<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>milkyways1707</title>
    <link>https://milkyways1707.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 04:11:49 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Kisah Langit</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/kisah-langit?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kisah Langit&#xA;&#xA;Kenapa sebuah cerita harus dimulai, ketika manusia sudah tahu bagaimana akan berakhir? &#xA;&#xA;Harapan memberikan banyak kemungkinan akhir kisah berbeda, hingga manusia lagi-lagi tenggelam dalam harapan yang semestinya cukup menjadi angan. &#xA;&#xA;Manusia tahu, tidak semua angan sesuai harapan, tidak semua kisah seperti angan. Menggantungkan kisah pada harapan jelas menuju ketersesatan. &#xA;&#xA;Harapan itu ilusi, agar kisah yang sudah di luar alur dapat diakui lalu menjadi akhir bahagia lain. &#xA;&#xA;Menggantungkan bahagia pada harapan adalah keputusan paling salah yang dengan bahagia manusia buat. &#xA;&#xA;Mencintai harapan, mencintai sendirian, mencintai langit yang indah. &#xA;&#xA;Dua langit indah yang memberikan harapan, langit yang membawa cerah sekaligus mendung yang menghujam rasa. &#xA;&#xA;Kenapa langit begitu jauh? Kenapa ada jarak untuk menyambung kisah? Kenapa cinta saja tidak cukup untuk merangkai kisah? &#xA;&#xA;Kenapa langit membuat segala yang berada di bawahnya begitu berbeda? &#xA;&#xA;Memandang langit untuk mengadu, menantang melawan merasa tak adil. &#xA;&#xA;Kisahnya biasa, namun deras arusnya besar. &#xA;&#xA;Di bawah langit meminta restu agar kisah tidak habis dengan satu akhir. &#xA;&#xA;Berharap, ada satu untuk bersatu. &#xA;&#xA;Namun, ketika langit pun tak mampu beri jawaban, mungkin kisah dua langit harus berakhir di musim hujan. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kisah Langit</strong></p>

<p>Kenapa sebuah cerita harus dimulai, ketika manusia sudah tahu bagaimana akan berakhir?</p>

<p>Harapan memberikan banyak kemungkinan akhir kisah berbeda, hingga manusia lagi-lagi tenggelam dalam harapan yang semestinya cukup menjadi angan.</p>

<p>Manusia tahu, tidak semua angan sesuai harapan, tidak semua kisah seperti angan. Menggantungkan kisah pada harapan jelas menuju ketersesatan.</p>

<p>Harapan itu ilusi, agar kisah yang sudah di luar alur dapat diakui lalu menjadi akhir bahagia lain.</p>

<p>Menggantungkan bahagia pada harapan adalah keputusan paling salah yang dengan bahagia manusia buat.</p>

<p>Mencintai harapan, mencintai sendirian, mencintai langit yang indah.</p>

<p>Dua langit indah yang memberikan harapan, langit yang membawa cerah sekaligus mendung yang menghujam rasa.</p>

<p>Kenapa langit begitu jauh? Kenapa ada jarak untuk menyambung kisah? Kenapa cinta saja tidak cukup untuk merangkai kisah?</p>

<p>Kenapa langit membuat segala yang berada di bawahnya begitu berbeda?</p>

<p>Memandang langit untuk mengadu, menantang melawan merasa tak adil.</p>

<p>Kisahnya biasa, namun deras arusnya besar.</p>

<p>Di bawah langit meminta restu agar kisah tidak habis dengan satu akhir.</p>

<p>Berharap, ada satu untuk bersatu.</p>

<p>Namun, ketika langit pun tak mampu beri jawaban, mungkin kisah dua langit harus berakhir di musim hujan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/kisah-langit</guid>
      <pubDate>Mon, 29 Dec 2025 14:53:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Wonwoo mencari Soonyoung yang ternyata di depan rumahnya, sedang duduk...</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/wonwoo-mencari-soonyoung-yang-ternyata-di-depan-rumahnya-sedang-duduk-sendirian?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Wonwoo mencari Soonyoung yang ternyata di depan rumahnya, sedang duduk sendirian. &#xA;&#xA;Koper sudah ada di luar, mereka memang sedang bersiap-siap untuk pergi ke hotel. Hoshi masih mandi dan Seokmin yang terakhir Wonwoo cek sedang sarapan di dapur karena memang bangun paling siang.  &#xA;&#xA;Walaupun mereka selama di Yogjakarta akan menginap di hotel tapi tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke rumah Ibu Wonwoo lagi untuk menginap seperti malam sebelumnya, pesan beliau demikian untuk kembali berkunjung ke sana. &#xA;&#xA;&#34;Gemay&#34; panggil Wonwoo menghampiri dan duduk di sebelahnya. &#xA;&#xA;Soonyoung menoleh dan tersenyum. Matanya masih bengkak khas orang bangun tidur padahal ia sudah mandi dan mengganti pakaiannya. &#xA;&#xA;&#34;Sayang, tadi dapat undangan&#34; &#xA;&#xA;&#34;Undangan apa kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ulang tahun anak keduanya Larisa&#34; &#xA;&#xA;Soonyoung langsung melirik sinis, matanya mengecil otomatis tipis. &#xA;&#xA;&#34;Yang mantan kakak itu yah?&#34; &#xA;&#xA;Skakmat rasanya. &#xA;&#xA;&#34;E-eh bukan, bukan mantanku&#34; Wonwoo langsung menyilangkan tangannya panik. &#xA;&#xA;Soonyoung melirik penuh telisik lagi. &#xA;&#xA;&#34;Hehehe&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kok ketawa sih gemay?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kakak tuh kalo panik gemes&#34; &#xA;&#xA;Wonwoo yang sedikit kesal dan kegemasan langsung mengusap asal wajah Soonyoung dengan telapak tangannya. &#xA;&#xA;&#34;IHHHH KAKAK!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Mau ikut ga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Emang aku diundang juga?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Diundang dong, makanya aku bilang&#34; &#xA;&#xA;&#34;Terus kakak ngajak aku?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya gemay, mau ga? Kalau ga mau juga gapapa soalnya hari minggu itu kan agenda kita ke Parangtritis&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalo di undang ya harus dateng lah kak, emang rumahnya jauh?&#34; Tanya Soonyoung. &#xA;&#xA;&#34;Itu di blok sebelah aja&#34; &#xA;&#xA;&#34;Astaga, ternyata kakak tuh beneran tetanggaan sedeket itu sama Mba Larisa? Ih pantes di jodohin&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gemaaaayyy~&#34; Wonwoo sudah menyerah, Soonyoung terus menggodanya dengan cerita masa lalu itu. &#xA;&#xA;Soonyoungnya malah cekikikan sendiri. Senang mengganggu Wonwoo. &#xA;&#xA;&#34;Iya ayo ke sana nanti aku temenin, kita beli kado dulu ya kak&#34; &#xA;&#xA;Wonwoo mengangguk, kemudian mencubit hidung Soonyoung. Pipinya dicium tipis. &#xA;&#xA;&#34;Nyebelin&#34; kata Wonwoo sebelum akhirnya berdiri dan kembali masuk ke rumah. &#xA;&#xA;Yang ditinggal masih asik tertawa-tawa geli. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Wonwoo mencari Soonyoung yang ternyata di depan rumahnya, sedang duduk sendirian.</p>

<p>Koper sudah ada di luar, mereka memang sedang bersiap-siap untuk pergi ke hotel. Hoshi masih mandi dan Seokmin yang terakhir Wonwoo cek sedang sarapan di dapur karena memang bangun paling siang.</p>

