Menikah
Soonyoung menggenggam tangan Jeonghan dengan kuat, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sejak hampir setengah bulan ini dilanda kecemasan.
Hatinya berbunga namun pikirannya larut dibawa kalut yang entah mengapa selalu berkumul di kepalanya bahkan hingga hari ini. Hari dimana janjinya akan diikat di hadapan Tuhan.
Soonyoung tidak ragu akan sosok yang akan ia nikahi, ia hanya...
takut
...takut mengacaukan acaranya sendiri, takut mengecewakan keluarga Wonwoo, takut mengecewakan teman-temannya dan takut akan ekspektasi orang banyak.
“Jangan khawatir, nyong” ucap Jeonghan mengelus punggung tangan Soonyoung.
“Kak, peluk dong” pintanya.
Sebelum sempat Jeonghan memeluk Soonyoung, Seungkwan dan Mingyu sudah datang menyerobot mereka merangkul kedua sahabat mereka dan keempatnya pun berakhir saling memeluk dalam dekapan yang sangat besar bahkan si calon mempelai nyaris tergencat oleh pelukan sahabat-sahabatnya sendiri. Namun, bagi siapapun yang ada di sana dan melihat itu, hanya akan ada bahagia yang menyelimuti mereka.
Pelukan itu membawa ketenangan bagi Soonyoung. Energi yang ia terima dari sahabat-sahabatnya memberikan energi positif. Iya yakin akan hari ini.
Iya yakin tidak akan ada yang dikecewakan karena ini adalah bahagianya, dan itu cukup.
.
.
.
Wonwoo sudah berdiri dengan gagah di depan altar. Ada banyak hiasan bunga dengan warna putih dan peach yang mendominan hall besar dengan beberapa staff WO dan keluarganya berlalu lalang.
Acara belum dimulai, masih ada satu setengah jam sebelum sumpahnya akan di ambil, maka ia memanfaatkan sedikit waktunya untuk melihat-lihat. Wonwoo memandangi sekelilingnya, Deretan meja panjang dan bundar sudah tersusun rapi dengan jejeran lampu kristal mewah yang berjuntai dari langit-langit gedung ini.
Hamparan berbagai makanan dan dessert mulai dari traditional hingga international tertata rapi di sepanjang sisi kiri hall. Semua terlihat apik dan cantik di tambah ratusan gelas wine di ujung ruangan yang disiapkan bagi para tamu undangan.
Wonwoo tersenyum simpul saat matanya kini tertuju pada satu cake besar yang berjarak sepuluh langkah dari tempatnya berdiri saat ini.
Wedding cake tujuh tingkat warna putih dengan hiasan bunga berwarna senada dengan interior hall tempat pernikahan mereka akan berlangsung, cake ini mengingatkan Wonwoo akan percakapnnya dengan Soonyoung tempo hari dimana calon suaminya itu menginginkan Wonwoo untuk melihat langsung kue pernikahan dan juga souvenir mereka.
Bersama Soonyoung akan selalu ada kejutan, akan selalu ada kupu-kupu kecil yang terbang di rongga dadanya dan akan selalu ada Wonwoo yang menyukainya.
.
.
Pukul 7.00 malam tamu mulai berdatangan, mereka memang tidak banyak mengundang tamu hanya yang terdekat sajalah yang akan hadir bahkan dari Soonyoung sendiripun hanya menginginkan pernikahan sederhana. Namun, bagi Wonwoo ini adalah hari bahagianya. Wonwoo ingin Soonyoung selalu mengingat hari ini. Hari dimana ia menunjukan kepada Soonyoung betapa spesialnya ia bagi Wonwoo, pada hari ini Wonwoo ingin Soonyoung benar-benar merasa dicintai.
Bagi Wonwoo ini bukanlah pernikahan mewah dengan gengsi kaum elite tapi ini adalah bagian dari hadiah indah dari Wonwoo untuk Soonyoung.
.
.
.
Wonwoo sudah kembali berdiri di depan altar yang beberapa waktu lalu sempat ia singgahi. Namun, kali ini dia sudah di hadapkan dengan para tamu undangan yang duduk rapi siap menjadi saksi atas ikatan dan sumpahnya di hadapan Tuhan.
Suasana sudah semakin hening ketika koordinator Wedding Organizer mengisyaratkan bahwa pemberkatan akan segera dimulai.
Jika setengah jam lalu Wonwoo masih bisa menegak satu gelas air putihnya dengan santai. Tapi, saat ini ia bahkan tidak dapat menelan air liurnya sendiri, tenggorokan Wonwoo terasa kering dan jantungnya seperti akan keluar melompat dari dada.
