Elegi
“Kakak” kata Soonyoung waktu turun dari mobil hatchback hitam punya saudara kembarnya. Wajah senang sumringah dengan senyum lebar sampai rasanya yang lihat bisa ikutan senyum juga.
Yang dipanggil sempat bengong dan sedetik kemudian mengumpat disebelah telinga Chan “anjing mau ciuman” seketika ngebuat si paling kecil di grup itu mendecih “TMI bang”.
Yang satu juga nggak kalah kaget ngeliat si kembar yang lebih muda keluar dari pintu kemudi, setelah kaos putih, snap back yang di pasang santai terbalik di kepalanya dan tas selempang yang tidak terlihat terlalu berat.
“Mingkem bang” kata yang paling mudah lagi.
“Cakep banget, Chan. Nggak ngotak” katanya Seokmin yang bikin Wonwoo juga akhirnya berkedip.
Gak sadar kedua cowok dewasa itu barusan seperti dihipotis sama dua anak SMA yang mukanya gak beda jauh.
“Dek...” katanya Wonwoo waktu ngeliat Soonyoung udah ada di depannya, senyum belum juga luntur.
“Kakak wangi banget” katanya si Adek.
Mau mapus Wonwoo rasanya, ingin menghantamkan kepalan tangannya ke tembok cream bengkel Seokmin saking gemasnya.
Tuhan tolong bantu hambamu batin Wonwoo pada Tuhan supaya bisa menahan dirinya untuk tetap bersikap normal di depan si pujaan hati.
“Iya, kan mau pergi'” akhirnya.
Si gemay cuma mengangguk kemudian meberikan salam sama Seokmin yang sampai sekarang masih belum sadar dengan lamunannya, menatap Hoshi yang mulai risih.
“Woy” katanya Hoshi.
“Eh cuy” balas Seokmin.
“Napa lo?”
“Kagak napa-napa” padahal semesta juga udah tau kalau Seokmin lagi jatuh cinta sedalam palung laut.
Nggak ada yang spesial kaya tatapan si gemay dan balasan senyum dari Wonwoo, soalnya Hoshi langsung pergi nyusul Soonyoung yang tadi di bawa Wonwoo ke dalam rumah Seokmin yang tempatnya bersebelahan dengan bengkel miliknya.