<p>Walaupun mereka selama di Yogjakarta akan menginap di hotel tapi tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke rumah Ibu Wonwoo lagi untuk menginap seperti malam sebelumnya, pesan beliau demikian untuk kembali berkunjung ke sana.</p>

<p>“Gemay” panggil Wonwoo menghampiri dan duduk di sebelahnya.</p>

<p>Soonyoung menoleh dan tersenyum. Matanya masih bengkak khas orang bangun tidur padahal ia sudah mandi dan mengganti pakaiannya.</p>

<p>“Sayang, tadi dapat undangan”</p>

<p>“Undangan apa kak?”</p>

<p>“Ulang tahun anak keduanya Larisa”</p>

<p>Soonyoung langsung melirik sinis, matanya mengecil otomatis tipis.</p>

<p>“Yang mantan kakak itu yah?”</p>

<p>Skakmat rasanya.</p>

<p>“E-eh bukan, bukan mantanku” Wonwoo langsung menyilangkan tangannya panik.</p>

<p>Soonyoung melirik penuh telisik lagi.</p>

<p>“Hehehe”</p>

<p>“Kok ketawa sih gemay?”</p>

<p>“Kakak tuh kalo panik gemes”</p>

<p>Wonwoo yang sedikit kesal dan kegemasan langsung mengusap asal wajah Soonyoung dengan telapak tangannya.</p>

<p>“IHHHH KAKAK!”</p>

<p>“Mau ikut ga?”</p>

<p>“Emang aku diundang juga?”</p>

<p>“Diundang dong, makanya aku bilang”</p>

<p>“Terus kakak ngajak aku?”</p>

<p>“Iya gemay, mau ga? Kalau ga mau juga gapapa soalnya hari minggu itu kan agenda kita ke Parangtritis”</p>

<p>“Kalo di undang ya harus dateng lah kak, emang rumahnya jauh?” Tanya Soonyoung.</p>

<p>“Itu di blok sebelah aja”</p>

<p>“Astaga, ternyata kakak tuh beneran tetanggaan sedeket itu sama Mba Larisa? Ih pantes di jodohin”</p>

<p>“Gemaaaayyy~” Wonwoo sudah menyerah, Soonyoung terus menggodanya dengan cerita masa lalu itu.</p>

<p>Soonyoungnya malah cekikikan sendiri. Senang mengganggu Wonwoo.</p>

<p>“Iya ayo ke sana nanti aku temenin, kita beli kado dulu ya kak”</p>

<p>Wonwoo mengangguk, kemudian mencubit hidung Soonyoung. Pipinya dicium tipis.</p>

<p>“Nyebelin” kata Wonwoo sebelum akhirnya berdiri dan kembali masuk ke rumah.</p>

