“Kenapa yang?” tanya Soonyoung iseng pada Wonwoo yang terlihat gugup.

“Gapapa haus aja”

Tapi Soonyoung tahu jelas pacarnya itu sedang gugup sebelum penampilannya dipanggung nanti. Wonwoo memang sudah biasa menghadapi pertandingan besar namun itu pertandingan Basket dilapangan luas bukan penampilan dance group diatas panggung terang dengan lampu warna-warni yang menyorot pada presensinya.

Mengusap lembut lengan sang kekasih, Soonyoung berharap afeksinya bisa menenangkan perasaan Wonwoo. Tidak salah, perlahan rasa gugup Wonwoo sekarang berkurang, emotional support Wonwoo ternyata bukan dari Seokmin yang mau menemaninya dalam rencana Soonyoung ini, tapi si pencetus ide inilah yang malah secara tidak diduga-duga menjadi supporter paling hebat buat Wonwoo.

Mereka berlima sudah bersiap di samping panggung dikelilingi oleh beberapa panitia OSIS yang lain, bahkan Mingyu dan Minghao juga ada disana, jangan lupakan Jun dan Jihoon yang sedari tadi menertawakan Wonwoo karena masih tidak percaya teman super cool mereka sebentar lagi akan naik ke atas panggung untuk bernyanyi dan menari, terlebih Jihoon yang sudah mengenal Wonwoo sejak SMP. Kejadian hari ini adalah sebuah moment langka dan bersejarah.


Seungcheol dan Jeonghan duduk rapih di kursi penonton bersama siswa kelas 3 lainnya dan para guru, penampilan yang mereka tunggu akhirnya tiba. Tidak bisa menahan senyum lebarnya Seungcheol menatap panggung melihat 2 rekan satu timnya sedang menampilkan sebuah lagu dengan format boyband. Benar-benar diluar ekspektasi, Wonwoo si wajah datar bisa menari seluwes itu. Kedua pasangan itu terkagum-kagum melihat penampilan adik tingkat sekaligus sahabat mereka.

“Sayaaaaaaaaaang wonuuuuuuu” setelah penampilan mereka selesai Soonyoung langsung menghambur ke pelukan Wonwoo tidak peduli mendapat lirikan dari siswa lain di samping panggung. Seungkwan dan yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

Tidak malu, Wonwoo dengan senang membalas pelukan Soonyoung bahkan mengangkat sedikit tubuh pacar gembulnya itu. “Makasih ya Wonu” ujar Soonyoung masih memeluk Wonwoo menggoyang-goyangkan tubuh mereka berdua ke kiri dan kanan.

“Iya sama-sama sayang” Wonwoo tersenyum mencium tipis pipi gembul pacarnya.

“HOY HOYYY HOYYY INGAT TEMPAT” itu Seokmin yang hampir tersedak air mineral saat melihat aksi Wonwoo barusan. Yang ditegur hanya tertawa-tawa saja.

Pukul 21.05 setelah selesai acara mereka semua berkumpul di luar. Soonyoung, Wonwoo, Jun, Seungkwan, Hansol, Jihoon, Seokmin, Chan, Mingyu dan Minghao duduk di pinggiran lapangan basket. Sebagian mengobrol, sebagian lagi lebih banyak menggoda penampilan epic Wonwoo tadi. Suasananya sangat hangat dan menyenangkan. Seungcheol dan Jeonghan juga tak lama ikut bergabung dengan mereka, kedua pasangan itu datang bergandengan tangan dari arah pintu aula besar di ujung sana, ikut duduk di lantai lapangan yang dilapis semen keras bersama kesepuluh teman sekolahnya.

Seokmin yang mengawali, berbaring ke tengah lapangan meluruskan kakinya yang masih terasa kebas setelah menari, menatap langit gelap Tangerang yang dihiasi beberapa bintang kecil.

“Hah~ adem ~” ujar Seokmin merentangkan tangannya. Melihat itu yang lainpun mengikuti, mereka semua berbaring di atas lantai kasar lapangan basket sekolah mereka menikmati angin malam yang terasa lebih sejuk dari biasanya.

“Lo inget ngga Seok dulu pernah kejengkal di bawah ring situ?” Ujar Mingyu menunjuk arah ring basket di sebelah kanan mereka, masih berbaring sambil tergelak geli mengingat kejadian setahun yang lalu saat Seokmin tersandung kakinya sendiri saat latihan basket, alhasil hidung mancung Seokmin patah dan harus di operasi.

“Sakit banget njirr untung ada Bang Cheol bawa mobil kalo kaga bisa meninggal gue” ujar Seokmin mendramatisir.

“Lebay lo! idung masih jauh dari jantung juga” sahut Minghao. Yang lain tertawa dengan balasan realistis Minghao.

