After Briefing

Waktu sudah menunjukan pukul 16.45 sore waktu Soonyoung keluar dari ruangannya hendak menuju pantry, sekedar membuat kopi instant dan membilas wajah yang lelah karena aktifitas hari ini yang cukup padat di kantor. Baru dua langkah berlalu, dirinya dikejutkan oleh suara teriakan lantang yang memanggil namanya, familiar dan menggemaskan bahkan saat Soonyoung belum memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang barusan memanggil.

“Om ttunyong!” katanya lagi.

Kali ini Soonyoung sudah dengan kekehan gelinya menghampiri si pemilik suara gemas tadi.

“Siapa ini sore-sore baru mau berangkat kerja?” balas Soonyoung bergurau.

“Ayah yang mau kerja, Deahan mau main aja” katanya.

Sang Ayah hanya tersenyum melihat tingkah si kecil yang sejak tadi sudah berlari ke arah Soonyoung.

“Minta diantar ke sini Soonyoung, pulang sekolah gak mau tidur, minum susu susah” kata Wonwoo menyela obrolan dua orang di depannya.

“Dedek kenapa gak mau bobo?” tanya Soonyoung lagi.

“Males sama onty”

“Astaga mana boleh begitu, dek” ujar Soonyoung mencubit gemas hidung anak atasannya itu.

“Ayo pulang om” Daehan polos.

Soonyoung dibuat terkejut, rasanya seperti de javu karena ucapan dari si kecil barusan persis seperti apa yang diucapkan ayahnya semalam saat membawa Soonyoung pulang ke apartementnya.

“Bapak sama anak sama aja tukang nyuruh orang pulang tiba-tiba” batin Soonyoung

“Baru sampai dek, udah mau pulang lagi” balas Soonyoung akhirnya.

“Tadi udah ke ruangan saya tapi ngamuk mau ketemu kamu” ujar Wonwoo.

“Ciye dedek kangen ya~?”

“Enggak” balasnya otomatis membawa gelak tawa Soonyoung mwmbuat si kecil diserang malu.

“Soonyoung, saya ada tamu 15 menit lagi saya boleh titip Daehan gak?”

“Boleh Pak, ini juga udah beres. Anak-anak udah pada kelar submit ke tim nya Jihoon bahan JFFF siap cetak” kata Soonyoung sambil mengangkat Daehan.

“Yaudah kalau begitu titip sebentar ya Soonyoung, kalau kamu mau pulang ketuk saja ruangan saya atau kabarin Junhui biar Daehan dijaga sama dia”

“Aman Pak, jangan ke Junhui deh orangnya emosian kasian ntar dedek shock” balas Soonyoung bercanda.

“Iyaa om jujun ga seru, ga hapal dinosaurs” sela Daehan, Soonyoung kembali dibuat gemas oleh balita digendongannya saat ini.

“Daehan jangan lari-lari di ruangan Om Soonyoung, no scream no run ya, duduk aja yang pinter nurut sama Om Soonyoung jangan ganggu Om sama Aunty nya yang lain” ujar Wonwoo menasihati anaknya.

“Iya Ayah” balasnya kecil.

Wonwoo kemudian mengusak rambut anaknya dan berpamitan kepada Soonyoung.

“Dedek, ayo Om Soonyoung ajarin bikin kopi”

“Oceee” katanya semangat.


Setelah menyelesaikan makan malam yang mereka beli sepulang kerja tadi, sekarang keduanya tengah sibuk di ruang tengah Soonyoung dengan alat tulis yang berserakan.

Soonyoung membantu Daehan mengerjakan tugas rumahnya, membantunya menghapal susunan angka dalam Bahasa Inggris kemudian mencontohkan penulisannya yang akan ditulis ulang oleh Daehan. Soonyoung tidak terlalu memaksakan, untuk anak berusia empat tahun mengerjakan tugas rumah seperti ini sudah cukup rumit baginya.

Keduanya sesekali bercanda saat Daehan kerap kali terbalik menuliskan huruf b dan d.

“Ini kembar sih om ttunyong...Daehan suka lupa tulisnya hehehe”

“Gini dek, kalau huruf b ada perutnya, kalau huruf d ada apa?”

“Ada pantatnya.....” gelak tawa Daehan pecah saat dirinya sendiri menyebut istilah barusan yang diajarkan Soonyoung agar mudah membedakan kedua huruf kecil tersebut.

Setelah lelah tertawa dan selesai mengerjakan tugasnya, Daehan dengan tenang menonton film kartu favoritnya di tv sembari Soonyoung membereskan piring kotor sisa makan mereka tadi.

“Om ttunyong ada orang” ujar Daehan yang menyusul ke dapur saat mendengar bel apartementnya berbunyi.

“Ayah kayanya dek” balas Soonyoung sambil mengeringkan tangannya. Daehan kecil mengikuti di belakang.

Saat dibuka ternyata benar ada Wonwoo yang sudah menunggu di depan pintu, hanya mengenakan kemeja putihnya dengan lengan yang sudah digulung dan dasi yang masih menempel namun kerahnya sudah dibuka longgar.

“Puas mainnya Daehan?” kata Wonwoo menengok anaknya di balik kaki Soonyoung.

“Aku belajar ayah” katanya, kecil.

“Pinter ya sama om Soonyoung tadi?”

“Pinter” balas si kecil lagi. Soonyoung memperhatikan interaksi Ayah dan Anak itu.

“Yuk, pulang dulu. Nanti main lagi sama om Soonyoung”

“Ayah besok bawa baju Daehan simpan di rumah om ttunyong”

“Buat apa?”

“Aku belum mandi, ga punya baju yah”

“Pantes kecut anak ayah” Wonwoo mengejek anaknya membuat si kecil mengerutkan alisnya tanda marah.

“Tadi mau saya mandiin Pak, tapi gak ada baju ganti kalau pakai baju ini lagi ntar gatel, pakai kaos dalem ntar masuk angin serba salah haha” ujar Soonyoung.

“Gapapa Soonyoung nanti pulang langsung saya ajak mandi” “Ayo Daehan, tasnya ambil dulu”

Kemudian si kecil berlari ke dalam aprtement Soonyoung mengambil tasnya yang sudah dirapikan tadi. Soonyoung tentu menemani, sebelumnya sudah menawari Wonwoo untuk masuk namun ia kembali menolak dan memilih untuk menunggu di luar saja.

“Ayah gendong” rengkek Daehan manja saat kembali.

Wonwoo kemudian menggendong anaknya.

“Bye om ttunyong, thank cuuuuu”

“Bye dedek habis ini mandi ya” balas Soonyoung mencium pipi Daehan. Namun, satu yang tidak disadari Soonyoung bahwa aksinya tadi membuat Wonwoo tertegun karena posisi Daehan yang ada pada gendongan lengannya membuat Soonyoung begitu dekat dengan tubuh dan wajah Wonwoo saat mencium anaknya.

Dan bisa dipastikan Wonwoo dapat mencium wangi lembut dari sampo yang Soonyoung gunakan, membuat jantungnya kacau.

“Do I get a kiss aswell?” tanya Wonwoo tiba-tiba.

Kali ini Soonyoung yang tertegun.

Wonwoo tertawa melihat wajah Soonyoung yang berubah horor kemudian mengusap pipi Kepala Editor kantornya tersebut dengan telapak tangannya yang lebar, usapan ringan yang membuat Soonyoung tenggelam dalam keterkejutannya lagi, “Just kidding, good night Soonyoung” kemudian ia berlalu pergi.

Soonyoung dalam masalah. Begitu pula dengan Wonwoo.