<p>Yang ditinggal masih asik tertawa-tawa geli.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/wonwoo-mencari-soonyoung-yang-ternyata-di-depan-rumahnya-sedang-duduk-sendirian</guid>
      <pubDate>Sat, 20 May 2023 14:49:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Seminar</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/seminar?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Semua panitia sudah dengan tugasnya masing-masing mengecek semua kebutuhan acara puncak hari ini. Di pagi hari pengumuman pemenang dan pembagian hadiah olimpiade akan dilaksanakan, dilanjutkan dengan seminar hingga tengah hari. &#xA;&#xA;Soonyoung sudah mengirim peta lokasi digital kepada Wonwoo sejak sejam lalu, dari komunikasi terakhirnya tadi Wonwoo sudah berangkat dengan satu swafoto sang kekasih dengan pakaian formal yang dipilihkan Soonyoung minggu lalu. Satu setel kemeja dan jas lama milik Wonwoo dari lemarinya, bukti bahwa yang bersangkutan tidak menukar pakaiannya. &#xA;&#xA;Di sisi lain Ketua BEM dan ketua divisi Humas kampusnya sudah bergegas menuju pintu keluar, nampaknya narasumber yang ditunggu sudah datang. Soonyoung memperhatikan dengan gugup di sudut ruangan sambil sesekali mengecek tugasnya yang belum selesai. &#xA;&#xA;Di area parkir sudah terparkir motor sport hitam dengan silinder tinggi, pemiliknya masih duduk di atas motor tersebut dan mengirimkan beberapa pesan yang salah satunya adalah kepada panitia acara mengabarkan kedatangannya. &#xA;&#xA;Shownu ketua BEM yang sampai lebih dulu langsung menyapa Wonwoo dan menjabat tangannya ramah, diikuti Irene yang tampak tidak baik-baik saja namun berusaha professional.&#xA;&#xA;Wonwoo membuka helm dan sarung tangannya sebelum menyambut jabatan tangan itu. Senyumnya lebar dengan sapaan selamat pagi. &#xA;&#xA;&#34;Pagi&#34; ujar Wonwoo. &#xA;&#xA;&#34;Pagi Pak, selamat datang&#34; &#xA;&#xA;Kemudian Wonwoo mengulangi sapaannya beralih kepada Irene. &#xA;&#xA;&#34;Pagi, Mba Irene&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pagi Pak&#34; jawab Irene kikuk. &#xA;&#xA;&#34;Chankyung belum sampai ya?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Belum pak, infonya Mas Chankyung 10 menit lagi sampai&#34; &#xA;&#xA;&#34;Okay. Saya tunggu Chankyung aja dulu kalau kalian mau lanjut aja ke dalam gapapa&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kita temenin aja Pak di sini gapapa kok, bapak sudah sarapan belum?&#34; kata Shownu.&#xA;&#xA;&#34;Udah tadi di rumah, saya pasti sarapan dulu sebelum aktifitas&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wah bapak teratur banget sehari-harinya&#34; itu Irene. &#xA;&#xA;&#34;Sebenarnya karena saya ada asam lambung, kalau gak sarapan bisa repot&#34; tawa Wonwoo bercanda, membuat suasana mencair. &#xA;&#xA;Tak lama Chankyung dari tim HC yang bertugas menemani Wonwoo hari ini datang, dengan segan meminta maaf karena hadir lebih lambat dari Wonwoo. &#xA;&#xA;Keempatnya memasuki area auditorium diikuti pandangan penasaran dan kagum dari mahasiswa sekitar. &#xA;&#xA;Ketua BEM, mahasiswi populer dan dua eksekutif muda berpakaian formal memang kombinasi yang sangat menarik perhatian pagi ini.&#xA;&#xA;Wonwoo sampai di ruang  tunggu yang sangat terang dan bersih. Di dalam sana sudah ada sofa nyaman, satu dispenser dan 2 meja besar yang di atasnya sudah dihidangkan berbagai macam roti lengkap dengan pemanggangnya, selai nanas, susu kental manis dan kopi merk kesukaan Wonwoo. Kebetulan sekali? atau mungkin tidak?&#xA;&#xA;Chankyung duduk di kursi sudut setelah mengambil satu botol air mineral. &#xA;&#xA;&#34;Mas, lumayan juga nih welcome drinknya&#34; &#xA;&#xA;Wonwoo hanya terkekeh karena selanjutnya nampak satu tim panitia masuk ke ruangan itu. &#xA;&#xA;Matanya mengedar mencari sosok yang dikenal dan saat sepasang mata itu bertemu, sudut bibirnya naik. &#xA;&#xA;Selanjutnya satu per satu panitia sekaligus anggota BEM memperkenalkan diri mereka. &#xA;&#xA;&#34;Salam kenal Pak, saya Eunjae sebagai wakil ketua BEM&#34; Wonwoo menatap sejenak wajah lawan bicaranya sebelum tersenyum dan menjabat tangannya. Dari kejauhan terlihat Soonyoung yang sudah mengedarkan pandangannya ke arah lain, entah mungkin karena tak ingin melihat interaksi itu. &#xA;&#xA;Perkenalan terus berlanjut penuh dengan antusias terutama tim panitia perempuan seperti Sunmi, Eunchae dan Minjeong hingga sekarang adalah giliran Soonyoung, keduanya menjabat tangan masing-masing yang tentu terasa tak asing. &#xA;&#xA;Soonyoung tersenyum kaku. &#xA;&#xA;&#34;Saya Soonyoung ka-Pak&#34; hampir saja. &#xA;&#xA;Wonwoo hanya mengangguk, kalau saja tidak ada orang di ruangan ini sudah pasti Wonwoo sudah menghambur memeluk Sooyoung karena hampir mati karena pacarnya yang terlalu menggemaskan. &#xA;&#xA;Selanjutnya ketua BEM memimpin briefing dan memberikan informasi singkat mengenai alur acara hari ini kepada Wonwoo. Setelahnya panitia keluar dan melanjutkan persiapannya, namun ada satu tangan yang ditahan diam-diam. &#xA; &#xA;Soonyoung menoleh. &#xA;&#xA;&#34;Good job, gemay&#34; &#xA;&#xA;Soonyoung sedikit kaget atas aksi tiba-tiba Wonwoo, untung saja semua rekannya sudah keluar dari ruangan itu.&#xA;&#xA;Wajahnya lebih rilleks, senyumnya yang dari tadi ditahan akhirnya mengembang. &#xA;&#xA;&#34;Kakak, aku rasanya mau pingsan&#34; &#xA;&#xA;Wonwoo tertawa. &#xA;&#xA;&#34;Don&#39;t overthink, gemay&#34; Wonwoo mengucapkan itu sambil menyentuh badge name panitia yang berkalung di leher kekasihnya, mengusap nama yang tertera di sana, senyumnya terlihat sangat bangga. &#xA;&#xA;Soonyoung yang ia kenal sudah sejauh ini, Soonyoung yang ia kenal pertama kali itu dulu adalah anak yang pemalu dengan satu dua teman saja saat di bangku SMA, sekarang lihat lah dia bahkan bergabung dalam organisasi mahasiswa.  &#xA;&#xA;&#34;Kakak cicip dulu kopi sama rotinya sebelum acaranya mulai, itu aku yang siapin&#34; &#xA;&#xA;&#34;Pantes sesuai selera. Oke bintang 5&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung kemudian melirik sinis &#34;Emangnya aku gofood&#34;&#xA;&#xA;Wonwoo lagi-lagi tertawa, suasan hatinya sangat baik pagi ini. &#xA;&#xA;Soonyoung membersihkan sedikit debu di pundak Wonwoo dan membenarkan jasnya sebelum akhirnya pamit keluar.  &#xA;&#xA;Di sisi lain Chankyung terlihat bingung namun ia berusaha tetap diam dan mungkin akan bertanya nanti. &#xA;&#xA;Tepat pukul 09.00 acara dimulai, peserta sudah duduk di kursinya masing-masing. Tiket seminar kali ini benar-benar terjual habis di luar ekspektasi panitia jika antusianya akan sangat tinggi. &#xA;&#xA;Saat Wonwoo dipanggil oleh pemandu acara hari ini, riuh tepuk tangan menggema di auditorium mengiringi langkah kakinya naik ke atas panggung. &#xA;&#xA;Banyak pujian dan pandangan kagum tertuju pada Manager muda itu. &#xA;Sesi seminar pun di mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan oleh panitia dan pembawa acara. &#xA;&#xA;Wonwoo banyak berbagi cerita pengalamannya semenjak kuliah dan bagaimana ia menjalani perjalanan karirnya hingga saat ini. Banyak pandangan positif yang ia bagikan untuk para mahasiswa yang  hadir hingga akhirnya sesi pertanyaan terakhir bagi peserta yang datang. &#xA;&#xA;&#34;Silahkan pertanyaan terakhir, sebutkan nama dan fakultas ya&#34; pembawa acara mempersilahkan. &#xA;&#xA;&#34;Saya Chaeyong dari Fakultas Ekonomi, salam kenal Pak&#34;&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal Mba Chaeyong&#34; ujar Wonwoo selalu dengan senyumnya. &#xA;&#xA;&#34;Pertanyaannya simple sih Pak, dari cerita pengalaman bapak tadi bener-bener seperti sangat menikmati perjalanan karir yang dirintis satu per satu dan gak terlalu memikirkan beban kerja yang bikin stress out bahkan masih bisa menjalankan hobi motoran. Jadi, gini pak pertanyaannya apa bapak sudah ada yang dibonceng kalau sunmori?&#34; seketika gedung auditorium bergemuruh ribut. &#xA;&#xA;Chaeyong mendapatkan sorakan ramai dukungan atas pertanyaannya dan acungan jempol dari mahasiswi lain. &#xA;&#xA;&#34;Pertanyaan bagus, saudari Chaeyong&#34; timbal pembawa acara sekaligus merupakan asisten muda dosen di Fakultas MIPA membuat gedung kembali ramai. &#xA;&#xA;Wonwoo yang mendengar terkekeh tak menyangka pertanyaan terakhirnya menyangkut kehidupan pribadi. &#xA;&#xA;&#34;Kalau sunmori kebetulan sudah ada yang saya boceng&#34; otomatis jawaban singkat Wonwoo barusan membuat riuh semangat barusan berubah menjadi helaan napas lemas dari sebagian besar peserta yang hadir namun suasana masih sama tetap menyenangkan. &#xA;&#xA;Di bawah panggung terpantau ada wajah yang memerah panas.&#xA;&#xA;Setelah beberapa kalimat penutup dari pembawa acara, dengan itu secara resmi seminar hari ini telah selesai. &#xA;&#xA;Wonwoo berpamitan dan turun dari panggung. &#xA;&#xA;----------------------&#xA;&#xA;Acara selanjutnya adalah makan siang bersama saat semua pekerjaan di auditorium selesai. &#xA;&#xA;Para panitia termasuk Soonyoung sudah duduk di satu meja besar bersama Wonwoo dan Chankyung. &#xA;&#xA;&#34;Bapak, saya benar-benar berterimakasih sudah mau berpartisipasi di seminar kita tahun ini&#34; ujar Shownu. &#xA;&#xA;&#34;Terimakasih kembali sudah mengundang saya. Acaranya bagus dan persiapannya matang. Keren&#34; Wonwoo memuji hasil pekerjaan panitia yang sudah disiapakan sejak tiga bulan lalu, membuat mereka yang sudah bekerja keras merasa lega. &#xA;&#xA;&#34;Oh iya, untuk hasil open recruitmentnya tadi bisa kami follow up kemana ya?&#34; Itu Eunjae. &#xA;&#xA;&#34;Dari kantor nanti akan menghubungi langsung bagi yang lolos seleksi berkas, tapi kalau kalian mau follow up boleh langsung ke saya nanti diinfo updatenya&#34; balas Chankyung&#xA;&#xA;&#34;Siap thank you mas&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ngomong-ngomong pak, tadi yang pertanyaan terakhir saya boleh lanjut tanya gak?&#34; Dengan semangat kemerdekaan Minjeong bertanya, membuat teman sekelasnya Yeonjun menepuk jidat. &#xA;&#xA;&#34;Boleh&#34; balas Wonwoo sambil menyuap makanannya. Suasana memang sangat santai, dan masing-masing juga menyantap makanannya. &#xA;&#xA;&#34;Yang dibonceng sunmori tadi pasti sesukses bapak juga ya?&#34; Telisik penasaran Minjeong. &#xA;&#xA;Sunmi, Irene dan Eunchae diam-diam mendengarkan dengan penasaran. &#xA;&#xA;&#34;Amin. Doa saya sih dia bisa lebih sukses dari saya. Orangnya lagi belajar seperti kalian juga&#34; &#xA;&#xA;&#34;HAHH?!&#34; Sunmi tak bisa mengontrol ekspresinya, saat sadar ia langsung meminta maaf. &#xA;&#xA;&#34;Pacar saya masih kuliah, anak UI juga&#34; ucap Wonwoo dengan senyum bangganya. &#xA;&#xA;&#34;Oh iya Pak? Fakultas mana?&#34; tak disangka-sangka pertanyaan itu keluar dari ketua BEM. &#xA;&#xA;&#34;Fakultas Ekonomi&#34; &#xA;&#xA;Di ujung meja Soonyoung sudah tidak bisa menelan makanannya. &#xA;&#xA;&#34;Loh satu fakultas sama Soonyoung dong&#34; &#xA;&#xA;Seluruh atensi kemudian mengarah kepada Soonyoung. &#xA;&#xA;&#34;Bukan satu fakultas lagi. Memang Soonyoung pacar saya&#34; &#xA;&#xA;Eunjae tersedak air minumnya. Minjeong yang baru akan menyuap potongan ayam bakarnya otomatis menjatuhkan garpu ke lantai. &#xA;&#xA;Yeonjun membelalakan matanya lebar dan menatap Wonwoo kaget. &#xA;&#xA;Hampir semua orang di meja itu terkejut tidak terkecuali Soonyoung dan Chankyung. &#xA;&#xA;Di perhatikan bergantian, Soonyoung akhirnya memberikan senyum kakunya. Tidak tahu harus berbuat apa. &#xA;&#xA;&#34;Waduh, saya pamit mau nyebat dulu&#34; Eunjae kemudian berdiri berpamitan dengan sopan. &#xA;&#xA;Karena suana yang terasa agak canggung, Shownu juga menawarkan Wonwoo untuk merokok keluar.&#xA;&#xA;&#34;Bapak ngerokok gak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Saya ngerokok tapi lagi ngurangin soalnya suka di marahin Soonyoung&#34; &#xA;&#xA;Lagi-lagi gebrakan Wonwoo membuat separuh orang yang ada di sana dibuat histeris. &#xA;&#xA;Sunmi sudah memukul-mukul paha Minjeong adik tingkatnya di bawah meja diam-diam tak tahan. &#xA;&#xA;Soonyoung? Tidak tahu, rasanya seperti ingin kabur dan ambil cuti kuliah. &#xA;&#xA;Ia malu sekaligus lega. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Semua panitia sudah dengan tugasnya masing-masing mengecek semua kebutuhan acara puncak hari ini. Di pagi hari pengumuman pemenang dan pembagian hadiah olimpiade akan dilaksanakan, dilanjutkan dengan seminar hingga tengah hari.</p>

