Sunday Morning

Inspired and requested by @jwonchii thank you dear ❤️, here is your gemay and kakak are spending their special time together, enjoy!

Dan, teman-teman pembaca selamat menikmati 💕


Hoshi sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Seokmin, menunggu pacarnya yang lewat pesan teks tadi sedang mengenakan sepatunya.

Dari arah kaca mobil terlihat Seokmin yang sekarang sudah bergegas berlari dan membuka pintu kemudi mobil, menggantikan Hoshi untuk menyetir.

“Eh ada gemay” katanya, ketika melihat Soonyoung yang ada di kursi penumpang di belakang.

“Hai kak seok!” balas gemay manis.

“Ini bener Wonwoo kaga tau lo mau dateng?” tanya Seokmin yang sudah memasang seatbelt-nya, sedangkan Hoshi baru masuk dikursi penumpang di sebelah.

“Ga tau kak, aku mau kasih surprise” kata Soonyoung.

“Biasanya masih molor tuh anak kalau hari minggu begini”

“Udah bangun kok, tadi pagi aku chat katanya lagi ada kerjaan buat report akhir bulan makanya diburu”

“Astaga!” tiba-tiba Seokmin.

“Kenapa lagi yang?” ini Hoshi.

“Lupa bawa kunci rumahnya Wonwoo, ntar kaga bisa masuk si gemay” balas Seokmin.

“Lu tuh ya pelupa banget, udah di chat juga tadi”

“Maap...maap..bentar gue ambil dulu” kemudian Seokmin kembali ke dalam rumahnya.

Wonwoo memang menitipkan satu kunci serep rumahnya pada Seokmin, jaga-jaga jika ada hal mendadak terjadi atau cuma sekedar untuk memudahkan kalau Seokmin, Jun dan Chan main ke rumahnya saat Wonwoo masih di kantor.

Lima belas menit perjalanan ke rumah Wonwoo akhirnya sampai, Soonyoung keluar dengan sebelumnya mengucap terimakasih pada Seokmin yang sudah bertugas menyetir hari ini, kemudian pamit pada kembarannya yang diacungi jempol sebagai balasan.

Mobil Hoshi menjauh ketika Soonyoung sudah berhasil membuka pintu rumah Wonwoo pelan.

Ruang tamu minimalisnya terlihat gelap, lampu tidak dinyalakan. Hanya ada satu sumber cahaya yang terlihat dari kamar utama dan satu-satunya di rumah itu. Pintu kamar tidak tertutup rapat dan Soonyoung bisa melihat jelas ada pacarnya yang sedang fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya.

Jendela kamar sudah dibuka dan Wonwoo yang sibuk bekerja duduk menghadap jendela yang terbuka itu, mungkin agar sirkulasi udara segar bisa mudah masuk.

Soonyoung kembali ke ruang tamu, menaruh tas ranselnya yang berisi sarapan nasi goreng, roti isi, milkshake dan kue kering yang sudah dibuatkan bundanya tadi pagi supaya tidak berisik.

Pelan Soonyoung mendorong pintu kamar Wonwoo dan berjinjin kecil menghampiri, punggung lebar kekasihnya masih kaku menghadap laptop tanda bahwa tidak menyadari kehadiran Soonyoung di belakangnya.

Wonwoo mengenakan kacamatanya, dari jarak satu meter ini Soonyoung bisa mencium wangi sabun mandi Wonwoo dari tubuhnya, rupanya kekasih sudah mandi dan melanjutkan pekerjaannya pantas saja pesan terakhir Soonyoung belum dibalas lagi.

Dalam satu detik, Soonyoung membungkuk di samping Wonwoo dan mencium pipi tirus pacarnya, membuat Wonwoo hampir melempar wireless mousemiliknya karena kaget.

Shock

Wonwoo langsung menoleh ke arah pintu kamarnya yang sejak tadi dipunggungi.

“Gemay, sama siapa?” akhirnya tanya Wonwoo.

“Sendiri hehe” balas Soonyoung.

“Kok bisa-”

“Pinjem kunci kak Seokmin”

Wonwoo akhirnya menghela napas dan menarik tangan Soonyoung ke arahnya.

“Sini” kata Wonwoo, masih menarik tangan Soonyoung dan menepuk pahanya.

Membuat Soonyoung duduk di atas paha Wonwoo, wajah saling berhadapan.

“Kakak belum bales chat aku” katanya manyun.

“Hp-nya di*charge sayang belum cek lagi” balas Wonwoo memeluk pinggang Soonyoung.

Soonyoung kemudian mengambil kaca mata Wonwoo dan memasangnya di wajahnya sendiri kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar Wonwoo, ciri khas kamar pemuda laki-laki namun untuk ukuran pria dewasa seperti Wonwoo kamarnya termasuk bersih dan rapih.