“Yang paling ngga nyangka tuh yang di ujung sono noh” ujar Ican menunjuk dua pasangan yang berbaring bersebelahan paling ujung dari barisan mereka. Soonyoung dan Wonwoo.

“Pernah dulu Wonwoo ngebanting sepatu basketnya gara-gara diamuk Soonyoung perkara keranjang tempat bola basket ilang, bodor banget” sambung Seungcheol lagi sambil tertawa mengingat pertengakaran Wonwoo Soonyoung yang hampir setiap hari terjadi, waktu itu Wonwoo ingin mengambil keranjang tempat bola basket yang biasa di taruh di dalam aula tempat Soonyoung latihan dance namun hari itu keranjang basket tiba-tiba menghilang padahal Wonwoo yakin orang pertama yang datang ke lapangan adalah dirinya dan satu-satunya yang ada di dalam aula adalah Soonyoung, tidak mungkin keranjang bola basket menghilang begitu saja. Soonyoung yang ditanya oleh Wonwoo pun hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya acuh, merasa tak dihiraukan Wonwoo sempat tersulut emosi “ nggak punya mulut ya lo? ditanya kok kaya orang bisu” ujar Wonwoo. Soonyoung berbalik “Gue nggak peduli? LO JAGA MULUT LO YA!!!” balas Soonyoung dan menghilang keluar aula. Seungcheol yang sesaat menyusul Wonwoo terkejut melihat adik tingkatnya dengan marah membanting sepatu basket mahal miliknya ke lantai dengan keras “ ANJING!”, singkat cerita kejadian itu adalah kesalahpahaman lain diantara kedua orang tersebut. Keranjang basket sudah diambil Mingyu yang ternyata sudah lebih dulu datang di lapangan karena si tinggi bongsor bolos kelas terakhir.

“padahal gue yang ambil wkwkwkwk” sahut Mingyu.

Soonyoung yang akhirnya tahu penyebabnya langsung bangkit dan duduk menatap tajam ke arah Mingyu “ emang kampret ya lo, gue sampe di tuduh wonu ngambil keranjang basket. Buat apaan coba!” kata Soonyoung sewot. Lagi-lagi gelak tawa terdengar dari para muda-muda yang menonton tingkah gemas teman sekolahnya itu. Soonyoung yang sudah siap-siap berdiri menghampiri Mingyu ditarik Wonwoo lagi, kini si gemas berbaring di lengan Wonwoo masih di atas lantai semen lapangan basket.

“Untung ada pawangnya” ujar Jihoon lagi kepada Jun yang ada di sebelahnya.

Beberapa siswa masih ada di sekolah lalu lalang bersiap pulang atau sibuk membereskan sisa acara.

“KAK SHUA!” Panggil Soonyoung tiba-tiba melihat Joshua yang lewat dipinggir lapangan membawa satu kotak berisi beberapa mic yang dipakai pada acara barusan. Otomatis yang dipanggil menoleh tidak nyaman apalagi melihat tatapan tidak senang dari teman-teman Soonyoung.

“Sini kakkk” panggil Soonyoung, entah apakah Soonyoung terlalu baik atau terlalu naif tapi sapaannya pada Joshua tadi terlihat tulus.

“Iya soonyoung?”

“Sini gabung rebahan istirahat dulu”

“Eh nggak usah gapapa kok”

Soonyoung langsung berdiri menarik Joshua, menduduknya di sampingnya.

“Rebahan kak releks hehehehe, Seok geser sono lo” ujar Soonyoung lagi

Jadi sekarang posisi dari ujung adalah Wonwoo – Soonyoung – Joshua – Seokmin.

Merasa suasana yang mulai berubah Jeonghan bersuara “Sori ye shua gua lagi males bantu-bantu enak rebahan”

“Iya han gapapa gue juga pencitraan doang bawa kotak mic padahal juga capek” jawab Joshua jujur menanggapi candaan sarkas ala Jeonghan.

“Dasar anjing hahahaha” tawa Jeonghan membawa suana menyenangkan lagi, suasana kembali nyaman. Joshua ikut bergabung memandang langit luas. Bersyukur masih banyak orang-orang baik yang masih mau menerimanya setelah perilaku buruknya lalu, terlebih Soonyoung yang dengan lapang dada memaafkannya.

“Makasih ya Soonyoung.. Wonwoo.. maafin gue” kata Joshua lagi.

“Iya” jawab Wonwoo singkat. Soonyoung yang mendengar itupun tersenyum simpul memandang wajah sang pacar yang juga dibalas senyuman oleh si pemilik mata rubah. Lega rasanya untuk Soonyoung, berdamai lebih indah, bukan?

Di sisa malam, ketigabelas pemuda itu menghabiskan waktu mereka untuk bertukar cerita, menuliskan di lembar kosong cerita masa muda mereka yang akan terkenang hingga hari tua.