menyalami seokmin dan pemain lain

“Hehehe makasih yayank uji”

Soonyoung dan teman-temannya yang lain hanya menatap malas ke arah seokmin yang mulai bertingkah lagi.

“Selamat won”

“Thanks bro”

Terus hingga wonwoo yang sekarang berada di depan soonyoung, keduanya hanya terdiam sampai akhirnya jeonghan “katanya tadi mau ngucapin salamat, nyong”

“E-eh i-iya selamat won congrats”

“Oke makasih soonyoung” keduanya tidak bersalaman hanya saling mengangkat kedua telapak tangan seperti orang yang melambaikan tangan saat akan berpisah.

“Ay semangatttt gapapa di kalahin wonwoo, kamu udah keseringan menang ikhlasin aja” sekarang seungcheol sudah bergabung dengan gerombolan kelas wonwoo dan teman-teman jeonghan.

“Iya aku mah sengaja kalah dari wonwoo” kemudian mendapatkan sorakan dari tim basket kelas wonwoo.

“Tungguin aku pulang ya ay, kelar briefing sejam lagi” rangkul jeonghan di lengan seugcheol

“Iya ay gapapa aku mau bilas dulu ini sama ganti baju” Memang terkadang kedua sejoli ini tidak tahu tempat, padahal banyak fakir asmara di sekeliling mereka yang sudah panas mendengar obrolan mereka berdua.

“Eh nyong katanya ojol pada demo ya hari ini? Ga bisa pulang dong lo” lagi-lagi jeonghan asal bicara.

“Ohhhhhh bareng wonwoo aja itu mah” kata seokmin yang langsung menyambar. Wonwoo yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil langsung menoleh dan melihat ke arah soonyoung yang sudah gelisah entah kenapa.

“Eungg gausah gue naik angkot aja” kata soonyoung menghindar

“Mana bisa lewat kak nyong, orang lagi pada demo, angkot pasti di boikot” timpal seungkwan menambah bumbu-bumbu penyedap rasa gurih

“Gapapa sama gue aja soonyoung searah kan” kata wonwoo

“Gue sama jihoon aja, kan kita tetanggaan” soonyoung mati-matian mengulur waktu untuk menepati janjinya berbaikan dengan wonwoo. Padahal sebelumnya juga hubungan mereka memamg sudah mulai membaik, hanya saja teman-teman soonyoung tidak tau.

“Ehh enggak! Orang gue pulang sama jun” sahut jihoon reflek. “Tadi pagi gue di jemput jun, mager bawa motor” padahal jihoon bohong. Hmm..

“Yayank uji kok selingkuh?” Soekmin tiba-tiba menyela yang kemudian di hadiahi tatapan tajam dari Jihoon. Oke. Seokmin diam.

“Udah bubar bubar istirahat, yang pulang hati-hati ya, ekskul basket ngumpul dulu sebentar” seungcheol yang akhirnya menengahi.

“Soonyoung tunggu sebentar ya ntar gue susulin kalo udah kelar sama anak basket”

“Hmm iya” jawab soonyoung lemah tidak bisa lagi mengelak, ada teman-temannya di sana.

“Yuhuhuhu~ bye bye bang nyongi~” Ican dengan menjenggkelkannya melambaikan tangan menjauh.

Setelah 15 menit briefing singkat dengan teman-temannya di ekskul basket, wonwoo berjalan menuju kelas soonyoung. Sebelumnya dia sudah bertanya lewat chat keberadaan soonyoung sekarang.

“Ayo pulang” ajak wonwoo di depan kelas soonyoung. Soonyoung langsung berdiri dan berpamitan dengan Yehana dan Lisa teman sekelasnya yang ada disana.

Sampai di parkiran soonyoung masih berdiri di samping motor wonwoo tanpa berkata apapun.

“Naik, jangan takut gue udah bilas tadi baju juga udah ganti” kata wonwoo

“Siapa juga yang nanya” setelahnya soonyoung naik ke atas motor dan keduanya meninggalkan halaman sekolah mereka.

