Disco PangPang 1.0
Cuaca hari Sabtu di minggu pertama bulan September terbilang cerah, selain karena mataharinya yang terus bersinar juga karena akhirnya Hoshi bisa mendapatkan akhir pekannya kembali setelah dua minggu berturut-turut harus menyelesaikan proyek kantor hingga lembur larut malam, bahkan mengorbankan dua hari paling berharganya di penghujung minggu untuk membuat final draft proyek tersebut.
Setelah perdebatan kecil dengan Yoon Jeonghan teman masa kuliahnya dulu yang sempat menghilang di Jepang tujuh bulan lalu entah karena apa. Akhirnya, kedua sahabat itu berhasil membuat pesanan taksi online untuk mengantarkan mereka ke taman bermain paling besar di kotanya.
“Kenapa tiba-tiba mau ke disco pangpang?” tanya Hoshi akhirnya setelah menyamankan duduknya di kursi penumpang.
“Pengen nyari gebetan” balas Jeonghan cuek.
“Ketebak banget”
“You know me too well Hoshingiiiiiii” kekeh sahabatnya yang memiliki rambut berwarna terang itu kontras dengan rambutnya yang hitam legam akibat tuntutan pekerjaan di kantor.
Dua puluh menit berkendara keduanya sampai di tempat tujuan, karena bertepatan dengan akhir pekan tak heran loket pembelian tiket sudah terlihat padat dengan susunan rapih pengunjung yang mengantri. Untuk menyingkat waktu mereka langsung ikut berbaris menunggu gilirannya.
Kata Jeonghan untuk pemanasan sebaiknya dimulai dengan menaiki wahana yang tidak begitu menguji adrenalin, Komidi Putar.
Hoshi merasa bodoh sekaligus seperti orang dewasa yang kurang bahagia setelah mengedarkan pandangannya yang ditatap heran oleh bocah sekolah dasar yang terheran-heran dengan kedua sahabat yang berusia matang itu. Namun, di sebelahnya ada Jeonghan yang dengan santai menikmati wahana pertamanya tanpa peduli orang sekitar. Well, sepertinya tidak ada salahnya juga mencoba menjadi tidak peduli dengan pandangan orang.
Total sudah ada lima wahana yang keduanya naiki tanpa sadar bahwa langit di atasnya sudah berubah jingga bahkan makan siang yang jadi keseharusan untuk Hoshi terlewati begitu saja. Dia benar-benar menikmati akhir pekannya.
“Haus!!”
“Stop right there, Hoshingi!“
“Gue mau beli minum gak kuat haus banget”
“Lo liat ke sana, antrian disco pang pang lagi lengang. Udah buruan naik itu dulu ntar jajannya sekalian pas turun” kata si sahabat membujuk.
“Laper gue asli”
“Ntar kalau makan sekarang malah jadi mual”
Tidak salah, karena dari yang Hoshi tau wahana berikutnya ini bisa membuat seluruh anggota tubuhnya terpental kesana-kemari. Apa jadinya kalau sekarang dia memutuskan untuk memakan satu sosis kanzler bakar, bisa-bisa dia mempermalukan dirinya sendiri karena memuntahkan isi perutnya di atas wahana sebelum sempat turun.
Sepuluh menit mengantri akhirnya giliran keduanya sampai. Jeonghan terlihat sangat bersemangat sedangkan Hoshi biasa saja, buatnya rasa lapar sudah melebihi semua sel-sel akal sehatnya.
Di sisi lain terlihat ada gerombalan pengunjung lain yang mulai naik. Total sekitar 15 orang yang sudah berada di atas wahana Disco Pangpang mulai dari pasangan yang memang duduk bersisihan siap saling bergenggaman tangan, atau sekelompok gadis usia sekolah menengah atas yang dengan berisiknya menyamakan posisi duduk mereka dan sedikit mencari perhatian dari pengunjung pria yang lain atau beberapa remaja laki-laki dan orang dewasa lainnya yang masih tenang.
Wahana ini punya banyak peminat selain karena menguji adrenalin, wahana ini juga memiliki pemandu permainan yang menyenangkan. Tak jarang sang pemandu melontarkan pertanyaan dan lelucon lucu pada pengunjung yang naik ke wahana.
“Nona, kamu datang dengan siapa? Hah? Sendirian? Kasihan”
“Hey! Kau yang di sana apa itu seragam sekolah? Kenapa ada di sini bukannya belajar yang rajin”
Bahkan sang pemandu tidak segan menjodohkan pengunjung yang baru bertemu di sini.
“Nona apakah yang di sebelahmu itu pacarmu? Jika bukan harusnya kalian jadian saja hari ini. Aku yakin dia juga mau”
Celotehannya pasti mengundang tawa dari pengunjung lain dan sambutan rona merah bagi yang dimaksud.
“Mas yang pakai hoodie abu-abu tolong tukaran tempat duduknya dengan mbak yang baju merah jadi kalau dia jatuh bisa dibantu dan dijadikan pacar kalau mau”
Lagi-lagi senyum malu-malu jadi sambutan.
Tak lama akhirnya aba-aba wahana mulai bergerak pun dimulai.
Terdengar sorak sorai pengunjung yang masih normal saat wahana belum bergerak terlalu cepat.
“Heh!” Kata Hoshi menepuk sahabat di sebelahnya yang sudah terpaku dengan pandangan sisi kirinya.
“Apaan?” Jawab Jeonghan asal.
“Udah ada target ya lo?”
“Hehehe”
“Ngeselin banget ketawanya”
“Lo tengok deh kiri gue tapi jangan langsung nengok ntar ketahuan”
Hoshi menurut dan menoleh pelan ke arah yang sahabatnya tunjukan.