“Dalam rangka apa nih?”

“Pengen surprise-in kakak aja, soalnya kangen”

Wonwoo memandangi wajah Soonyoung lagi, melihat yang lebih muda dengan senyum senangnya.

“Gemay..” panggilnya

“Iya?”

Pinggang Soonyoung yang ada di dipangkuan Wonwoo dibawa mendekat dan bibir mereka bertemu.

Wonwoo mencium Soonyoung lamat, memeluk pinggang yang lebih muda erat. Ciuman mereka sama-sama dalam, menyesap rasa cinta yang ada disetiap lumatnya. Lembut dan basah.

Miliknya, Wonwoo mencium bibir itu bergantian, melumat bibir bawah Soonyoung dengan pelan seperti candu kemudian membiarkan Soonyoung juga ikut menyesapnya.

Tiga menit mencumbu, Wonwoo melepas ciumannya dan mengusap sisi bibir Soonyoung yang basah.

Wonwoo mendongakkan kepalanya kembali memandangi wajah Soonyoung yang dengan posisi ini lebih tinggi darinya, memandangi dengan senyum paling bahagia.

Yang dipandang memerah seperti tomat dan akhirnya tak tahan lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Wonwoo, membuat gelak tawa Wonwoo menggema di kamar itu. Miliknya ada di sini bersamanya.

Kembali lima menit hanya dihabiskan untuk saling memeluk dalam diam, merasakan degup jantung masing-masing seperti musik paling indah yang pernah mereka dengar.

“Gemay” panggilnya lagi.

“Hm” Soonyoung masih menyembunyikan wajahnya di leher Wonwoo.

“15 menit aja aku selesein reportnya ya sayang”

Soonyoung mengangguk.

“Kerjain aja, aku mau peluk kakak kaya gini”

“Gak pegel badannya?” tanya Wonwoo

“Kakak kali yang pegel pangku aku begini”

dibilang begitu Wonwoo malah kembali memeluk pinggang Soonyoung dengan tangan kirinya dan tangan lainnya membantu menggeser kursi dengan roda kecil itu mendekat ke mejanya.

“Kamu mah kecil” balas Wonwoo dan selanjutnya melanjutkan pekerjaan yang tertunda, kembali pada reportnya di laptop dengan Soonyoung yang masih memeluk Wonwoo seperti koala di pangkuannya.


“Kak, punya milo?”

Sekarang keduanya ada di ruang tengah Wonwoo yang biasa di pakai teman-temannya untuk bermain PS, ruang tengah ini juga sudah familiar bagi Soonyoung karena tempo hari merayakan hari ulang tahunnya dan Hoshi di sini.

“Ada, sayang mau?”

“Mauuuuu” “Ini aku sambil siapin nasi gorengnya kakak” kata Soonyoung yang duduk bersila, sedangkan Wonwoo nya sudah berdiri hendak ke dapur.

“Perlu piring gak?”

“Gak usaha kak, sama bunda udah pakai tupperware. Sendok aja”

“Oke bentar bikin milonya dulu”

“Makasih sayang” balas Soonyoung.

Efeknya buat Wonwoo kembali menunduk untuk mencium hidung Soonyoung, dicium kecil dan singkat membuat pemiliknya tertawa geli.

Setengah hari itu mereka habiskan untuk mengobrol, menonton film, tidur siang dan bingung memilih makan siang dari aplikasi pesan antar online.

Cuma kegiatan sederhana yang dihabiskan bersama tapi rasanya menyenangkan.

Wonwoo menyelimuti Soonyoung yang masih tertidur di atas tempat tidurnya, sedikit terbangun karena gerakan Wonwoo membuat Soonyoung membuka matanya.

“Nanti sore belajar motor ya kak?” katanya kecil dengan suara khas orang bangun tidur.

“Bobo dulu gemay” peluk Wonwoo akhirnya, membukus tubuh si pacar gemas dengan tubuhnya yang lebih besar.

Keduanya kembali tertidur hingga pukul setengah lima sore, dan terbangun dengan Soonyoung yang merengek minta diajari naik motor lagi.

Dan, sinilah Soonyoung dengan helm bogo yang menjepit pipi gembulnya berusaha fokus mengendarai motor matic milik Soekmin yang sudah dipinjam Wonwoo beberapa hari lalu.

Gemaynya berjalan pelan di sisi beraspal komplek perumahan Wonwoo yang tidak begitu ramai, menahan marah dan kesal karena mendengar tawa Wonwoo yang terus-terusan terdengar karena melihatnya belajar motor.

Tidak, Gemay tidak serius marah. Dia sayang Wonwoo.

Vice versa