Housemate
Keadaan apartemen itu sepi karena sang penghuni tengah asyik membaca beberapa artikel di laman berita online di kamarnya. Sudut-sudut ruangan terlihat lengang dengan beberapa ornamen sederhana, apartemen ini cukup besar untuk ukuran seseorang yang masih single, kita panggil saja Jeon Wonwoo, pria 29 tahun yang saat ini bekerja sebagai General Manager di salah satu Bank Swasta terbesar di kotanya.
Sudah 5 tahun semenjak Wonwoo membeli apartemen ini, sejak saat itu pula ia tinggal sendiri jauh dari keluarga dan memutuskan untuk mandiri. Jabatan tinggi Wonwoo di tempatnya bekerja membuatnya dengan mudah memenuhi segala kebutuhan hidup, apartemen besar, mobil SUV berkelas dan baju-baju branded. He's living a good life.
Until....
Suara bel di pintu apartemennya berbunyi. Sepertinya seseorang yang ditunggu sudah datang, calon penghuni baru apartemen Wonwoo atau bisa kita bilang Housemate?
Ya, Wonwoo menyewakan satu kamar kosong yang tidak terpakai di apartemennya untuk disewakan. Saat ini wonwoo memang pelan-pelan mengiklankan apartemennya untuk di sewakan full rent atau sharing, karena dalam lima bulan ke depan dirinya akan di mutasi ke cabang lain yang berlokasi di kota yang berbeda. Banyak dari rekan wonwoo yang menyarankan untuk menjual saja apartemennya ini dan membeli yang baru, namun bagi Wonwoo apartemennya ini memiliki cerita spesial tersendiri. Apartemen ini hasil kerja kerasnya selama dua tahun pertama ia bekerja, jadi sangat sayang jika Wonwoo harus menjualnya. Agar tetap terawat selama ia di mutasi maka munculah ide untuk menyewakan apartemen ini, menurut Wonwoo paling tidak sang penghuni selanjutnya bisa tetap menjaga rumahnya dengan baik.
Wonwoo berjalan menuju pintu depan, wajah pertama yang Wonwoo temui bukan seperti perkiraannya. Laki-laki muda usia 19-20 tahunan yang cukup tinggi dengan badan yang besar, jauh dari ciri-ciri penyewa baru apartemennya yang ada di foto kontak.
“Siang om, betul ini rumah om Wonwoo?” laki-laki muda tadi bertanya dengan sopan.
“Betul, kamu siapa?”
“Saya Mingyu om, temannya Soonyoung ini” Mingyu menarik tangan Soonyoung yang dari tadi berdiri di belakangnya
“Perkenalkan Pak, saya Soonyoung” Soonyoung mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Wonwoo yang kemudian di sambut baik.
“Oh iya silahkan masuk, barangnya dibawa masuk juga sekalian” Wonwoo mempersilahkan
Kemudian kedua tamu itu dengan sigap mengangkat 3 koper dan 1 tas ransel yang mereka taruh di lantai sejak tadi dan masuk ke apartemen Wonwoo.
“Silahkan duduk, santai aja” kata Wonwoo
Mereka bertiga duduk di sofa tamu tidak jauh dari pintu masuk.
“Makasih om”
“Jangan panggil om, kamu sepupu Seungcheol kan?”
“Iya betul o-m eh”
“Seungcheol bahkan lebih tua dari saya, kamu biasa panggil dia siapa?”
“Bang Seungcheol”
“Oke samain aja kalau gitu”
“Bang wonwoo ya?”
“Iya, kalian mau minum apa?”
“Adanya apa bang?”
“Cola, is it that okay?”
“Oh iya gapapa makasih bang”
“Soonyoung?”
“E-eh... iya pak?”
“Kenapa diam aja?”
“Gapapa saya cuma kaget apartemennya besar banget pak”
“Oh itu, kita bahas nanti” Kemudian Wonwoo berdiri dan menuju kulkas yang ada di dapur.
“Jadi soonyoung karena kita tidak sempat banyak mengobrol lewat chat kemarin dan karena saya juga sangat sibuk satu minggu lalu di kantor makanya saya ajak kamu ngobrol dulu di sini”
“Iya pak gapapa saya maklum”
“Di sini kamu bebas saja, anggap seperti kamu ngekos di tempat kemarin, cuma seperti yang sudah saya bilang tolong untuk menjaga kebersihan, saya tidak mengijinkan untuk mengadakan party dan hal-hal yang terlalu bising, kalau untuk sekedar mengajak teman seperti Mingyu dan mungkin beberapa teman dekatmu itu tidak masalah” Tutur Wonwoo menjelaskan peraturan di apartemennya
Lanjutnya “Saya juga tidak ada jam malam, jam berapapun kamu pulang itu terserah. Kita akan menjaga privasi masing-masing. Ada yang mau kamu sanggah atau tanyakan?”
“Untuk keperluan di sini saya boleh ya pak sesekali berbelanja karna ga enak sama bapak saya di kasih murah di sini lengkap dengan fasilitasnya” kata soonyoung.
“Boleh, silahkan. Ada lagi?”
“Ngga ada pak itu aja, untuk yang lainnya mungkin saya tanya sambil jalan ya pak, kalau saya ada salah mohon ditegur aja pak”
“Oke”
“Bang wonwoo apa ini ngga ada kontrak sewa-menyewanya?” tanya Mingyu yang masih ada disana sedari tadi ikut menyimak pembicaran antara pemilik apartemen dan penyewanya
“Nggak usaha cukup bayar ontime saja di awal bulan, dan kalau bisa soonyoung bisa betah disini karena bulan Juli nanti saya akan pindah”
“hAH??! bapak mau pindah kemana?”
“saya di mutasi ke Batam, tidak usaha kamu pikirkan tinggal saja disini dengan nyaman”
“oh oke siap pak”
Setelah Mingyu berpamintan pulang dan meninggalkan Soonyoung di tempat tinggal barunya, kedua housemate itu berjalan menuju kamar yang ada di ujung ruangan.
“Kamar kamu yang disana kuncinya ada di belakang pintu, kamar mandi juga ada di dalam jadi kamu tidak usah ribet”
Wonwoo mengantar Soonyoung ke kamarnya, untuk kedua kalinya Soonyoung terkagum-kagum melihat isi apartemen ini. Bentuk kamarnya yang sekarang jauh lebih bagus dibanding dengan kos-kosannya yang berukuran sepetak kemarin. Kamar yang Soonyoung tempati sekarang memiliki dominan warna putih susu bersih yang memberikan kesan yang sangat menenangkan.
“Kamar saya disana” Wonwoo menjuk arah kamar yang tepat bersebrangan dengan kamar Soonyoung. “Kalau ada apa-apa ketuk saja, sakarang boleh istirahat dulu”
“Iya pak, makasih banyak bantuannya”
Kemudian wonwoo masuk ke dalam kamar dan Soonyoung yang menyeret 3 kopernya masuk.