<p>Soonyoung sudah mengirim peta lokasi digital kepada Wonwoo sejak sejam lalu, dari komunikasi terakhirnya tadi Wonwoo sudah berangkat dengan satu swafoto sang kekasih dengan pakaian formal yang dipilihkan Soonyoung minggu lalu. Satu setel kemeja dan jas lama milik Wonwoo dari lemarinya, bukti bahwa yang bersangkutan tidak menukar pakaiannya.</p>

<p>Di sisi lain Ketua BEM dan ketua divisi Humas kampusnya sudah bergegas menuju pintu keluar, nampaknya narasumber yang ditunggu sudah datang. Soonyoung memperhatikan dengan gugup di sudut ruangan sambil sesekali mengecek tugasnya yang belum selesai.</p>

<p>Di area parkir sudah terparkir motor sport hitam dengan silinder tinggi, pemiliknya masih duduk di atas motor tersebut dan mengirimkan beberapa pesan yang salah satunya adalah kepada panitia acara mengabarkan kedatangannya.</p>

<p>Shownu ketua BEM yang sampai lebih dulu langsung menyapa Wonwoo dan menjabat tangannya ramah, diikuti Irene yang tampak tidak baik-baik saja namun berusaha professional.</p>

<p>Wonwoo membuka helm dan sarung tangannya sebelum menyambut jabatan tangan itu. Senyumnya lebar dengan sapaan selamat pagi.</p>

<p>“Pagi” ujar Wonwoo.</p>

<p>“Pagi Pak, selamat datang”</p>

<p>Kemudian Wonwoo mengulangi sapaannya beralih kepada Irene.</p>

<p>“Pagi, Mba Irene”</p>

<p>“Pagi Pak” jawab Irene kikuk.</p>

<p>“Chankyung belum sampai ya?”</p>

<p>“Belum pak, infonya Mas Chankyung 10 menit lagi sampai”</p>

<p>“Okay. Saya tunggu Chankyung aja dulu kalau kalian mau lanjut aja ke dalam gapapa”</p>

<p>“Kita temenin aja Pak di sini gapapa kok, bapak sudah sarapan belum?” kata Shownu.</p>

<p>“Udah tadi di rumah, saya pasti sarapan dulu sebelum aktifitas”</p>

<p>“Wah bapak teratur banget sehari-harinya” itu Irene.</p>

<p>“Sebenarnya karena saya ada asam lambung, kalau gak sarapan bisa repot” tawa Wonwoo bercanda, membuat suasana mencair.</p>

<p>Tak lama Chankyung dari tim HC yang bertugas menemani Wonwoo hari ini datang, dengan segan meminta maaf karena hadir lebih lambat dari Wonwoo.</p>

<p>Keempatnya memasuki area auditorium diikuti pandangan penasaran dan kagum dari mahasiswa sekitar.</p>

<p>Ketua BEM, mahasiswi populer dan dua eksekutif muda berpakaian formal memang kombinasi yang sangat menarik perhatian pagi ini.</p>

<p>Wonwoo sampai di ruang  tunggu yang sangat terang dan bersih. Di dalam sana sudah ada sofa nyaman, satu dispenser dan 2 meja besar yang di atasnya sudah dihidangkan berbagai macam roti lengkap dengan pemanggangnya, selai nanas, susu kental manis dan kopi merk kesukaan Wonwoo. Kebetulan sekali? atau mungkin tidak?</p>

<p>Chankyung duduk di kursi sudut setelah mengambil satu botol air mineral.</p>

<p>“Mas, lumayan juga nih welcome drinknya”</p>

<p>Wonwoo hanya terkekeh karena selanjutnya nampak satu tim panitia masuk ke ruangan itu.</p>

<p>Matanya mengedar mencari sosok yang dikenal dan saat sepasang mata itu bertemu, sudut bibirnya naik.</p>

<p>Selanjutnya satu per satu panitia sekaligus anggota BEM memperkenalkan diri mereka.</p>

<p>“Salam kenal Pak, saya Eunjae sebagai wakil ketua BEM” Wonwoo menatap sejenak wajah lawan bicaranya sebelum tersenyum dan menjabat tangannya. Dari kejauhan terlihat Soonyoung yang sudah mengedarkan pandangannya ke arah lain, entah mungkin karena tak ingin melihat interaksi itu.</p>

<p>Perkenalan terus berlanjut penuh dengan antusias terutama tim panitia perempuan seperti Sunmi, Eunchae dan Minjeong hingga sekarang adalah giliran Soonyoung, keduanya menjabat tangan masing-masing yang tentu terasa tak asing.</p>

<p>Soonyoung tersenyum kaku.</p>

<p>“Saya Soonyoung ka-Pak” hampir saja.</p>

<p>Wonwoo hanya mengangguk, kalau saja tidak ada orang di ruangan ini sudah pasti Wonwoo sudah menghambur memeluk Sooyoung karena hampir mati karena pacarnya yang terlalu menggemaskan.</p>

