KELUARGA


Pukul 19.30 Sunoo putra pertama Soonyoung dan Wonwoo sudah berada di rumah, menempatkan kepala dengan rambut hitam lebatnya di paha Soonyoung sambil bermain nintendo hadiah ulang tahun ke limabelasnya dari Wonwoo tahun lalu.

Soonyoung sendiri duduk dengan santai di sofa keluarga sambil menemani anak sulungnya itu, memberikan afeksi-afeksi lembut untuk si Kakak. Soonyoung sadar betul anak laki-lakinya ini belakangan semakin manja apalagi selama masa kehamilannya. Disadari atau tidak oleh Sunoo sebenarnya benar muncul rasa cemburu dihati karena perhatian kedua orang tuanya yang selalu penuh untuk dirinya kini terbagi.

Soonyoung tidak ingin anaknya merasa bahwa kasih sayang kedua orangnya terbagi, bagi Soonyoung semua sama. Kakak ataupun adek akan mendapatkan kasih sayang yang sama-sama berlimpah dari Soonyoung dan Wonwoo. Hal itu selalu menjadi janji Soonyoung dalam setiap obrolan malamnya bersama Wonwoo sebelum tidur. Raga dan hatinya hanya untuk ketiga orang ini, akan hancur perasaan Soonyoung jikalau salah satu dari mereka tersakiti, Soonyoung bahkan rela menukar hidupnya agar Ayah, Kakak dan Adek bisa hidup bahagia di dunia ini. Akan Soonyoung lakukan bahkan jika Tuhan miminta nyawanya sekalipun.

Suara mesin mobil terdengar dari arah depan rumah mereka, menandakan kedatangan sang Ayah. Akhir-akhir ini Wonwoo memang disibukkan dengan penggabungan cabang tempatnya menjabat, satu cabang kecil dimerger dengan cabang Wonwoo sehingga banyak tugas yang harus dilakukan, terlebih penggabungan dua cabang berarti Wonwoo akan mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Wonwoo masuk rumah dengan wajah kusut khas orang yang baru saja melewati hari panjangnya di kantor hingga malam hari. Namun, rasa lelah menguap diudara setelah melihat kedua belahan jiwanya sedang bercanda di ruang keluarga dengan semangkuk buah mangga di pangkuan Soonyoung. Ah, tunggu dulu...bukan dua orang tapi tiga. Ada si calon anak bungsu di dalam perut Soonyoung yang dalam hitungan minggu lagi akan lahir kedua ini. Hanya satu doa Wonwoo, semoga Soonyoung dan adek akan selalu kuat melawatinya, mereka diberikan kesehatan dan keselamatan mendekati hari krusialnya nanti.

Wonwoo yang masih memegang jas yang sudah terlepas dari badannya dan di sampirkan di lengan kirinya berjalan mendekati Soonyoung yang memberikan senyum paling indah di dunia. Soonyoung tidak berdiri menyambut kedatangan Wonwoo karena si anak sulung yang tidak membiarkannya berpindah posisi se-inci-pun dan Wonwoo paham akan hal itu.

Satu kecupan lembut mendarat di bibir Soonyoung dan elusan tangan besar sang suami di perut buncitnya membuat hatinya menghangat.

“Capek yah?” tanya Soonyoung saat Wonwoo melepas ciuman singkat mereka.

“Lumayan bikin kepala mendidih” ujar Wonwoo sambil mengangkat kepala anaknya yang dari tadi sibuk bermain game hingga terduduk dengan wajah masamnya. “Gantian kak, ayah capek” Wonwoo dengan semena-mena menggeser tempat duduk anaknya di samping Soonyoung dan meletakkan kepalanya di paha Soonyoung, posisi yang sama seperti Sunoo barusan.

“AYAAAAHH IHHH PENJAJAHAN!!” Sunoo yang tergusur dari sisi papanya kini bersungut kesal di atas lantai.

“Kamu udah seharian sama papa kak”

“aku baru pulangggg lohhh yaaahhh dari jalaaaan”

“Ya siapa suruh jalan-jalan”

Sunoo sudah siap menerjang ayahnya yang berbaring di sopa di dalam pangkuan Soonyoung, namun dengan cepat Soonyoung menarik tangan anaknya itu.

“Kak...kak...sini kak” Soonyoung menepuk-nepuk paha sebelah kirinya yang tidak di kuasai Wonwoo untuk mengajak si sulung mendekat, memberikan posisi yang sama di kiri dan kanannya.

Saat ini posisi Soonyoung sudah di kuasi oleh kedua jagoannya, tangan kiri yang mengelus lembut dada sang anak tertua dan tangan kanan yang menyisir rambut sang suami. Sentuhan Soonyoung adalah napas bagi Sunoo dan Wonwoo, tanpa Soonyoung entah apakah bisa mereka sebahagia ini, pun untuk Soonyoung.. bahagia Wonwoo dan Sunoo adalah bahagianya dan kebahagian itu akan semakin lengkap dengan satu titipan Tuhan yang masih betah memeluk raganya di dalam perut besar Soonyoung yang sesekali menendang kecil menyampaikan pesannya bahwa ia ada bersama mereka.

Tidak banyak pinta Soonyoung kepada Tuhan, selalu berikan hari-hari bahagia seperti ini di keluarganya adalah lebih dari cukup. Terkadang memang Soonyoung akan dibuat pusing dengan pertengkaran kecil sang anak dan suami, namun hal itu tidak akan berlangsung lama karena setelahnya keduanya akan duduk berhadapan di meja makan menyantap ice cream tiga rasa favorite Sunoo sambil bertukar cerita tentang club sepak bola jagoan mereka atau membahas seri-seri terbaru game FIFA. Keduanya akan tenggelam dengan obrolan khas anak laki-laki dan ayahnya. Pemandangan itu yang selalu ingin Soonyoung lihat di rumahnya, kehangatan yang meyelimuti keluarga kecilnya.