RUMAH SAKIT
Keluarga kecil Wonwoo sampai di Rumah Sakit pukul 9.30 pagi dan langsung menuju Poli kandungan tempat biasa Soonyoung kunjungi, lorong dan ruangan-ruangan yang dilewati sudah sangat familiar bagi keduanya karena hampir setiap minggu kedua pasangan itu datang. Namun, tidak bagi Sunoo walaupun sudah pernah kesini namun si sulung belum hapal benar lingkungan rumah sakit ini, sehingga saat melewati kantin yang berbatasan dengan kaca besar di ujung lorong matanya langsung bersinar terang.
“Ayah, beli susu yuk”
“Baru juga nyampe kak” ujar Wonwoo melirik sang anak.
“Yaudah aku beli sendiri”
“Beliin air mineral sekalian buat papa” Wonwoo mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah dari dompet kulit mahalnya untuk Sunoo.
“Ayah gak mau? cola? coffe?”
“Cola deh”
“Hmmm katanya biri jigi nyimpiiiii” Tidak, Sunoo tidak mengatakan itu di depan ayahnya, mana berani. Cih.
Si sulung langsung berbalik menuju kantin membeli beberapa minuman untuknya dan kedua orang tuanya, juga snack ringan untuk dimakan selama mengantri nanti.
15 menit mengantri nama Soonyoung dipanggil, ketiganya masuk ke ruangan dokter Kim yang di sambung senyuman hangat dokter itu.
“Wah formasi lengkap ya” ujar dr. Kim menyambut keluarga Soonyoung .
“Iya nih dok si kakak mau tengok adeknya lagi” balas Soonyoung sambil mengusap pucuk kepala sang anak.
Saat Soonyoung hendak duduk Sunoo dengan sigap menarik kursi di depan meja dr. Kim agar papanya bisa dengan mudah duduk disana. Melihat itu hati Wonwoo menghangat, bangga melihat sikap manis anak laki-lakinya itu.
Ada dua kursi yang tersedia di sana, biasanya Wonwoo akan duduk berdampingan dengan Soonyoung namun kali ini ia menahan pundak anaknya, membuat Sunoo duduk di samping Soonyoung dan Wonwoo sendiri berdiri di belakang Sunoo memegang pundak sang anak.
“Gapapa atuh yah, aku kan ga ngerti..ayah aja yg duduk”
“Udah, kakak perhatiin aja kata dr. Kim biar nanti juga tau keadaan adek”
Soonyoug tersenyum melihat interaksi kedua jagoannya itu. Hari yang indah.
Hari ini Soonyoung mengkonsultasikan tentang kondisi yang dirasakannya beberapa hari terakhir ini seperti Soonyoung yang lebih sering sakit pinggang, kontraksi yang bisa terjadi hingga sepuluh kali dalam sehari hingga perut bagian bawahnya yang semakin sakit.
“Hal itu tidak perlu dikhawatirkan ya, Pak. Karena memang usia kandungan 35 sampai dengan 36 minggu kondisi seperti itu akan terus terjadi karena bayi di dalam kandungan Pak Soonyoung sudah semakin membesar, tulang-tulangnya pun cepat berkembang pada usia kehamilan seperti sekarang. Bayi pun sudah mulai bergerak menuju posisi bawah karena waktu kelahirnya yang sudah mulai dekat. Apa sekarang lebih sering buang air kecil?”
“Iya dok sering banget kadang sampe pegel bolak-balik, takut kepeleset”
“Tidak apa-apa itu wajar saja Pak Soonyoung, kepala bayi menekan panggul karena pergerakannya sehingga meningkatkan rasa ingin buang air kecil terus menerus. Gimana kalau kita mulai USG saja biar kelihatan petualangan si adek?” dengan sabar dr. Kim menjelaskan sambil sesekali bercanda.
Dibantu Wonwoo, Soonyoung berjalan pelan menuju kasur yang sama saat ia dulu memeriksakan kandungannya pertama kali. Sunoo mengikuti di belakang memperhatikan seluruh proses persiapan USG papanya. Bukan kali pertama bagi Sunoo tapi rasanya masih saja takjub, adik kecilnya bisa dilihat dari layar hitam putih itu.
“Nah itu kepalanya sudah di bawah kan, aman Pak Soonyoung jadi bulan depan siap-siap saja ya. Jangan lakukan aktifitas yang berat dulu” ujar dr. Kim.
“Wih adek koprol ya? Salto gitu kepalanya di bawah?” Sunoo tidak sengaja keceplosan saking fokusnya memperhatikan layar monitor USG.
“Hahahaha iya kak Sunoo tapi adeknya cewek jangan di ajakin salto juga kalau sudah lahir ya” Ujar dr. Kim yang terhibur akan kehadiran anak dari pasangan Wonwoo dan Soonyoung.
“Hehe iya dok” jawab Sunoo.
Wonwoo hanya menggeleng di samping Soonyoung.
.
.
.
.
.
Setelah selesai dari sesi kosultasi dengan dr. Kim, ketiganya berpamitan pulang dan langsung menuju pusat perbelanjaan tak jauh dari RS untuk membeli beberapa perlengkapan si cabang bayi yang masih kurang, diiringan suara nyanyian Sunoo di kursi belakang mengalahkan suara penyiar radio Prambors yang sedang melakukan interview dengan Raisa.