<p>Selanjutnya ketua BEM memimpin briefing dan memberikan informasi singkat mengenai alur acara hari ini kepada Wonwoo. Setelahnya panitia keluar dan melanjutkan persiapannya, namun ada satu tangan yang ditahan diam-diam.</p>

<p>Soonyoung menoleh.</p>

<p>“Good job, gemay”</p>

<p>Soonyoung sedikit kaget atas aksi tiba-tiba Wonwoo, untung saja semua rekannya sudah keluar dari ruangan itu.</p>

<p>Wajahnya lebih rilleks, senyumnya yang dari tadi ditahan akhirnya mengembang.</p>

<p>“Kakak, aku rasanya mau pingsan”</p>

<p>Wonwoo tertawa.</p>

<p>“Don&#39;t overthink, gemay” Wonwoo mengucapkan itu sambil menyentuh badge name panitia yang berkalung di leher kekasihnya, mengusap nama yang tertera di sana, senyumnya terlihat sangat bangga.</p>

<p>Soonyoung yang ia kenal sudah sejauh ini, Soonyoung yang ia kenal pertama kali itu dulu adalah anak yang pemalu dengan satu dua teman saja saat di bangku SMA, sekarang lihat lah dia bahkan bergabung dalam organisasi mahasiswa.</p>

<p>“Kakak cicip dulu kopi sama rotinya sebelum acaranya mulai, itu aku yang siapin”</p>

<p>“Pantes sesuai selera. Oke bintang 5”</p>

<p>Soonyoung kemudian melirik sinis “Emangnya aku gofood”</p>

<p>Wonwoo lagi-lagi tertawa, suasan hatinya sangat baik pagi ini.</p>

<p>Soonyoung membersihkan sedikit debu di pundak Wonwoo dan membenarkan jasnya sebelum akhirnya pamit keluar.</p>

<p>Di sisi lain Chankyung terlihat bingung namun ia berusaha tetap diam dan mungkin akan bertanya nanti.</p>

<p>Tepat pukul 09.00 acara dimulai, peserta sudah duduk di kursinya masing-masing. Tiket seminar kali ini benar-benar terjual habis di luar ekspektasi panitia jika antusianya akan sangat tinggi.</p>

<p>Saat Wonwoo dipanggil oleh pemandu acara hari ini, riuh tepuk tangan menggema di auditorium mengiringi langkah kakinya naik ke atas panggung.</p>

<p>Banyak pujian dan pandangan kagum tertuju pada Manager muda itu.
Sesi seminar pun di mulai dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan oleh panitia dan pembawa acara.</p>

<p>Wonwoo banyak berbagi cerita pengalamannya semenjak kuliah dan bagaimana ia menjalani perjalanan karirnya hingga saat ini. Banyak pandangan positif yang ia bagikan untuk para mahasiswa yang  hadir hingga akhirnya sesi pertanyaan terakhir bagi peserta yang datang.</p>

<p>“Silahkan pertanyaan terakhir, sebutkan nama dan fakultas ya” pembawa acara mempersilahkan.</p>

<p>“Saya Chaeyong dari Fakultas Ekonomi, salam kenal Pak”</p>

<p>“Salam kenal Mba Chaeyong” ujar Wonwoo selalu dengan senyumnya.</p>

<p>“Pertanyaannya simple sih Pak, dari cerita pengalaman bapak tadi bener-bener seperti sangat menikmati perjalanan karir yang dirintis satu per satu dan gak terlalu memikirkan beban kerja yang bikin stress out bahkan masih bisa menjalankan hobi motoran. Jadi, gini pak pertanyaannya apa bapak sudah ada yang dibonceng kalau sunmori?” seketika gedung auditorium bergemuruh ribut.</p>

<p>Chaeyong mendapatkan sorakan ramai dukungan atas pertanyaannya dan acungan jempol dari mahasiswi lain.</p>

<p>“Pertanyaan bagus, saudari Chaeyong” timbal pembawa acara sekaligus merupakan asisten muda dosen di Fakultas MIPA membuat gedung kembali ramai.</p>

<p>Wonwoo yang mendengar terkekeh tak menyangka pertanyaan terakhirnya menyangkut kehidupan pribadi.</p>

<p>“Kalau sunmori kebetulan sudah ada yang saya boceng” otomatis jawaban singkat Wonwoo barusan membuat riuh semangat barusan berubah menjadi helaan napas lemas dari sebagian besar peserta yang hadir namun suasana masih sama tetap menyenangkan.</p>

<p>Di bawah panggung terpantau ada wajah yang memerah panas.</p>

<p>Setelah beberapa kalimat penutup dari pembawa acara, dengan itu secara resmi seminar hari ini telah selesai.</p>

<p>Wonwoo berpamitan dan turun dari panggung.</p>

<hr/>

<p>Acara selanjutnya adalah makan siang bersama saat semua pekerjaan di auditorium selesai.</p>

<p>Para panitia termasuk Soonyoung sudah duduk di satu meja besar bersama Wonwoo dan Chankyung.</p>

<p>“Bapak, saya benar-benar berterimakasih sudah mau berpartisipasi di seminar kita tahun ini” ujar Shownu.</p>

<p>“Terimakasih kembali sudah mengundang saya. Acaranya bagus dan persiapannya matang. Keren” Wonwoo memuji hasil pekerjaan panitia yang sudah disiapakan sejak tiga bulan lalu, membuat mereka yang sudah bekerja keras merasa lega.</p>

<p>“Oh iya, untuk hasil open recruitmentnya tadi bisa kami follow up kemana ya?” Itu Eunjae.</p>

<p>“Dari kantor nanti akan menghubungi langsung bagi yang lolos seleksi berkas, tapi kalau kalian mau follow up boleh langsung ke saya nanti diinfo updatenya” balas Chankyung</p>

<p>“Siap thank you mas”</p>

<p>“Ngomong-ngomong pak, tadi yang pertanyaan terakhir saya boleh lanjut tanya gak?” Dengan semangat kemerdekaan Minjeong bertanya, membuat teman sekelasnya Yeonjun menepuk jidat.</p>

<p>“Boleh” balas Wonwoo sambil menyuap makanannya. Suasana memang sangat santai, dan masing-masing juga menyantap makanannya.</p>

<p>“Yang dibonceng sunmori tadi pasti sesukses bapak juga ya?” Telisik penasaran Minjeong.</p>

<p>Sunmi, Irene dan Eunchae diam-diam mendengarkan dengan penasaran.</p>

<p>“Amin. Doa saya sih dia bisa lebih sukses dari saya. Orangnya lagi belajar seperti kalian juga”</p>

<p>“HAHH?!” Sunmi tak bisa mengontrol ekspresinya, saat sadar ia langsung meminta maaf.</p>

<p>“Pacar saya masih kuliah, anak UI juga” ucap Wonwoo dengan senyum bangganya.</p>

<p>“Oh iya Pak? Fakultas mana?” tak disangka-sangka pertanyaan itu keluar dari ketua BEM.</p>

<p>“Fakultas Ekonomi”</p>

<p>Di ujung meja Soonyoung sudah tidak bisa menelan makanannya.</p>

<p>“Loh satu fakultas sama Soonyoung dong”</p>

<p>Seluruh atensi kemudian mengarah kepada Soonyoung.</p>

<p>“Bukan satu fakultas lagi. Memang Soonyoung pacar saya”</p>

<p>Eunjae tersedak air minumnya. Minjeong yang baru akan menyuap potongan ayam bakarnya otomatis menjatuhkan garpu ke lantai.</p>

<p>Yeonjun membelalakan matanya lebar dan menatap Wonwoo kaget.</p>

<p>Hampir semua orang di meja itu terkejut tidak terkecuali Soonyoung dan Chankyung.</p>

