Lens

Salah satu hotel berbintang lima paling mewah di Ibukota malam ini terlihat nampak ramai oleh para model yang berlalu-lalang di atas catwalk memberikan penampilan terbaiknya, merepresentasikan busana indah yang dikenakan untuk ditunjukan pada tamu undangan dan media yang hadir.

Soonyoung sendiri sejak tadi sudah sibuk memperhatikan dan membantu staffnya untuk meng-highlight setiap moment yang akan diliput pada event kali ini. Total sudah dua jam ia berdiri dan menyapa para tamu undangan dan kolega yang dikenal setelah acara inti selesai, tidak heran untuk sekelas Kepala Editor di kantor Majalah terkemuka di Jakarta Soonyoung cukup banyak memiliki banyak koneksi dari oang-orang penting dan berpengaruh di dunia fashion dan bisnis.

Di sisi lain ada Wonwoo yang juga tidak kalah sibuk saling berinteraksi dengan berbagai macam petinggi perusahaan hingga tidak menyadari ada Soonyoung yang juga hadir di sana bahkan bersisihan di depannya beberapa waktu lalu.

“Malam Pak Wonwoo” sapa salah satu staff yang merupakan tim Soonyoung yang bertugas dalam perhelatan event Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) hari ini.

“Malam” balas Wonwoo.

“Saya Nabil Pak yang di divisi III” katanya sambil mengangkat dan menggoyang-goyangkan ID Card yang menggantung di lehernya.

“Oh tim Soonyoung ya?” Kata Wonwoo lagi.

“Betul Pak, saya kebagian ngeliput fashion sama Pak Soonyoung”

“Soonyoungnya di mana?”

“Tadi pamit ke toilet yang arah pintu timur Pak, ada yang mau disampaikan? Nanti Nabil kasih tau kalau ketemu Pak Soonyoung lagi” tawar Nabil ramah.

Wonwoo kemudian mengecek ponselnya dan baru mengetahui bahwa sesaat lalu ia mendapatkan pesan singkat dari Soonyoung dan buru-buru membalasnya.

“Oh tidak usah, terimakasih ya. Saya tinggal dulu”

“Siap Pak”

Namun, belum jauh Wonwoo beranjak pergi namanya kembali dipanggil.

“Itu Pak Soonyoung” Nabil menunjuk sosok Soonyoung kepada Wonwoo yang hanya bejarak lima meter darinya.

Wonwoo mengerutkan alisnya dan mengecilkan kelopak mata berusaha memfokuskan arah pandangnya, memastikan sosok yang berdiri tak jauh di depannya itu.

“Ah, It's him” ujar Wonwoo bermonolog.

Soonyoung kemudian dibuat terkejut saat Wonwoo tiba-tiba mendekat dengan cepat dan berbisik di telinganya “ayo pulang” sambil menautkan jari-jarinya untuk digenggam.

“Sudah makan?” tanya Wonwoo saat mereka memasuki area parkir hotel.

“Udah Pak, di buffet tadi” balas Soonyoung berusaha santai.

Briefing tim kamu bisa besok pagi kan?” tanya Wonwoo lagi, sadar bahwa dia baru saja menculik Kepala Editor kantornya yang sedang bertugas.

“Oh? anu-iya bisa sih Pak”

“Tangan kamu kenapa dingin sekali? Masuk angin?”

“Gugup Pak”

Wonwoo otomatis mengembangkan senyumnya tak habis pikir dengan jawaban spontan Soonyoung, dia bahkan tidak berusaha menyembunyikan perasaannya.

Wonwoo kemudian mengusap punggung tangan yang digenggamnya dengan ibu jarinya sebelum membuka pintu mobil dan beranjak pergi keluar dari area hotel bersama Soonyoung.

“Semua tim kamu turun?” Tanya Wonwoo saat berhenti pada lampu merah pertama yang menyala.

“Iya Pak, sampai anak magang juga ikut. Yang magang sih pada semangat banget beda sama angkatan kemarin” balas Soonyoung antusias.

Wonwoo sendiri asik kembali menyetir membelah jalanan ibukota sambil sesekali tersenyum mendengar cerita Soonyoung.

“Ngomong-ngomong, kalau bapak pulang larut begini dedek sama siapa Pak?” tanya Soonyoung.

“Di rumah kakak saya yang deket rumah kamu itu”

“Mba egi yang kemarin ke kantor ya Pak?”

“Oh iya yang itu, kamu udah pernah ketemu ya saya lupa”

“Bapak nih apa-apa dilupain, udah matanya rabun lupa pula bawa kacamata tapi heran masih sukses aja mimpin perusahaan ya” kata Soonyoung enteng.

“Kamu lagi gombalin saya atau apa nih?” kata Wonwoo menoleh.

“Idih, bapak merasa digombalin?” balas Soonyoung iseng.

Wonwoo hanya diam tapi sudut bibirnya melengkung, ia tersenyum lagi.

Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di komplek apartement Soonyoung.

Karena merasa mulai terbiasa Wonwoo pun ikut mengantar Soonyoung hingga di depan unitnya yang berada di lantai 8.

Perjalanan dari parkiran menuju lift penuh dengan keheningan karena sekeliling mereka juga yang sudah mulai sepi, malam sudah menunjukan pukul 22.15 wajar jika aktifitas di luar pun sudah berkurang.

Soonyoung yang merasa canggung karena suasana yang tiba-tiba berubah sejak keluar dari mobil Wonwoo pun akhirnya bersuara saat sudah tiba di depan pintu apartementnya.

“Mau mampir Pak? Saya baru beli kopi kemarin”

Wonwoo yang masih lengkap dengan setelan jasnya hanya menggeleng kemudian maju beberapa langkah mendekati Soonyoug.

“Sudah terlalu malam saya harus jemput Daehan” ujarnya sambil menunduk dan mencium rahang kiri Soonyoung.

“Good night, Soonyoung” lanjutnya sebelum berbalik badan menjauh dari unit apartement bernomor 312 itu meninggalkan pemiliknya yang tertegun diam atas aksi tiba-tibanya barusan.