“Beli es campur dulu yuk gerah banget gue” ajak wonwoo

“Emang lo ga capek? Gue ga enak ini lo kan baru kelar lomba”

“Kan gue yang ngajak santai aja sih ga gue suruh ganti duitnya”

“Ribet banget gue mesti ganti-ganti duit lo lagi”

“Hahahahaha mau ga nih?”

“Hmm yauda”

“Oke meluncur”

Keduanya sampai di warung es campur dekat sekolah mereka, wonwoo lahap meminum es campurnya hingga sudah setengah mangkok

“Haus lo?” Tanya soonyoung yang terheran-heran melihat wonwoo

“Iya haus banget gue tadi di lapangan udah kaya mau teler”

“Lebay lo”

Di balas kekehan kecil wonwoo.

“Soonyoung”

“Hmm”

“Lo masih benci sama gue?”

Soonyoung tiba-tiba menghentikan suapan es campurnya dan menaruhnya kembali di mangkok.

“Gue salah ya nanya gitu?”

“Gue nggak benci sama lo”

“Tapi?”

“Jengkel”

“Kenapa?” “Kalo gue ada salah gue minta maaf tapi gue bener-bener bingung sama sikap lo yang tiba-tiba ga suka sama gue dari kelas 1”

Diam sejenak

“Mungkin lo lupa won bahkan ga inget sama sekali, tapi waktu itu untuk pertama kalinya gue bener-bener kesel sama orang. Kita masih kelas 1 dan dari awal masuk kita sudah dibagi perjurusan IPA, IPS, BAHASA, gue denger percakapan lo sama Daniel. Lo bilang lo nggak level main sama anak IPA, mereka cupu, kutu buku, ga bisa bersosialisasi, baperan, madesu dan lain sebagainya. Gue inget banget kata-kata lo itu, gue sampe gak habis pikir kenapa ada orang yang punya mindset begitu. Padahal kalo lo tau, gue belajar mati-matian waktu ujian masuk sekolah ini biar bisa tembus masuk kelas IPA, tapi apa mau dikata kemampuan gue ga sehebat anak-anak IPA yang lolos, nilai gue lolosnya di IPS. Padahal gue pengen banget jadi dokter atau minimal kerja di dunia kesehatan, tapi mungkin rejeki gue nggak disana” soonyoung menatap wonwoo yang masih mendengarkan penjelasan soonyoung.

Soonyoung kembali melanjutkan “lo kenapa sih begitu? Apa lo nggak mikir gimana perasaan anak IPA kalo misalnya mereka yang denger omongan lo itu? Gue dulu nggak seceria sekarang won, waktu SMP gue cupu kaya yang lo bilang, gue ga pandai bergaul, temen gue cuma satu dua orang doang tapi semenjak masuk SMA dan bisa ikut ekskul dance gue jadi nemu passion gue, jadi semangat, gue jadi tau hidup nggak melulu tentang satu mimpi, denger ucapan lo waktu itu bener-bener bikin hati gue panas” soonyoung menarik napasnya setelah menceritakan seluruh isi hatinya yang dia pendam terhadap wonwoo selama ini, alasan kenapa dia selalu menghindari wonwoo dan tidak menyukainya.

Wonwoo tersenyum kemudian menepuk puncak kepala soonyoung, mengelus pelan sebentar.

“Maafin gue ya soonyoung gue nggak tau kalo lo denger obrolan gue waktu itu. Kalo gue boleh jelasin sebenernya gue ga bermaksud ngeremehin anak IPA, waktu itu gue cuma lagi bercanda sama daniel, dia suka sama Jihoon yang lo tau sendiri dia anak IPA, jihoon nya sendiri ada sama kita bertiga waktu itu kalo lo inget, jadi gue semata-mata cuma bercanda gak bermaksud apa-apa. Dan kalo lo tau gue udah temenan sama jihoon dari SMP, so nggak mungkin gue gak mau temenan sama anak IPA, jelas-jelas hampir tiap hari gue mabar sama jihoon, Soon. Maaf ya kalo perkataann gue waktu itu ngebuat lo tersinggung” wonwoo dengan tenang menjelaskan. Kemudian disambung lagi...

“Lagi pula nggak mungkin gue beneran ngerendahin anak-anak yang suka IPA, orang tua gue dua-duanya dokter” kata wonwoo tersenyum.

