Jangan Jatuh
“Jaketnya dikacing aja, adek”
“Um?” Soonyoung menengok arah kancing depan jaketnya yang masih terbuka.
“Gini” Wonwoo cepat mengambil ujung jaket hitam itu dan mengancingnya ke atas membuat si gemay gugup, tau kenapa jantungnya tiba-tiba memukul kencang.
Entah inisiatif dari mana si anak motor yang punya mata kaya rubah itu mencubit hidung mungil punya Soonyoung, yang dicubit cuma senyum, pipinya mengembang, matanya mengecil. Kalau nggak ada teman-temannya mungkin Wonwoo udah kelewat khilaf. Astagfirullah.
Empat motor sport sudah siap di depan halaman rumah Seokmin, mobil si kembar juga sudah di parkirkan dengan aman di dalam bengkelnya. Gakpapalah mobilnya dulu yang nginap siapa tau besok-besok mungkin bisa yang punya ikutan nginap. Amin-in aja dulu kalau kata Seokmin.
Soonyoung sudah naik di jok motor paling dia hapal, seperti biasa pegangan dulu sama pundaknya si kakak sebelum memanjat naik biar gak jatuh. Di depan kakaknya udah siap dengan sarung tangan hitam yang senada dengan motor dan jaketnya, helm juga sudah dipasang dengan benar biar selamat sampai tujuan.
Tangannya Wonwoo mencengkram di setang motor, siap meluncur membelah jalanan bersama si gemay yang dari tadi gak pernah berhenti senyum.
Disebelahnya ada Chan dengan motor sport putih yang baru kita tau dikasih nama si Jeki, kata Chan biar gak ribet waktu ngomongin motor. Seperti biasa Chan bakal ada di deretan tengah di antara abang-abangnya yang lain supaya aman waktu ada polisi soalnya belum punya SIM dan KTP. Dasar nakal.
Terus ada kokoh Jun yang paling akhir datangnya karena narik uang yang agak banyak di ATM dulu, kalau ketua mah harus siap sedia duit cash ya, karena pilar kebanggaan komunitas. Sip.
Nah, ini yang paling ujung. Seokmin yang gak pernah grogi waktu ketemu orang hari ini tiba-tiba jadi aneh, udah tau jawabnnya sih tapi tetap aja aneh dan bikin Chan mual ngeliat mukanya. Geli banget kalau dibilang sih. Yang satunya sih santai, udah naik dengan enteng tapi tetap izin dulu “Gua naik ya, bro” kata Hoshi.
“Yoi” balas Seokmin.
Waktu sudah siap semua setelah berdoa, ada yang sedikit mengambil kesempatan, Wonwoo yang ada di barisan depan menarik dua tangan Soonyoung yang sebelumnya cuma memegang ujung jaket jadi ditarik ke perutnya, ngebuat si gemay otomatis tertarik ke depan dan memeluk perut Wonwoo dan dadanya yang memeluk punggung lebar si kakak. Tambah deg-deg-an tapi Soonyoung suka wanginya.
“Ntar jatuh”
“Iya kak”
Menang banyak.
Perjalanan ke puncak di mulai. Let's go~