PIZZA
Wonwoo sudah berada di atas kasurnya setelah videocall dadakan oleh si anak sulung barusan, riuh kamar hotel oleh rengekan Sunoo dari seberang telepon merupakan hiburan melegakan untuk Wonwoo, hatinya tenang kalau sudah begitu. Baginya Sunoo yang merengek adalah Sunoo yang normal seperti biasa, ia justru khawatir jika anak laki-lakinya itu tidak ada protes, merengek, mengomel apalagi sampai tidak ada kabar dalam sehari.
Dipojok kamar ada Soonyoung yang sedang duduk bersila dengan perut besarnya di atas sofa, sibuk memilih-milih menu makanan di aplikasi ojek online yang ada di hp Wonwoo. Sesekali bibirnya dikerucutkan, ciri khas papa muda ini jika sedang berfikir.
“Big box enak kali ya? Bisa icip-icip yang lain” katanya bergumam kecil. Sekarang sudah pukul 22.25 namun napsu makan Soonyoung tidak bisa dibendung barang sebentar, padahal tadi dirinya sudah menghabiskan 1 paket panas spesial di McD, 2 cup besar Karagekun dan satu Green Tea Cream Frappuccino ukuran ventie tapi tetap saja, bawaan si jabang bayi membuatnya terus-terusan merasa lapar.
Setelah 20 menit menunggu akhirnya yang dipesan datang juga, 1 box besar sudah di tangan Soonyoung dengan senyum mengembang. Papa anak satu itu membuka kotaknya sambil bersenandung kecil, gigitan pertama mendarat lembut dilidahnya, balutan keju dan taburan daging di atas roti gempeng khas negara Italia itu benar-benar membuat moodnya naik. Soonyoung makan sendiri dengan khidmat di ruang sunyi itu. Sang suami sudah terlihat tertidur di atas kasurnya menggulung badan atletisnya dengan selimut tebal hotel berbintang, tidak masalah bagi Soonyoung ditinggal tidur, karena 18 tahun membina rumah tangga dengan Wonwoo hal kecil semacam itu tidak penting lagi untuk diperdebatkan. Lebih baik ia menghabiskan pizzanya sebelum Wonwoo terbangun dan ikut-ikutan makanannya.
Tidak mau, Soonyoung mau egois dulu.
Tapi, nasib berkata lain 10 menit mengunyah tanpa gangguan tiba-tiba Wonwoo bangun dan langsung menghampiri Soonyoung, mengecup ringan leher sang suami yang tengah asik menikmati pizzanya.
“Kok bangun sih yah?”
“Gimana enggak, harumnya kemana-mana” jawab Wonwoo sambil mengambil 1 potong pizza di pangkuan Soonyoung. Tuh kan!
Di atas sofa Soonyoung duduk bersila, menyamping membelakangi Wonwoo. Sedangkan Wonwoo sendiri duduk bersandar di sofa dengan tangan yang melingkar di pinggang Soonyoung, mengelus-elus perut buncitnya.
Sudah hampir setengah isi kotak besar itu habis namun Soonyoung belum ada tanda-tanda berhenti untuk mengunyah.
“Mau sosis yang” ujar Wonwoo di belakangnya.
“Nih..” Soonyoung menyotorkan satu potong sosis.
“dari mulut kamu”
“hah?!” Soonyoung kaget. Ngelindur kali suaminya ini.
“Suapin dari mulut kamu”
Astaga......
“Ribet ah yah nih makan sendiri Aaaaaa.... ” Soonyoung kembali menyuapkan sosis tadi dengan tangannya.
Wonwoo hanya diam menatap Soonyoung tanpa membuka mulutnya. Oke, Soonyoung tau tatapan itu.
Waspada.
Mendenguskan napasnya, Soonyoung menggigit sosis tadi dan duduk memutar ke hadapan Wonwoo.
“Hngg..” Gumam Soonyoung memajukan mulutnya agar Wonwoo bisa cepat mengambil sosis itu.
Bukannya langsung melahap sosis yang Soonyoung berikan, Wonwoo malah kembali mengecup leher Soonyoung. Kali ini sedikit lebih lama dan ada hisapan dari bibir Wonwoo.
“Eungh...” tiba-tiba suara nakal itu keluar dari mulut Soonyoung yang masih menggigit sosis tadi.
Mendengarnya Wonwoo tersenyum di ceruk leher Soonyoung, bahkan senyuman itu bisa dirasakan oleh si pemilik leher karena bibir sang suami masih menempel di sana. Menyudahinya, Wonwoo memberikan jilatan kecil dibekas hisapannya tadi membuat jantung Soonyoung seperti terbang ke langit ke tujuh.
Wonwoo langsung menyambut sosis yang dari tadi masih di mulut Soonyoung, pertemuan kedua bibir pasangan itu tidak bisa dihindarkan, tidak melewatkan kesempatan Wonwoo juga masih sempat menarik bibir bawah Soonyoung dengan giginya, sedikit mengemut bibir kenyal itu saat mengambil sosisnya. Tidak langsung menjauh Wonwoo malah mengunyah sosis itu dihadapan wajah Soonyoung yang hanya terpisah jarak 2 cm saja, sangat dekat hingga Soonyoung masih bisa mendengar deru napas suaminya yang saat ini menatap tajam wajahnya dengan mulut yang masih mengunyah.
.
.
.
Sexy.
.
.
. Menurut Soonyoung.
Malam itu mereka habiskan waktu bersama di kamar hotel di atas kasur super besar dengan Soonyoung yang menyangga tubuhnya di atas pangkuan Wonwoo, tangan yang bertumpu di dada bidang sang suami, menuntaskan tanggung jawabnya dengan peluh keringat yang menjadi satu, hentakan tajam Wonwoo di dalam Soonyoung., helaan nafas yang saling memburu dan nikmat penyatuan dua raga di bawah lampu temaram.