Serabi Panas

“Woy! Ngapain kaya gitu?” tanya Hoshi dengan kembarannya yang lagi nggak karuan rasa di atas tempat tidur, menghitung menit sebelum pengumuman penerimaan calon mahasiswa baru di Universitas Indonesia melalui jalur undangan yang didaftarkannya beberapa bulan lalu.

Sekarang masih pukul 14.42 yang berarti kurang dari 30 menit lagi Soonyoung akan mendapatkan hasilnya. Rasa gugupnya bahkan lebih besar dibanding dengan pengumuman kelulusan sekolah. Semua usaha dan kerja keras yang sudah Soonyoung lakukan beberapa tahun terakhir akan bermuara di hari ini. Walaupun masih ada jalur reguler namun ada kebanggan tersendiri jika Soonyoung bisa lulus di jalur yang kata banyak orang spesial.

Kerja kerasnya belajar hingga larut malam bahkan sampai tumbang karena sakit bukan untuk menjadi siswa biasa, meski berat hari kemarin karena tuntutan orang tua namun Soonyoung sendiri memang punya tujuannya sendiri untuk mencapai impinya. Soonyoung tetaplah siswa SMA yang ambisius bukan karena pinta orang tua tapi karena dia memang senang giat belajar dan ingin sukses.

“Chi, kamu aja yang refresh web-nya” kata Soonyoung masih di atas tempat tidur dengan posisi telentang menutup mata.

Hoshi yang masuk ke kamar Soonyoung sambil mengunyah serabi panas dan membawa satu piring penuh serabi lain yang dibuat bundanya langsung berjalan ke arah meja belajar Soonyoung.

Laptop sudah terbuka dengan website Universitas Indonesia yang belum di-refresh lagi.

Log out ini, password lo mana?”

Soonyoung kemudian menunjuk satu lembar memopad yang ditempel di atas tumpukan buku berisi user id dan password Soonyoung agar bisa masuk kembali ke dalam web tersebut.

Suara pintu kembali dibuka, bunda si kembar yang sekarang datang membawa satu botol air dingin dan dua gelas kosong dengan gambar Spiderman di sisinya.

“Airnya kok ditinggal, chi?”

“Hehehe lupa bun”

Bunda si kembar meletakan botol dan gelasnya di nakas lain dan kemudian duduk di tempat tidur Soonyoung yang masih belum bergerak juga dari posisinya semula.

“Kenapa Soonie?” kata bundanya lembut.

“Takut” balas Soonyoung pelan.

“Gak apa, nak. Sudah doa?”

“Udah tadi”

“Sekarang tinggal tunggu hasil dari hasil semangatnya Soonie kemarin”

“Bunda jangan marah kalau Soonie gak lulus” katanya lagi lebih pelan, sekarang matanya terbuka dan beringsut merebahkan kepalanya dipangkuan sang bunda.

“Bunda gak pernah marah sama Soonie kan?”

Soonyoung mengangguk, nyaman dengan tepukan bundanya di lengan.

Suasana hening, hanya ada suara jari-jari Hoshi yang beberapa waktu sekali menekan tombol F5 untuk me-refresh halaman layar di laptop.

Setiap kali Hoshi menekan tombol itu, seketika juga jantung Soonyoung berdetak lebih kencang.

dan tepat pukul 15.02 suara teriakan Hoshi terdengar hingga ke lantai bawah di mana Ayah mereka sedang menonton liputan berita di tv.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKK” “SOONIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE”

Soonyoung langsung duduk bersila, tegak di atas tempat tidurnya, pelipisnya berkeringat, tangannya dingin.

“AAAAAAAAaaaaAAAaaaaAAAAAAAA” Hoshi seperti kesurupan kalau Soonyoung bisa bilang, kepala dilempar ke sana kemari.

“SOONIEEEEEEEE CEPAT SINIIII” teriak Hoshi.

Karena tidak ada pergerakan dari kembarannya itu, Hoshi berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum berdiri dari kursi belajar Soonyoung dan menjemput kembarannya untuk berganti duduk di sana.

Tangan Soonyoung ditarik, dia menurut.

Di depannya sudah ada hasil yang ditunggu namun belum mau dilihat karena Soonyoung menutup matanya, tak sanggup.

Pipi yang lebih tua ditepuk.

“Bukaaa mataaaaa”

dan.....

LULUS.

Soonyoung terpaku.

Hoshi yang malah terlewat senang terus membuat keributan di kamar saudaranya itu, dan menari-nari konyol tak jelas menggoyangkan pundak sang Bunda yang dibalas tawa merdu wanita satu-satunya di antara mereka itu.

Tak sadar, Ayah mereka yang menyusul karena mendengar suara teriakan Hoshi sudah berdiri di belakang kursi Soonyoung melihat hasil yang sama.

Oleh Ayahnya kepala Soonyoung diusak lembut “Selamat, Soonie”,

seketika Soonyoung meneteskan air mata haru dan bahagianya.