Soonyoung yang mendengar langsung melotot.

“Hah? Orang tua lo dokter?”

“Iya”

“Terus kenapa lo masuk IPS?”

“ya gapapa biar keren aja”

“Tuh kan!” Soonyoung kembali bersungut

“HAHAHAHA” “Enggak enggak, gue emang tertarik belajar IPS gue mau ngambil jurusan Hubungan Internasional pas kuliah nanti” jelas wonwoo

“Ohhh~ terus orang tua lo kerja di rumah sakit mana sekarang?”

“Di RS BMC sama Pertamedika Sentul”

“Di bogor?”

“Yep”

“Lah terus ngapain lo sekolah disini? Nanggung amat”

“Gapapa pengen mandiri aja”

“Aneh”

“Sama aja soonyoung, rumah di bogor sepi orang tua gue sibuk kerja yauda gue sekolah di sini aja”

“Lo ngga ada saudara?”

“Ada kakak gue kuliah di jogja”

“Sebatang kara lo disini?”

“Ya enggak lah banyak kali keluarga di jakarta tapi gue ngekos”

“Bener-bener aneh”

Wonwoo kembali tertawa “udah gitu ceritanya, gimana lo masih marah nggak sama gue? Udah di maafin belum guenya?” Tanya wonwoo yang masih ada perasaan mengganjal.

“Hmm iya gue juga minta maaf udah banyak salah pahamnya sama lo”

“Oke jadi sekarang kita bener-bener baikan ya? Lo jangan judes lagi sama gue di sekolah”

“Iya iya ah bawel, lo juga kenapa sih suka banget ngelawanin gue”

“Yee orang gue ngerasa gada salah”

“Tuh tuh liat tuh wonu mulutnya mulai nyelak lagi”

Wonwoo hanya tertawa melihat soonyoung yang seperti itu. Hatinya lega, misi damainya berhasil. Ternyata hanya kesalahpaham yang dibiarkan berlarut-larut saja selama ini.

Dalam hati soonyoung jauh lebih lega. Semudah itu kalau dia mau terbuka dan jujur. Hitung-hitung dia sudah menghapus penyakit hati yang selama ini mengganggu.

IT'S D-DAY

Hari ini semua siswa-siswi SMA N 17 Tangerang sibuk menyiapkan tim kelas mereka untuk Pekan Olahraga yang akan berlangsung selama dua hari. Tidak terkecuali kelas 2 IPS 5, Mingyu sebagai captain tim basket kelasnya sudah memimpin briefing hari ini, pesan-pesannya agar semua semangat, tetap menjaga sportifitas dan tidak ada yang cidera.

Wonwoo, Seokmin, Hoseok, Yugyeom dan Mingyu akan menjadi pemain inti, mereka sudah siap dengan jersey merah putihnya. Sebelum mulai mereka berdoa agar semua dilancarkan dan bisa membawa kemenangan di tahun ini.

Sebelum keluar kelas menuju lapangan dan untuk menambah semangat, mereka berkumpul membuat lingkaran kecil menyatukan tangan menjadi satu di tengah, dipimpin oleh Mingyu.

“2 IPS 5 !!!!!!!!!!!!!”

“JANGAN KASIH KENDORR!!!!!!” diikuti gelak tawa dari teman-teman sekelas mereka yang lain.

“Yok yok semangaaaaattttt” kata Irene bendahara kelas.

Dengan itu tim basket kelas 2 IPS 5 siap bertanding.

“Mbak, batagor ceban sambel kacangnya yang banyak” Jun yang sudah datang bersama Ican langsung menuju kios batagor sebelum bergabung dengan soonyoung dan jihoon di kursi kayu kantin sekolah mereka.

“Eh ada bang uji ~”

“Jarang gue liat lo can”

“Iya bang uji, ican sibuk belajar” kata Ican sambil menyeruput teh susu yang dibelinya

“Lagak lu bocah” Jun menyentil telinga Ican tidak terima dengan jawaban bocah itu barusan. Jelas-jelas Ican sering nongkrong di depan kelas atau sibuk menonton video dance di youtube.

