Saat turun panggung mereka langsung menyambar minuman isotonik yang di bawa, rasanya lelah namun juga puas semua anggota the Breeze saling berangkulan.
“Kalian keren!” kata soonyoung sedikit emosional, dia bangga dengan teman-temannya yang sudah berjuang 8 bulan terkahir untuk lomba hari ini.
Saat sedang mengambil nafas dan menunggu waktu ISOMA, Minho datang dengan wajah yang panik.
“Nyong !!! sumpah nyong asli baju solo lo nggak ada padahal udah gue cek 2 kali pas tadi pagi” ujar Minho yang masih ngos-ngosan berlari dari arah penyimpanan wardrobe untuk peserta.
“Hahh???” Soonyoung terkejut, jantungnya berdetak bahkan lebih cepat dibanding sebelum naik ke panggung tadi.
Mereka berlarian ke arah ruang wardrobe mencari-cari baju soonyoung yang mungkin terselip saat di keluarkan dari mobil Jun, setengah jam mencari dari halaman parkir, lobi hotel, hingga menulusuri arah masuk ke hall lomba namun tidak menemukan titik terang. Sudah pukul 12.00 tandanya sekarang memasuki paruh waktu untuk ISOMA yang akan dilanjutkan Penampilan Solo peserta, perasaan soonyoung sudah semakin gusar, kostumnya belum kunjung ditemukan. Ia harus apa? Soonyoung berusaha berpikir cepat, bagaimana kalau dia perform dengan baju yang sekarang saja? blazer saja yang dilepas? tidak..tidak..tidak bisa seperti itu, penampilan adalah salah satu point penting untuk penilaiannya, Soonyoung tidak bisa naik ke panggung dengan penampilan yang seadaanya begini, bisa-bisa soonyoung dianggap tidak menghargai perlombaan hari ini. Kepalanya mulai pusing dan tidak fokus, Soonyoung panik.
“Sebentar nyong gue hubungin anak-anak siapa tau masih ada yang di sekolah”
Minho sibuk menghubungi teman-teman di grupchat sekolah yang diikutinya, menghubungi hampir semua kontak yang ada di handphonenya. Minho merasa bersalah, ini adalah tanggung jawabnya sejak awal harusnya hal ini tidak terjadi ditambah melihat wajah soonyoung yang memang masih berusaha tenang namun bisa Minho rasakan Soonyoung sudah mulai panik. Minho tau seberapa penting lomba ini untuk Leader timnya itu, jika sesuatu terjadi karenanya bisa-bisa Minho akan merasa bersalah seumur hidup.
Hal yang sama dilakukan oleh anggota lain, Jun dan Chan sibuk dengan ponsel masing- masing. Sampai akhirnya Chan bersuara “Bang ada Yeri di sekolah meeting Osis!! di bantu cari ke aula”
“Gue ke sekolah aja” kata soonyoung dan langsung membuka aplikasi ojek online motor.
“Biar sama gue aja nyong gue anter” Jun mengambil kunci mobil yang ada dalam tasnya.
“Gak bisa junpi kalo pakai mobil waktunya gak ke kejar tinggal satu jam-an lagi” soonyoung masih sibuk mengorder ojolnya. Benar juga bisa-bisa mereka malah terjebak macet, kalau ingin dibonceng motor oleh jun sebenarnya bisa saja tapi mereka semua tadi pagi berangkat dengan mobil Jun, tidak ada yang membawa motor sama sekali.
Setelah Soonyoung mendapatkan driver ojolnya ia langsung berlari keluar hotel dengan menitipkan balzernya kepada Chan, membuat semua orang khawatir melihat kepergian soonyoung.
Jun tidak bisa tinggal diam saja, dia kemudian memesan ojol motor lain untuk dirinya menyusul soonyoung di ikuti oleh Minho.
Soonyoung sampai di sekolah pukul 12.45, masih ada sedikit waktu, penampilannya di prediksi pukul 13.35 sesuai rundown acara. Soonyoung berlari menuju aula memeriksa seisi ruangan itu, nihil ! Kostumnya tidak ada disitu. Walaupun kemungkinannya kecil soonyoung berusaha mencari ke ruangan kegiatan lain yang biasa dipakai oleh para siswa untuk kegiatan ekskul. Kalau sudah begini satu sekolah pun soonyoung sanggup jika harus mencari.
Berlari ke lantai dua aula untuk ruang musik ternyata yang dituju masih terkunci. 'Bodoh! ini kan hari minggu pasti ruangan lain di kunci' ujar soonyoung dalam hati. Dengan peluh yang membanjiri kening dan hampir seluruh badan soonyoung akhirnya ia kembali ke lantai satu, di bawah sudah ada Jun dan Minho yang baru sampai dengan ojol motor masing-masing.
“Ke ruang OSIS dulu deh tadi gue ketemu daniel katanya mau meeting sekalian kita pinjem kunci ruang lain”
Saat di ruang OSIS memang banyak anggota OSIS yang berkumpul mereka terlihat sedang berada di tengah-tengah pembahasan meeting termasuk Joshua dan Daniel. Otomatis semua mata tertuju pada tiga anggota grup tari sekolahnya yang datang dengan terengah-engah.
“Niel minjem kunci ruang ganti, ruang musik, aula belakang sama kalo bisa boleh ga ngeliat dalam ruangan-ruangan OSIS?” Kata Minho yang masih mengumpulkan nafasnya sisa berlari tadi.
“Boleh sih emang kenapa?” tanya Daniel lagi
“Baju soonyoung ilang, lo liat ngga? yang tadi pagi gue taro di mobil jun”
“hAh?!!! gak ada bro gue terakhir liat masih ada di mobil jun, yang baju putih kan?”