<p>Di perhatikan bergantian, Soonyoung akhirnya memberikan senyum kakunya. Tidak tahu harus berbuat apa.</p>

<p>“Waduh, saya pamit mau nyebat dulu” Eunjae kemudian berdiri berpamitan dengan sopan.</p>

<p>Karena suana yang terasa agak canggung, Shownu juga menawarkan Wonwoo untuk merokok keluar.</p>

<p>“Bapak ngerokok gak?”</p>

<p>“Saya ngerokok tapi lagi ngurangin soalnya suka di marahin Soonyoung”</p>

<p>Lagi-lagi gebrakan Wonwoo membuat separuh orang yang ada di sana dibuat histeris.</p>

<p>Sunmi sudah memukul-mukul paha Minjeong adik tingkatnya di bawah meja diam-diam tak tahan.</p>

<p>Soonyoung? Tidak tahu, rasanya seperti ingin kabur dan ambil cuti kuliah.</p>

<p>Ia malu sekaligus lega.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/seminar</guid>
      <pubDate>Sun, 14 May 2023 15:08:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kampus</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/kampus?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kampus &#xA;&#xA;Hoshi keluar lebih dulu dari mobil hatchback hitam miliknya, celana jeans, baju kaos oblong putih dengan lather jaket sebagai pelengkap pakaiannya hari ini. &#xA;&#xA;Di sisi lain Soonyoung mengikuti, kemeja cream dengan jeans biru. &#xA;&#xA;Keduanya berjalan bersisihan dari area parkir ke gedung sekre tempat Soonyoung tuju. &#xA;&#xA;Semua mata kuliah sudah selesai semester ini, beberapa mahasiswa ada yang kembali ke kotanya masing-masing namun banyak juga yang masih tinggal, sibuk dengan kegiatan organisasinya seperti Soonyoung. &#xA;&#xA;Hari ini tidak ada kegiatan lain selain meeting bersama anggota BEM untuk membahas event Olimpiade untuk siswa SMA dan Seminar yang akan dilaksanakan minggu depan. &#xA;&#xA;Kampus masih cukup ramai dengan mahasiswa berlalu lalang. &#xA;&#xA;Keberadaan si kembar yang melewati area fakultas dengan penampilan yang kentara itu banyak mengundang perhatian bagi mereka yang kebetulan berpapasan. &#xA;&#xA;Perhatian ini sebenarnya bukan hal yang asing, hampir setiap kali jika Soonyoung dan Hoshi jalan bersama hal-hal seperti ini pasti sering terjadi. Keberadaan keduannya kerap menarik perhatian sekitar. &#xA;&#xA;Dengan cuek Hoshi berlalu mengikuti Soonyoung yang kini berjalan sedikit lebih di depan menuju ruang Sekre. &#xA;&#xA;Di sana lima anggota BEM sudah datang lebih dulu. Irene, Eunjae, Minjeong, Yeonju dan Eunchae. &#xA;&#xA;Kelimanya dibuat kaku saat melihat kedua anak kembar itu masuk. &#xA;&#xA;Soonyoung menyapa terlebih dulu. &#xA;&#xA;&#34;Pagi kak, maaf saudara aku numpang ngadem ya. Soalnya habis ini mau pergi jalan tapi kalau bolak balik lagi jemput ke rumah agak jauh&#34; kata Soonyoung sedikit ragu takut kakak tingkat dan temannya tak nyaman atas kehadiran mereka.&#xA;&#xA;Irene yang akhirnya menjawab. &#xA;&#xA;&#34;Oh iya gapapa gapapa Soonyoung, duduk aja di sini nimbrung&#34; &#xA;&#xA;&#34;Oh iya makasih kak&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nama saudaranya siapa?&#34; Tanya Irene lagi. &#xA;&#xA;Hoshi langsung berjalan mendekat. Menjulurkan tangannya. Berkenalan. &#xA;&#xA;&#34;Hoshi&#34; katanya&#xA;&#xA;&#34;Gue Irene&#34; &#xA;&#xA;Hoshi kemudian dengan ramah menyalami satu per satu kakak kelas dan teman Soonyoung. Memang pribadinya yang supel sehingga tak canggung kalau hanya sekedar berkenalan. &#xA;&#xA;&#34;Gue Eunjae, kembar?&#34; Tanya Wakil Ketua BEM itu. &#xA;&#xA;&#34;Menurut lo?&#34; Senyum Hoshi lebar sambil menjabat tangannya, tapi nadanya sarkas. &#xA;&#xA;Di unjung sana Soonyoung rasanya ingin sekali menepuk jidat dengan kencang. &#xA;&#xA; &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kampus</p>

<p>Hoshi keluar lebih dulu dari mobil hatchback hitam miliknya, celana jeans, baju kaos oblong putih dengan lather jaket sebagai pelengkap pakaiannya hari ini.</p>

<p>Di sisi lain Soonyoung mengikuti, kemeja cream dengan jeans biru.</p>

<p>Keduanya berjalan bersisihan dari area parkir ke gedung sekre tempat Soonyoung tuju.</p>

<p>Semua mata kuliah sudah selesai semester ini, beberapa mahasiswa ada yang kembali ke kotanya masing-masing namun banyak juga yang masih tinggal, sibuk dengan kegiatan organisasinya seperti Soonyoung.</p>

<p>Hari ini tidak ada kegiatan lain selain meeting bersama anggota BEM untuk membahas event Olimpiade untuk siswa SMA dan Seminar yang akan dilaksanakan minggu depan.</p>

<p>Kampus masih cukup ramai dengan mahasiswa berlalu lalang.</p>

<p>Keberadaan si kembar yang melewati area fakultas dengan penampilan yang kentara itu banyak mengundang perhatian bagi mereka yang kebetulan berpapasan.</p>

<p>Perhatian ini sebenarnya bukan hal yang asing, hampir setiap kali jika Soonyoung dan Hoshi jalan bersama hal-hal seperti ini pasti sering terjadi. Keberadaan keduannya kerap menarik perhatian sekitar.</p>

<p>Dengan cuek Hoshi berlalu mengikuti Soonyoung yang kini berjalan sedikit lebih di depan menuju ruang Sekre.</p>

<p>Di sana lima anggota BEM sudah datang lebih dulu. Irene, Eunjae, Minjeong, Yeonju dan Eunchae.</p>

<p>Kelimanya dibuat kaku saat melihat kedua anak kembar itu masuk.</p>

<p>Soonyoung menyapa terlebih dulu.</p>

<p>“Pagi kak, maaf saudara aku numpang ngadem ya. Soalnya habis ini mau pergi jalan tapi kalau bolak balik lagi jemput ke rumah agak jauh” kata Soonyoung sedikit ragu takut kakak tingkat dan temannya tak nyaman atas kehadiran mereka.</p>

<p>Irene yang akhirnya menjawab.</p>

<p>“Oh iya gapapa gapapa Soonyoung, duduk aja di sini nimbrung”</p>

<p>“Oh iya makasih kak”</p>

<p>“Nama saudaranya siapa?” Tanya Irene lagi.</p>

<p>Hoshi langsung berjalan mendekat. Menjulurkan tangannya. Berkenalan.</p>

<p>“Hoshi” katanya</p>

<p>“Gue Irene”</p>

<p>Hoshi kemudian dengan ramah menyalami satu per satu kakak kelas dan teman Soonyoung. Memang pribadinya yang supel sehingga tak canggung kalau hanya sekedar berkenalan.</p>

<p>“Gue Eunjae, kembar?” Tanya Wakil Ketua BEM itu.</p>

<p>“Menurut lo?” Senyum Hoshi lebar sambil menjabat tangannya, tapi nadanya sarkas.</p>