“Udah lo beli pesanannya seungkwan sama kak han, nyong?”

“Udah nih tadi duit gue kurang goceng minjem uji hehehe” soonyoung mengangkat kresek belanjaan nya yang berisi roti, bakwan dan nasi goreng.

“Hati-hati ji ntar duit lo ga di ganti”

“Gue bakar aja itu halaman rumahnya kalo ga balikin duit gue”

“Bagus ntar chat gue aja kalo butuh bantuan” Jun dan jihoon dengan kompak merencakan pembakaran rumah soonyoung perkara duit 5.000 jihoon.

“Bisa banget modus lo bang” kata Ican melirik sinis.

“Iya banyak banget yang di modusin, jangan mau ji sama junpi dia juga modusin minghao” sambung soonyoung, yang kemudian di lempar tutup botol air mineral oleh jun.

Setelahnya mereka berdiri dan keluar dari kantin menuju ruang osis mengantar pesanan seungkwan dan kak han.

Di depan lapangan setelah mengantar sarapan, soonyoung dan ketiga temannya berjejer menonton pertandingan basket yang sudah mulai 15 menit lalu. Tim yang sedang bertanding adalah kelas Seungcheol dan Lucas, saat ini score masih di pimpin oleh kelas Lucas 26 : 23.

“Aihh anjing! Kasih maju bang !!!” Tiba-tiba soonyoung kaget ada yang berteriak di samping telinganya. Saat soonyoung menoleh ternyata mingyu, tidak terlalu kenal tapi soonyoung tau.

Merasa ada yang memerhatikan, mingyu menengok ke bawah. Yah secara mingyu jauh lebih tinggi dari soonyoung.

“Eh ada nyongnyong” mingyu sambil tersenyum

“Kaget gue” kata soonyoung datar

“Sory sory hehe itu ada wonwoo tuh”

“Nggak nanya”

“Yaaa siapa tau nggak nanya tapi nyariin” goda mingyu

Soonyoung hanya menengok sedikit ke arah yang mingyu tunjuk. Ada wonwoo yang sedang mengikat tali sepatunya.

Kaget. Mata mereka bertemu. Soonyoung langsung mengalihkan pandangannya ke lapangan basket lagi. Menonton tapi tidak fokus.

“Soonyoung”

“Eh elo” soonyoung kaget part 2

“Semangatin gue dong” iya, itu wonwoo setelah mengikat tali sepatu bukannya pergi malah nyamperin soonyoung

“Iyaa~ semangat”

“Cie enak bener ada yang nyemangatin. Gue juga mau kali” kata mingyu sambil menaik turunkan alisnya ke arah soonyoung

Ketiga teman soonyoung yang ada disana cuma bisa cekikikan, saling senggol-senggolan bahu melihat soonyoung yang di goda habis-habisan oleh tim inti basket kelas sebelah.

“Jadi lo ambil yang mana?” Tanya soonyoung sambil menyuap bakso pertamanya.

“Putih merah, udah pada setuju juga tinggal setor ukuran aja sih”

Sekarang mereka berdua lagi makan bakso di daerah anggrek loka, rada jauh memang. Ya, di sengaja sama wonwoo biar ngobrolnya lama. Nggak ada maksud apa-apa, wonwoo cuma mau berdamai.

“Lo makan bakso kecap semua”

“Iya biar enak”

“Eneg kali ada”

“Suka-suka gue sih”

“Sambelin biar seger” wonwoo nyodorin mangkok sambal yang ada di atas meja

“Ihhhh enggaaakk pedes” soonyoung otomatis menjauhkan mangkoknya

“Namanya juga sambel ya pedes, kalo manis ya soonie”

Wew

Wew

Ninu ~ ninu ~ 🚨

Soonyoung cuma melirik sinis, padahal dalam hatinya porak poranda. Nggak tau kenapa tapi gugup aja gitu loh.

“Gue ga bisa makan pedes”

“Ohh cupu”

“Lo bisa nggak sih nggak ngajak gue ribut?”

“Hahahahahahah oke oke”

Sisanya mereka sibuk dengan mangkok masing-masing dengan soonyoung yang membayar sesuai janjinya.