“YOYOOOOOO MAN!!!!!!” Seokmin dengan bangga berkeliling lapangan dengan medali emas yang melingkar di lehernya, membanggakan kemenangan kelasnya hari ini.
“Selamat seok” Jihoon yang menyalami seokmin dan pemain lain
“Hehehe makasih yayank uji”
Soonyoung dan teman-temannya yang lain hanya menatap malas ke arah seokmin yang mulai bertingkah lagi.
“Selamat won”
“Thanks bro”
Terus hingga wonwoo yang sekarang berada di depan soonyoung, keduanya hanya terdiam sampai akhirnya jeonghan “katanya tadi mau ngucapin salamat, nyong”
“E-eh i-iya selamat won congrats”
“Oke makasih soonyoung” keduanya tidak bersalaman hanya saling mengangkat kedua telapak tangan seperti orang yang melambaikan tangan saat akan berpisah.
“Ay semangatttt gapapa di kalahin wonwoo, kamu udah keseringan menang ikhlasin aja” sekarang seungcheol sudah bergabung dengan gerombolan kelas wonwoo dan teman-teman jeonghan.
“Iya aku mah sengaja kalah dari wonwoo” kemudian mendapatkan sorakan dari tim basket kelas wonwoo.
“Tungguin aku pulang ya ay, kelar briefing sejam lagi” rangkul jeonghan di lengan seugcheol
“Iya ay gapapa aku mau bilas dulu ini sama ganti baju” Memang terkadang kedua sejoli ini tidak tahu tempat, padahal banyak fakir asmara di sekeliling mereka yang sudah panas mendengar obrolan mereka berdua.
“Eh nyong katanya ojol pada demo ya hari ini? Ga bisa pulang dong lo” lagi-lagi jeonghan asal bicara.
“Ohhhhhh bareng wonwoo aja itu mah” kata seokmin yang langsung menyambar. Wonwoo yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil langsung menoleh dan melihat ke arah soonyoung yang sudah gelisah entah kenapa.
“Eungg gausah gue naik angkot aja” kata soonyoung menghindar
“Mana bisa lewat kak nyong, orang lagi pada demo, angkot pasti di boikot” timpal seungkwan menambah bumbu-bumbu penyedap rasa gurih
“Gapapa sama gue aja soonyoung searah kan” kata wonwoo
“Gue sama jihoon aja, kan kita tetanggaan” soonyoung mati-matian mengulur waktu untuk menepati janjinya berbaikan dengan wonwoo. Padahal sebelumnya juga hubungan mereka memamg sudah mulai membaik, hanya saja teman-teman soonyoung tidak tau.
“Ehh enggak! Orang gue pulang sama jun” sahut jihoon reflek. “Tadi pagi gue di jemput jun, mager bawa motor” padahal jihoon bohong. Hmm..
“Yayank uji kok selingkuh?” Soekmin tiba-tiba menyela yang kemudian di hadiahi tatapan tajam dari Jihoon. Oke. Seokmin diam.
“Udah bubar bubar istirahat, yang pulang hati-hati ya, ekskul basket ngumpul dulu sebentar” seungcheol yang akhirnya menengahi.
“Soonyoung tunggu sebentar ya ntar gue susulin kalo udah kelar sama anak basket”
“Hmm iya” jawab soonyoung lemah tidak bisa lagi mengelak, ada teman-temannya di sana.
“Yuhuhuhu~ bye bye bang nyongi~” Ican dengan menjenggkelkannya melambaikan tangan menjauh.
Setelah 15 menit briefing singkat dengan teman-temannya di ekskul basket, wonwoo berjalan menuju kelas soonyoung. Sebelumnya dia sudah bertanya lewat chat keberadaan soonyoung sekarang.
“Ayo pulang” ajak wonwoo di depan kelas soonyoung. Soonyoung langsung berdiri dan berpamitan dengan Yehana dan Lisa teman sekelasnya yang ada disana.
Sampai di parkiran soonyoung masih berdiri di samping motor wonwoo tanpa berkata apapun.
“Naik, jangan takut gue udah bilas tadi baju juga udah ganti” kata wonwoo
“Siapa juga yang nanya” setelahnya soonyoung naik ke atas motor dan keduanya meninggalkan halaman sekolah mereka.
“Beli es campur dulu yuk gerah banget gue” ajak wonwoo
“Emang lo ga capek? Gue ga enak ini lo kan baru kelar lomba”
“Kan gue yang ngajak santai aja sih ga gue suruh ganti duitnya”
“Ribet banget gue mesti ganti-ganti duit lo lagi”
“Hahahahaha mau ga nih?”
“Hmm yauda”
“Oke meluncur”
Keduanya sampai di warung es campur dekat sekolah mereka, wonwoo lahap meminum es campurnya hingga sudah setengah mangkok
“Haus lo?” Tanya soonyoung yang terheran-heran melihat wonwoo
“Iya haus banget gue tadi di lapangan udah kaya mau teler”
“Lebay lo”
Di balas kekehan kecil wonwoo.
“Soonyoung”
“Hmm”
“Lo masih benci sama gue?”
Soonyoung tiba-tiba menghentikan suapan es campurnya dan menaruhnya kembali di mangkok.
“Gue salah ya nanya gitu?”
“Gue nggak benci sama lo”
“Tapi?”