Berusaha menenangkan diri, Wonwoo berdeham sembari menarik ujung jas hitamnya dan minyimpan kedua telapak tangannya didepan berharap rasa gugup ini segera memudar.
Semua sudah siap, Wonwoo menghadap pintu utama. Pintu dimana calon suaminya akan berjalan di dampingi oleh sahabat terbaiknya. Sosok orang yang paling Soonyoung cintai setelah Wonwoo, yaitu Jeonghan.
Wonwoo menatap lantai altar, menundukkan kepalanya sambil menarik napasnya dalam. Dan tak lama, Saat Seungcheol sang Best Man berbisik pada Wonwoo, membuatnya menaikan kembali kepala.
Di ujung sana, ada Soonyoung.
Ada Soonyoung yang berjalan dengan setelan hitam senada dengan Wonwoo, setelan yang sama ketika mereka melakukan fitting baju beberapa waktu lalu namun hari ini ketika ia mengenakannya lagi semua terasa 180 derajat berbeda.
Ia Indah. Soonyoung begitu indah berjalan dari pintu utama dengan senyum yang sama gugupnya dengan Wonwoo.
Waktu terasa berjalan begitu lambat dan ballroom hotel dengan kapasitas seribu orang ini bahkan tiba-tiba terasa kosong, bagi Wonwoo di ruangan besar ini hanya ada dirinya dan Soonyoung.
Hanya ada laki-laki dengan senyum dan mata paling indah yang pernah Wonwoo lihat dan tak ia sadari Wonwoo pun sudah ikut tersenyum. Bahkan itu adalah senyum paling besar dan paling bahagia yang pernah Wonwoo tunjukan di depan umum hingga banyak teman bahkan kolega Wonwoo yang takjub akan hal itu.
Soonyoung sudah sampai di depan Wonwoo, memberikan pelukannya terlebih dahalu pada Jeonghan yang sudah menemaninya berjalan di altar. Pelukan dengan sirat ribuan makna akan rasa syukurnya atas kehadiran Jeongahan yang menemani dan mewakili keluarganya.
Di hadapan Wonwoo saat kedua mata mereka akhirnya benar-benar bertemu, Soonyoung kembali menyunggingkan senyumannya dan bagi Wonwoo itu adalah senyuman yang ingin selalu ia lihat disepanjang hidupnya nanti.
“Hallo, daddy” ucap Soonyoung kecil nyaris berbisik, ketika tangan di raih yang lebih tua untuk menaiki satu tangga dan berbalik menghadap pendeta.
Lagi-lagi Wonwoo tersenyum, “You look gorgeous” balas Wonwoo.
“Thank you”
dan dengan itu upacara pernikahan kedua pasangan itu dimulai.
“I Jeon Wonwoo promise to honer you as my husband all the days of my life, to be honest and love with purity spirit. I vow to make you happy, to make you laugh and to always be there for you. I vow to make my life forever yours and build my dreams around you. To be your faithful husband when the sun shine, when the rain falls, in sickness and in health”
Soonyoung meneteskan air matanya.
*“I Kwon Soonyoung promise to be your honest, faithful and loving husband for the rest of my days. To honer you, to love you and cherish you as my husband. Today I say “I do” but to me that means “I will”. I will take your hand and stand by your side in the good and the bad. I dedicate myself to your happiness, success and smile. You are my every dream come true and I can't wait for the reality we get to built together. Give me your hand and I will give you forever”.
.
.
“The grooms might kiss now”
Gemuruh tepuk tangan bergema saat Wonwoo dengan lembut menarik dagu Soonyoung dengan sebelah tangannya dan tangan lainnya menahan tengkuknya dan mencium bibir Soonyoung. Cincin simbol janji suci mereka sudah melingkar di cari manis masing-masing dan menandakan mulai hari ini mereka akan memulai hidup baru sebagai pasangan yang saling mencinta.
.
.
.
Soonyoung kini berdansa dengan Wonwoo diikuti alunan musik jazz yang membuat suasana semakin intim dan romantis, di sekeliling mereka sudah banyak pasangan yang ikut bergabung.
Tidak pernah hilang senyuman itu di wajah keduanya, disetiap kesempatan Wonwoo akan mencuri satu kecup dari bibir Soonyoung dan setelahnya mendapatkan pukulan kecil dari Soonyung yang malu.
“Suami” panggil Soonyoung.
“Iya?” balas Wonwoo.
Soonyoung menggeleng pelan dan simpul malu.
“Kenapa? terlalu cinta sama aku, ya?” ucap Wonwoo lagi mengeratkan rangkulannya di pinggang Soonyoung.
“Iya, terlalu cinta”