“Gila lo demennya bule”
“Kalau bisa kenapa enggak” balas Jeonghan santai.
Hoshi cuma bisa menggeleng lelah atas tingkah sahabatnya ini, sudah terlampau biasa.
Wahana mulai bergerak cepat, setiap pegangan pengunjung pun semakin erat pada besi pengaman di belakang mereka.
Satu hentakan pertama menguncang wahana Disco Pangpang, tidak kurang dari 3 orang sudah terpental di tengah wahana, nampak terkejut ketiganya berusaha berdiri mencari sisi wahana untuk menyelamatkan diri. Namun, sial bukannya melambat hentakan kedua malah kembali menyusul. Ketiga orang itu kembali terpental, dari tiga orang tersebut dua diantaranya ada dua pelajar tadi dan pemeran utama kita malam ini, Hoshi.
Entah apa yang terjadi beberapa detik yang lalu, yang pasti saat hentakan pertama Hoshi belum berpegangan sempurna pada besi pengaman. Jeonghan bahkan terkejut melihat sahabatnya tiba-tiba terlempar ke lantai bahkan saat kecepatan wahana belum maksimal.
“Hoshingiii tarik kaki gue” katanya berusaha menyelamatkan Hoshi.
Memanfaatkan gerakan menurun wahana, Hoshi berhasil merosot ke arah tempat duduk mereka semula, meraih kaki Jeonghan sebelum akhirnya bisa kembali duduk.
Jeonghan terbahak melihat wajah Hoshi yang seketika memerah, tubuh mereka masih terus tehuyung ke kanan dan kiri. Jeonghan merasa sedikit bersalah karena Hoshi terlewat lapar dan tak bertenaga hingga bisa terpental seperti tadi.
“Please, gue mau turu-AAAAAAAAAKK!!!!!!” belum sempat Hoshi menyelesaikan kalimatnya sekarang keduanya yang terpental, tidak sampai di tengah wahana hanya saja tubuh mereka menghantam pengunjung lain di sebelah kanan, tak bisa dihindari kelima orang di dereta tempat duduk itu terhimpit satu sama lain.
Saat kembali normal Hoshi buru-buru meminta maaf masih sambil berpegangan pada besi pengaman kepada satu pasangan kekasih di sana dan satu wanita dewasa yang barusan terhimpit oleh tubuhnya dan Jeonghan.
“Hosh, kayanya kuku kelingking gue lepas deh”
“Bego!” Balasnya tak peduli. “Mana?” Katanya sedetik kemudian.
Jeonghan menunjukan kelingking kirinya bahkan tak berani melihatnya sendiri.
“Gak lepas, cuma patah doang. Makanya kuku tuh dipotong”
Lega, kembali Jeonghan memberikan senyumannya pada Hoshi sementara disekeliling mereka sudah kacau karena beberapa orang yang kembali saling menghimpit dan menabrak satu sama lain. Yang tak kenal bahkan ikut membantu pengunjung lain yang terhuyung di tengah lantai wahana.
Hentakan kelima jika kewarasan Hoshi masih benar menghitungnya, akhirnya ia dan Jeonghan kembali terpental. Parahnya kali ini mereka terpental hingga deretan seberang. Jeonghan sudah tidak berbentuk, kepala nya hampir manabrak bagian bawah tempat duduk dengan kaki yang terangkat hampir menghantam wajah pengunjung di depannya, untungnya cepat-cepat ia turunkan dan berusaha meraih tempat kosong terdekat.
Sial tak mudah pergi, di sudut lain Hoshi berusaha mati-matian berguling menuju tempat awalnya namun kecepatan wahana tak kunjung berkurang bahkan dalam 5 detik kemudian Hoshi kembali terhempas membuat kepalanya serasa berputar pusing.
Yoon Jeonghan sialan!
Saat rasanya kaki Hoshi tidak mampu lagi menahan tubuhnya bahkan untuk merayap, satu tangan laki-laki melingkar di pinggangnya dari belakang dan menariknya dengan kuat mundur ke atas tempat duduk. Hingga punggungnya menghantam benda yang tidak begitu keras jauh berbeda dari besi pengaman wahana.
Terkejut saat mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk karena guncangan, Hoshi akhirnya sadar kalau sekarang sedang berada di atas pangkuan seseorang.
Shit! Shit! Shit!
Laki-laki itu memeluk pinggangnya posesif bahkan sempat mengarahkan tangan kiri Hoshi untuk meraih besi pengaman untuk berpegangan, walaupun Hoshi sendiri masih terkunci di pangkuannya.
“Aduh, maaf...” Kata Hoshi akhirnya kepada laki-laki itu berusaha turun dari pangkuannya. Wajah memerah seperti terbakar api.
“Pegangan sini, hyung” balas laki-laki tadi saat Hoshi berhasil turun dari pangkuannya. Namun, malah menyilangkan kakinya ke atas paha Hoshi, menyuruhnya berpegangan pada kaki lelaki barusan agar dirinya tidak terpental lagi ke depan.
“Hyung, cepat!”
“Ah, i-iya” balas Hoshi ragu namun akhirnya mengeratkan pegangan tangan kanannya pada kaki lelaki tadi dan tangan kirinya yang masih menggenggam besi pengaman di belakang.
Posisi keduanya begitu dekat bahkan Hoshi dapat mencium wangi maskulin dari lelaki di depannya ini.
Akhirnya pada dua putaran terakhir Hoshi berhasil selamat tanpa kembali terpental berkat bantuan lelaki asing barusan yang sekarang sudah pergi tiba-tiba saat wahana secara total berhenti menandakan permainan selesai.