<p>Di unjung sana Soonyoung rasanya ingin sekali menepuk jidat dengan kencang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/kampus</guid>
      <pubDate>Thu, 11 May 2023 12:12:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Jogja</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/jogja?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jogja&#xA;&#xA;Angin malam meniup halus permukaan wajah Soonyoung, dagunya di topang ke pundak yang lebih lebar, tangannya melingkar nyaman di pinggang pacar. &#xA;&#xA;&#34;Lama ga keluar malem-malem ya gemay?&#34; Kata Wonwoo sambil menyetir motor sport hitamnya. &#xA;&#xA;Soonyoung mengangguk, kaca helmnya hampir turun karena longgar. &#xA;&#xA;&#34;Habis kitanya sibuk sih kak sekarang, midsem kemarin juga bikin pusing banget. Kuliah jauh beda dari SMA&#34; katanya, masih diposisi nyaman yang sama. &#xA;&#xA;&#34;Gapapa, ini tuh masa-masa emas kamu. Nikmatin, soalnya kalo menurut aku ya versi paling seru kehidupan itu waktu kuliah&#34; &#xA;&#xA;&#34;Masa?&#34; Tanya Soonyoung khas dengan nada suaranya sedikit tengil kalau sudah menyangkut tentang pendapat pacarnya. &#xA;&#xA;Lawan bicaranya hanya terkekeh, sudah biasa. &#xA;&#xA;Tangan kiri mengusap sepasang tangan yang melingkar dipinggang. Pelan dan lembut. &#xA;&#xA;&#34;Ke Jogja nya jadi kan, sayang?&#34;&#xA;&#xA;Seketika menjadi hening. &#xA;&#xA;Diusap lagi punggung telapak tangan itu. &#xA;&#xA;Wonwoo tidak memaksa jawabannya, ia hanya menunggu dengan sabar Soonyoung yang masih diam di pundaknya.&#xA;&#xA;&#34;Kakak, aku izin ayah bunda dulu&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah pasti gemay. Nanti aku juga ke rumah minta izin, gak mungkin langsung aku boyong&#34; &#xA;&#xA;&#34;Rencana kakak berapa hari?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Satu minggu, kelamaan gak?&#34; &#xA;&#xA;Motor besar itu masih dengan lihai melaju di atas aspal. Kecepatannya standar, karena pengendaranya yang ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama. &#xA;&#xA;Soonyoung mengangguk di belakamg, dagunya bergesekan dengan pundak Wonwoo mengisyaratkan jawabannya. &#xA;&#xA;&#34;Okay. Seminggu ya, aku submit cuti dulu setelah seminar di UI, habis itu kita berangkat ya gemay&#34; &#xA;&#xA;&#34;....kalau di kasih izin ayah&#34; sambungnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya kak&#34; jawab Soonyoung pelan. &#xA;&#xA;Sejujurnya Soonyoung masih tak percayadiri untuk bertemu langsung dengan ibu kandung Wonwoo. &#xA;&#xA;Dia tidak punya persiapan apa-apa atau hal yang bisa dibanggakan untuk bersanding dengan Wonwoo. &#xA;&#xA;Soonyoung sendiri masih ragu dengan dirinya, jadi bagaimana bisa membuat orang lain yakin? &#xA;&#xA;&#34;Don&#39;t overthink sayang haha&#34; Wonwoo mencairkan suasana. &#xA;&#xA;&#34;Ini mudik biasa kaya tahun-tahun kemarin aku jenguk ibu, bedanya aku bawa temen. Temen hidup kalau kamunya mau&#34; suara Wonwoo iseng dengan senyuman usilnya terlihat dari kaca spion. &#xA;&#xA;Satu pukulan mendarat dipundak yang lebih tua, membuat keduanya terkekeh geli. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jogja</p>

<p>Angin malam meniup halus permukaan wajah Soonyoung, dagunya di topang ke pundak yang lebih lebar, tangannya melingkar nyaman di pinggang pacar.</p>

<p>“Lama ga keluar malem-malem ya gemay?” Kata Wonwoo sambil menyetir motor sport hitamnya.</p>

<p>Soonyoung mengangguk, kaca helmnya hampir turun karena longgar.</p>

<p>“Habis kitanya sibuk sih kak sekarang, midsem kemarin juga bikin pusing banget. Kuliah jauh beda dari SMA” katanya, masih diposisi nyaman yang sama.</p>

<p>“Gapapa, ini tuh masa-masa emas kamu. Nikmatin, soalnya kalo menurut aku ya versi paling seru kehidupan itu waktu kuliah”</p>

<p>“Masa?” Tanya Soonyoung khas dengan nada suaranya sedikit tengil kalau sudah menyangkut tentang pendapat pacarnya.</p>

<p>Lawan bicaranya hanya terkekeh, sudah biasa.</p>

<p>Tangan kiri mengusap sepasang tangan yang melingkar dipinggang. Pelan dan lembut.</p>

<p>“Ke Jogja nya jadi kan, sayang?”</p>

<p>Seketika menjadi hening.</p>

<p>Diusap lagi punggung telapak tangan itu.</p>

<p>Wonwoo tidak memaksa jawabannya, ia hanya menunggu dengan sabar Soonyoung yang masih diam di pundaknya.</p>

<p>“Kakak, aku izin ayah bunda dulu”</p>

<p>“Udah pasti gemay. Nanti aku juga ke rumah minta izin, gak mungkin langsung aku boyong”</p>

<p>“Rencana kakak berapa hari?”</p>

<p>“Satu minggu, kelamaan gak?”</p>

<p>Motor besar itu masih dengan lihai melaju di atas aspal. Kecepatannya standar, karena pengendaranya yang ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama.</p>

<p>Soonyoung mengangguk di belakamg, dagunya bergesekan dengan pundak Wonwoo mengisyaratkan jawabannya.</p>

<p>“Okay. Seminggu ya, aku submit cuti dulu setelah seminar di UI, habis itu kita berangkat ya gemay”</p>

<p>”....kalau di kasih izin ayah” sambungnya.</p>

<p>“Iya kak” jawab Soonyoung pelan.</p>

<p>Sejujurnya Soonyoung masih tak percayadiri untuk bertemu langsung dengan ibu kandung Wonwoo.</p>

<p>Dia tidak punya persiapan apa-apa atau hal yang bisa dibanggakan untuk bersanding dengan Wonwoo.</p>

<p>Soonyoung sendiri masih ragu dengan dirinya, jadi bagaimana bisa membuat orang lain yakin?</p>

<p>“Don&#39;t overthink sayang haha” Wonwoo mencairkan suasana.</p>

<p>“Ini mudik biasa kaya tahun-tahun kemarin aku jenguk ibu, bedanya aku bawa temen. Temen hidup kalau kamunya mau” suara Wonwoo iseng dengan senyuman usilnya terlihat dari kaca spion.</p>

