Dua Malam
Kembali pada hari-hari membosankan milik Soonyoung yang bekerja pukul 8.15 pagi hingga 17.00 kalau beruntung, tapi kebanyakan adalah tidak beruntungnya karena paling cepat Soonyoung baru bisa keluar dari gedung kantor yang kurang modern itu saat matahari sudah tenggelam tanpa sinarnya.
Hari ini melelahkan setumpuk berkas yang tidak lengkap harus ia selesaikan, rekan satu tim yang kurang kompeten dan tidak bertanggung jawab akan tugasnya membuat Soonyoung harus banyak-banyak memupuk sabar.
Soonyoung habiskan waktu istirahat malam ini di ruang tengah menonton tv dengan ibunya, sang ayah yang sedang membaca buku duduk tidak jauh dari mereka.
Di dalam keluarga Soonyoung adalah sosok periang, suaranya lantang dan tawanya menular. Soonyoung selalu memiliki pendirian teguh akan segala keputusan yang dibuatnya atau bisa dibilang sedikit keras kepala? Bukan tidak beralasan, Soonyoung itu tidak suka sesuatu berjalan tanpa rencana dan perhitungan yang matang maka dari itu setiap keputusan yang dia ambil pasti sudah dipikirkan dengan mempertimbangkan segala resikonya. Namun, tidak jarang hal itu juga yang sewaktu-waktu bisa menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang tuanya paham benar akan itu.
“Kak, kalau nanti ada orang baik yang ingin serius denganmu kira-kira kamu siap nggak meninggalkan ini semua” Ibunya menunjuk tv yang Soonyoung tonton.
Soonyoung itu penggemar Marvel, segala koleksi mulai dari miniatur hingga action figure dengan harga fantastis rela ia beli. Baginya itu hobi dan hiburan penghilang penat lepas dari kesibukan kantor dan pekerjaan. Melihat susunan pajangan yang rapi di sudut kamarnya, menyaksikan film-film yang entah sudah kali berapa diputar dan tak kunjung merasa bosan adalah satu cara Soonyoung lari dari tekanan.
“Ah! gak mau lah bu, dia siapa kok datang-datang ngelarang aku?” kata Soonyoung tersulut pertanyaan Ibunya.
“Ada orang baik, gayanya jauh dari keseharian kamu. Dia orangnya gak suka yang beginian gak neko-neko, kak”
“Gak mau aku” kata Soonyoung lagi tak suka.
“Nanti kalau ke sini ditemui ya, kak” sekarang Ayahnya yang bersuara.
“Ngapain?!!” jawab Soonyoung benar-benar terkejut.
“Kenalan aja, kak. Silaturahmi” kata Ayahnya. “Kamu kemarinkan bilang sekarang terserah ayah sama ibu, sekarang ayah sudah mengusahakan untuk cari yang terbaik buat kamu. Anaknya baik tidak macam-macam”
“Kok langsung ketemu sih, yah?! Gak mau.” Jawab Soonyoung.
“Ya terus gimana? masa Ibu tiba-tiba suruh dia chat kamu, Soon? Kan ketemu dulu”
“Malu buuuuu astaga, aku nanti mau ngomong apa pas dia datang? gak ada pembahasan apa-apa ntar malah aneh” balas Soonyoung masih tak senang.
“Sama Ayah juga, kamu gak sendirian nanti ditemani” kata Ayahnya lagi.
“Pokoknya aku gak mau ya, yah. Gak bakal aku temuin!”