“iya niel”
“yaudah ini lo cari dulu” daniel berdiri dan mengambil rentengan kunci di dinding ruangannya dan memberikan ke Minho.
Kunci semua ruangan tadi Minho berikan lagi ke Soonyoung dan Jun untuk berpencar mencari di ruangan ekskul lain, sedangkan Minho fokus mencari di ruangan OSIS dengan mendapatkan pandangan aneh dari Joshua dan anggota OSIS yang lain.
Seperti sedang dikejar-kejar setan ketiganya mencari hampir ke setiap sudut sekolah, sambil berkomunikasi dengan Chan yang memantau jalannya lomba di Hotel, sekarang sudah masuk ke urutan kedua berarti empat perserta lagi sebelum giliran soonyoung naik panggung.
Semakin panik, rasanya kaki soonyoung mulai kebas berlari ke sana kemari mencari bajunya, sekolah ini luas dan sudah hampir setengah area dikelilingi. Soonyoung ingin menangis tapi ia harus kuat, tidak bisa seperti ini soonyoung tetap harus melanjutkan lombanya walaupun dengan keadaan kacau seperti sekarang, baju yang sudah berkeringat bahkan basah, stamina yang drastis turun dan isi kepala yang tidak fokus. Tidak perduli, soonyoung harus bertahan.
Di ujung lapangan Jun berteriak. “NYONG BAJU LO!” dari ruang ganti di ujung lapangan basket Jun mengibas-ngibaskan satu setel pakaian yang familiar di mata soonyoung. Benar, itu bajunya yang akan di pakai untuk lomba, tanpa panjang lebar Soonyoung kembali berlari ke arah Jun. Kenapa ada di sana? Entahlah.
“Cepat pesan ojol sekarang nanti Minho gue kabarin, lo balik duluan ke hotel sekarang nyong” kata Jun dengan wajah khawatir.
Soonyoung dengan tangannya yang sudah tremor, bergetar karena kelelahan karena berlarian terus sejak tadi mencoba membuka aplikasi ojol di ponselnya kembali, lelah semakin terasa di tambah dirinya yang tidak sempat beristirahat pasca penampilannya bersama the Breeze tadi. Semua rasa lelah yang menjalar disekujur tubuhnya ia kesampingkan dulu untuk sementara, yang penting sekarang ia harus mengejar waktu sebelum namanya di panggil ke atas panggung.
Soonyoung sampai kembali di hotel pukul 13.25 sepuluh menit lagi adalah gilirannya, dibantu Chan ia langsung mengganti kostumnya, membersihkan keringat, dan sedikit memberikan riasan wajah yang tidak seberapa oleh Chan, karena Chan sendiripun kurang mengerti untuk urusan merias wajah. Tidak apa, ini sudah cukup bagi soonyoung. Saat baru menegak satu teguk air mineralnya nama Soonyoung di panggil naik, benar-benar tidak ada waktu beristirahat baginya, semua berlalu dengan cepat. Soonyoung naik dengan keadaan kelelahan, bagaimanapun ia harus tetap melanjurkan lombanya.
Berusaha tenang soonyoung mengikuti irama sentimental dari musik yang di putar, tubuhnya berusaha keras untuk fokus, ini adalah kesempatan emasnya Soonyoung tidak ingin manja, ia harus kuat hingga akhir. Kalau saja boleh jujur dalam hitungan menit bisa saja ia ambruk di atas panggung saking kelelahannya tapi bukan Soonyoung namanya kalau harus menyerah. Dengan peluh yang terus bercucuran Soonyoung mencurahkan perasaannya dalam setiap gerakannya. Beberapa gerakan soonyoung terlihat tidak sesuai tempo walaupun di mata orang awam hal itu tidak terlihat, berbeda dengan juri hal-hal kecil itu menjadi concern untuk penilaian.
Di antara kerumunan penonton, ada satu orang yang sejak tadi memperhatikan dengan bangga penampilan soonyoung tanpa memberikan kabar sebelumnya. Sejak awal lomba di mulai Wonwoo sudah ada di kursi penonton, dirinya benar-benar kagum dengan penampilan mantan musuhnya itu. Tidak salah, Soonyoung memang punya daya tariknya sendiri dan itu sudah mengganggu hati dan pikiran wonwoo dalam 2 bulan terkahir. Soonyoung membuatnya jatuh hati.
Saat penampilan soonyoung selesai di tandai dengan riuh tepuk tangan penonton, Wonwoo bangkit dari kursinya dan berjalan mengarah ke belakang panggung. Wonwoo ingin memberikan kejutan untuk kerja keras soonyoung, ia mau soonyoung tahu dirinya hadir untuk memberikan dukungan.
Saat soonyoung turun dari panggung kakinya terasa lemas, pandangannya mengabur, kepalanya diserang sakit yang begitu tajam dan akhirnya tubuh soonyoung menyerah di tangga terakhir belakang panggung, soonyoung jatuh ke lantai bertepatan dengan wonwoo yang sampai di sana, otomatis wonwoo berlari menghampiri soonyoung menarik tubuhnya dalam pelukan wonwoo. Di lantai yang dingin itu soonyoung melihat wajah khawatir wonwoo, merasakan hangat tubuhnya dalam dekapan sang pria, soonyoung terisak dalam pelukan itu.
“Wonu........aku capek....” Setelahnya pandangan soonyoung hitam dan gelap. Suara terakhir yang soonyoung dengar adalah teriakan Chan memanggil namanya.