“Jengkel”
“Kenapa?” “Kalo gue ada salah gue minta maaf tapi gue bener-bener bingung sama sikap lo yang tiba-tiba ga suka sama gue dari kelas 1”
Diam sejenak
“Mungkin lo lupa won bahkan ga inget sama sekali, tapi waktu itu untuk pertama kalinya gue bener-bener kesel sama orang. Kita masih kelas 1 dan dari awal masuk kita sudah dibagi perjurusan IPA, IPS, BAHASA, gue denger percakapan lo sama Daniel. Lo bilang lo nggak level main sama anak IPA, mereka cupu, kutu buku, ga bisa bersosialisasi, baperan, madesu dan lain sebagainya. Gue inget banget kata-kata lo itu, gue sampe gak habis pikir kenapa ada orang yang punya mindset begitu. Padahal kalo lo tau, gue belajar mati-matian waktu ujian masuk sekolah ini biar bisa tembus masuk kelas IPA, tapi apa mau dikata kemampuan gue ga sehebat anak-anak IPA yang lolos, nilai gue lolosnya di IPS. Padahal gue pengen banget jadi dokter atau minimal kerja di dunia kesehatan, tapi mungkin rejeki gue nggak disana” soonyoung menatap wonwoo yang masih mendengarkan penjelasan soonyoung.
Soonyoung kembali melanjutkan “lo kenapa sih begitu? Apa lo nggak mikir gimana perasaan anak IPA kalo misalnya mereka yang denger omongan lo itu? Gue dulu nggak seceria sekarang won, waktu SMP gue cupu kaya yang lo bilang, gue ga pandai bergaul, temen gue cuma satu dua orang doang tapi semenjak masuk SMA dan bisa ikut ekskul dance gue jadi nemu passion gue, jadi semangat, gue jadi tau hidup nggak melulu tentang satu mimpi, denger ucapan lo waktu itu bener-bener bikin hati gue panas” soonyoung menarik napasnya setelah menceritakan seluruh isi hatinya yang dia pendam terhadap wonwoo selama ini, alasan kenapa dia selalu menghindari wonwoo dan tidak menyukainya.
Wonwoo tersenyum kemudian menepuk puncak kepala soonyoung, mengelus pelan sebentar.
“Maafin gue ya soonyoung gue nggak tau kalo lo denger obrolan gue waktu itu. Kalo gue boleh jelasin sebenernya gue ga bermaksud ngeremehin anak IPA, waktu itu gue cuma lagi bercanda sama daniel, dia suka sama Jihoon yang lo tau sendiri dia anak IPA, jihoon nya sendiri ada sama kita bertiga waktu itu kalo lo inget, jadi gue semata-mata cuma bercanda gak bermaksud apa-apa. Dan kalo lo tau gue udah temenan sama jihoon dari SMP, so nggak mungkin gue gak mau temenan sama anak IPA, jelas-jelas hampir tiap hari gue mabar sama jihoon, Soon. Maaf ya kalo perkataann gue waktu itu ngebuat lo tersinggung” wonwoo dengan tenang menjelaskan. Kemudian disambung lagi...
“Lagi pula nggak mungkin gue beneran ngerendahin anak-anak yang suka IPA, orang tua gue dua-duanya dokter” kata wonwoo tersenyum.
Soonyoung yang mendengar langsung melotot.
“Hah? Orang tua lo dokter?”
“Iya”
“Terus kenapa lo masuk IPS?”
“ya gapapa biar keren aja”
“Tuh kan!” Soonyoung kembali bersungut
“HAHAHAHA” “Enggak enggak, gue emang tertarik belajar IPS gue mau ngambil jurusan Hubungan Internasional pas kuliah nanti” jelas wonwoo
“Ohhh~ terus orang tua lo kerja di rumah sakit mana sekarang?”
“Di RS BMC sama Pertamedika Sentul”
“Di bogor?”
“Yep”
“Lah terus ngapain lo sekolah disini? Nanggung amat”
“Gapapa pengen mandiri aja”
“Aneh”
“Sama aja soonyoung, rumah di bogor sepi orang tua gue sibuk kerja yauda gue sekolah di sini aja”
“Lo ngga ada saudara?”
“Ada kakak gue kuliah di jogja”
“Sebatang kara lo disini?”
“Ya enggak lah banyak kali keluarga di jakarta tapi gue ngekos”
“Bener-bener aneh”
Wonwoo kembali tertawa “udah gitu ceritanya, gimana lo masih marah nggak sama gue? Udah di maafin belum guenya?” Tanya wonwoo yang masih ada perasaan mengganjal.
“Hmm iya gue juga minta maaf udah banyak salah pahamnya sama lo”
“Oke jadi sekarang kita bener-bener baikan ya? Lo jangan judes lagi sama gue di sekolah”
“Iya iya ah bawel, lo juga kenapa sih suka banget ngelawanin gue”
“Yee orang gue ngerasa gada salah”
“Tuh tuh liat tuh wonu mulutnya mulai nyelak lagi”
Wonwoo hanya tertawa melihat soonyoung yang seperti itu. Hatinya lega, misi damainya berhasil. Ternyata hanya kesalahpaham yang dibiarkan berlarut-larut saja selama ini.
Dalam hati soonyoung jauh lebih lega. Semudah itu kalau dia mau terbuka dan jujur. Hitung-hitung dia sudah menghapus penyakit hati yang selama ini mengganggu.