NEW DAY?

Soonyoung berjalan gontai keluar kamarnya, merasakan sendi-sendi tulang yang terasa ngilu dihampir seluruh bagian. Perutnya lapar dan tenggerokannya haus, karena terakhir kali Soonyoung makan adalah kemarin siang di kantin kampusnya, setelah itu hal paling tidak terduga terjadi. Seingat Soonyoung itu pukul 17.34 saat dirinya merangkak di atas pangkuan Wonwoo, merasakan pening di kapalanya akibat sentuhan-sentuhan kupu-kupu yang mendarat di kulitnya sore itu. Setelahnya, Soonyoung tidak ingat bagaimana pada akhirnya ia bisa terbangun di kamarnya dan melewatkan waktu makan malam. Selelah itukah?

Langkah kakinya sempat berhenti ketika melihat punggung Wonwoo, pemilik apartement itu sedang duduk membelakanginya, tercium aroma kopi yang biasa Wonwoo minum menyeruak di sekeliling Soonyoung.

“Kenapa melamun? Sini sarapan” Wonwoo tiba-tiba bersuara tanpa membalikan tubuhnya ke belakang.

Soonyoung sedikit terkejut, pikirnya Wonwoo tidak akan sadar akan kedatangannya.

“Pagi pak” sapa Soonyoung sambil menarik kursi di depan Wonwoo.

“Pagi, mau kopi?”

Soonyoung menggeleng “air putih aja” katanya pelan.

Wonwoo menuangkan satu gelas air putih yang ada di atas meja dan di geser ke hadapan Soonyoung.

“Makasih pak” ucap Soonyoung masih sangat pelan, kepalanya tertunduk menatap pahanya, belum juga meraih gelas kaca yang sepertiganya terisi air putih.

“Minum” perintah Wonwoo.

Kemudian Soonyoung mengambili gelas itu, menegak isinya hingga setengah.

“Umm...pak...buat yang tadi malam-..”

“Nanti aja kita bahas, kamu sarapan dulu. Semalam nggak makan kan?”

“uh..iya sih tapi bapak nggak pengen nanya-nanya?” kata Soonyoung lagi sedikit menatap mata Wonwoo, yang di tatap malah menatap balik dengan tajam dan intense.

“Pengen, tapi nanti. Saya nggak mau denger penjelasan orang yang kelaparan karena jawabannya pasti ngelantur” “Kamu sarapan dulu, saya buat sup ayam masih panas di dapur kamu ambil sendiri”

“huh?” dia sempat memasak? sepagi ini? Soonyoung bingung, biasanya menu sarapan Wonwoo terbilang simple seperti sandwhich, pasta, roti bakar atau bacon. Namun, pagi ini kenapa Wonwoo membuat makanan berat? dan -eh, ini sudah jam 8.25 kenapa Wonwoo masih dirumah??? apa dia tidak masuk kerja?

“Makan Soonyoung. Sarapan” ujar Wonwoo lagi.

Lagi-lagi Wonwoo membuyarkan lamunannya.

“E-eh iya pak, tapi bapak kenapa nggak kerja?”

“Saya cuti”

“Bapak sakit?”

“Enggak. Saya kecapekan-”

hening

”-Gara-gara kamu” Kata Wonwoo jelas.

Kicep.

Otot-otot Soonyoung serasa menegang tak tahu harus membalas apa.

“Cepat berdiri jangan melamun terus”

“i-iya pak”

Setelahnya Soonyoung berdiri menuju dapur, mengambil satu mangkuk dan satu sendok. Mengambil satu centong nasi dari rice cooker dan beberapa potong ayam dari panci sup Wonwoo. Wangi sekali membuat perut Soonyoung semakin ribut.

Memegang mangkung sup dengan kedua tangannya, Soonyoung kembali ke meja makan. Dia pikir Wonwoo akan kembali ke kamarnya, tapi ternyata si pemilik apartment itu masih saja duduk disana sambil mengutak-atik telepon pintarnya. Hmm, lenyap sudah sarapan paginya yang tenang. Soonyoung harus sarapan dengan degup jantung yang terus-terusan berdetak dengan kencang.

“Bapak nggak sarapan?” Tanya Soonyoung sebelum menyantap suapan pertamanya.

“Sudah”

“Oh...saya makan ya pak”

Wonwoo hanya menjawab dengan anggukan kemudian hening lagi. Hanya ada bunyi sendok Soonyoung yang sesekali beradu dengan mangkuk supnya.

.

.

.

.

“Hari ini kamu kuliah jam berapa?” tanya Wonwoo disela-sela keheningan. Padahal jika diingat-ingat kemarin malam apartment ini dipenuhi peraduan suara desahan mereka, suara bercinta yang bisa terdengar dari seluruh penjuru ruangan.

“Kalau hari Rabu saya gak ada mata kuliah pak. Libur''

“Berarti bisa ikut saya ngopi keluar”

“Gimana pak?”

“Temani saya ngopi sekalian kita makan siang di luar”

“O-oh oke pak” Ini dia, Wonwoo pasti akan menanyakan semua pertanyaannya saat makan siang nanti. Tidak apa-apa setidaknya Soonyoung masih ada rentang waktu untuk menyiapkan jawabnnya.