<p>Satu pukulan mendarat dipundak yang lebih tua, membuat keduanya terkekeh geli.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/jogja</guid>
      <pubDate>Wed, 10 May 2023 12:27:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pulang</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/pulang-q1l8?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pulang&#xA;&#xA;Hoshi berjalan cepat menuju area pengambilan bagasi, kakinya terus mengetuk-ngetuk tak sabar lantai bandara yang mengkilap sambil menunggu kopernya sampai. &#xA;&#xA;Matanya menatap satu per satu koper yang keluar, namun miliknya tak kunjung datang membuat hatinya gusar. Padahal tidak jadi masalah, cepat atau lambat keluarganya yang sudah sampai di bandara kedatangan internasional itu tetap akan menunggu si bungsu datang.&#xA;&#xA;Hoshi beberapa kali membuka kunci layar ponselnya walaupun tidak ada satu pesan pun yang masuk, setelah mengabari saudara kembarnya tadi perasaan Hoshi malah semakin tak sabar. &#xA;&#xA;Saat koper hitam dengan name tag berlogo harimau putih sampai di depan matanya, Hoshi dengan cepat menarik keluar dan menyeretnya menjauh menuju pintu keluar. &#xA;&#xA;Langkahnya sungguh tergesa, ini adalah kali pertama Hoshi kembali ke Jakarta setelah satu setengah tahun lalu pergi merantau untuk melanjutkan pendidikannya di Singapore. Jadwalnya memang benar-benar padat sehingga keputusannya yang sebagian besar diambil berdasarkan diskusi keluarga adalah untuk tetap berada di sana sampai Hoshi bisa beradaptasi dan menyesuaikan jadwal kuliah dan pekerjaan paruh waktunya. &#xA;&#xA;Di seberang pintu keluar, suasana tidak jauh berbeda. Soonyoung mengeratkan jari-jarinya di ujung baju yang dikenakannya menahan perasaan yang diam-diam disembunyikan dari kedua orang tuanya. Menunggu Hoshi tak sabar. &#xA;&#xA;Ketika para penumpang keluar dari pintu kedatangan, pandangan Soonyoung sibuk mencari saudara kembarnya. &#xA;Saat sepasang mata kecil itu saling bertemu, keduanya langsung melepaskan senyum lega berjalan mendekat satu sama lain. &#xA;&#xA;Hoshi dengan senyum usilnya mendekat sebelum berhenti kaku. Keduanya hanya memandang satu sama lain, sebelum akhirnya Soonyoung merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut adiknya dalam peluk. &#xA;&#xA;Hoshi menyambutnya dan berhambur memeluk Soonyoung, senyum usil itu perlahan berubah mejadi isak tangis. &#xA;&#xA;Suara kecil tangis Hoshi teredam di pundak Soonyoung bersama usapa-usapan kecil dipundak si bungsu. Tidak ada ucapan penenang seperti orang dewasa hanya keduanya yang masing-masing tenggelam dalam rindu walaupun satu minggu yang lalu keduanya sudah bertemu di rumah sakit ketika Hoshi sakit. &#xA;&#xA;Bagi Hoshi rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah. &#xA;&#xA;Soonyoung itu rumah bagi Hoshi, pun sebaliknya. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pulang</p>

<p>Hoshi berjalan cepat menuju area pengambilan bagasi, kakinya terus mengetuk-ngetuk tak sabar lantai bandara yang mengkilap sambil menunggu kopernya sampai.</p>

<p>Matanya menatap satu per satu koper yang keluar, namun miliknya tak kunjung datang membuat hatinya gusar. Padahal tidak jadi masalah, cepat atau lambat keluarganya yang sudah sampai di bandara kedatangan internasional itu tetap akan menunggu si bungsu datang.</p>

<p>Hoshi beberapa kali membuka kunci layar ponselnya walaupun tidak ada satu pesan pun yang masuk, setelah mengabari saudara kembarnya tadi perasaan Hoshi malah semakin tak sabar.</p>

<p>Saat koper hitam dengan <em>name tag</em> berlogo harimau putih sampai di depan matanya, Hoshi dengan cepat menarik keluar dan menyeretnya menjauh menuju pintu keluar.</p>

<p>Langkahnya sungguh tergesa, ini adalah kali pertama Hoshi kembali ke Jakarta setelah satu setengah tahun lalu pergi merantau untuk melanjutkan pendidikannya di Singapore. Jadwalnya memang benar-benar padat sehingga keputusannya yang sebagian besar diambil berdasarkan diskusi keluarga adalah untuk tetap berada di sana sampai Hoshi bisa beradaptasi dan menyesuaikan jadwal kuliah dan pekerjaan paruh waktunya.</p>

<p>Di seberang pintu keluar, suasana tidak jauh berbeda. Soonyoung mengeratkan jari-jarinya di ujung baju yang dikenakannya menahan perasaan yang diam-diam disembunyikan dari kedua orang tuanya. Menunggu Hoshi tak sabar.</p>

<p>Ketika para penumpang keluar dari pintu kedatangan, pandangan Soonyoung sibuk mencari saudara kembarnya.
Saat sepasang mata kecil itu saling bertemu, keduanya langsung melepaskan senyum lega berjalan mendekat satu sama lain.</p>

<p>Hoshi dengan senyum usilnya mendekat sebelum berhenti kaku. Keduanya hanya memandang satu sama lain, sebelum akhirnya Soonyoung merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut adiknya dalam peluk.</p>

<p>Hoshi menyambutnya dan berhambur memeluk Soonyoung, senyum usil itu perlahan berubah mejadi isak tangis.</p>

<p>Suara kecil tangis Hoshi teredam di pundak Soonyoung bersama usapa-usapan kecil dipundak si bungsu. Tidak ada ucapan penenang seperti orang dewasa hanya keduanya yang masing-masing tenggelam dalam rindu walaupun satu minggu yang lalu keduanya sudah bertemu di rumah sakit ketika Hoshi sakit.</p>

<p>Bagi Hoshi rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah.</p>

<p>Soonyoung itu rumah bagi Hoshi, pun sebaliknya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/pulang-q1l8</guid>
      <pubDate>Mon, 08 May 2023 01:32:40 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Soonyoung mengeratkan jaketnya dan memanjat naik ke atas motor matic tua milik...</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/soonyoung-mengeratkan-jaketnya-dan-memanjat-naik-ke-atas-motor-matic-tua-milik?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#xA;&#xA;Soonyoung mengeratkan jaketnya dan memanjat naik ke atas motor matic tua milik ibunya yang tadi pagi ia bawa ke rumah ini. &#xA;&#xA;Dia duduk di jok belakang mengistirahatkan kedua telapak tangannya di atas pahanya masing-masing.&#xA;&#xA;&#34;Udah siap ngeliat rumah orang yang gak lebih kaya dari gue?&#34; Celetuk Wonwoo di depan. Padahal malam ini dingin tapi pemuda berkaca mata itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut. &#xA;&#xA;&#34;Siap bos!&#34; Balas Soonyoung singkat. &#xA;&#xA;Sebelum keluar dari pagar besar rumah mereka. Wonwoo menarik kedua tangan mungil Soonyoung untuk melingkar di perutnya. &#xA;&#xA;Soonyoung terkejut tapi tak berontak. Ia sudah kepalang lelah dan hanya membalas dengan menyenderkan kepalanya di punggung Wonwoo. &#xA;&#xA;Pikirannya kalut dan ia tak mau banyak menimbang dan berpikir untuk malam ini. Maka ia hanya melakukan yang hatinya ingin lakukan. &#xA;&#xA;&#34;Berangkat&#34; ujar Wonwoo halus. &#xA;&#xA;Anginnya sejuk, pelukkannya semakim erat, jantung keduanya pun berdegup kencang. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Soonyoung mengeratkan jaketnya dan memanjat naik ke atas motor <em>matic</em> tua milik ibunya yang tadi pagi ia bawa ke rumah ini.</p>

<p>Dia duduk di jok belakang mengistirahatkan kedua telapak tangannya di atas pahanya masing-masing.</p>

<p>“Udah siap ngeliat rumah orang yang gak lebih kaya dari gue?” Celetuk Wonwoo di depan. Padahal malam ini dingin tapi pemuda berkaca mata itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut.</p>

<p>“Siap bos!” Balas Soonyoung singkat.</p>

<p>Sebelum keluar dari pagar besar rumah mereka. Wonwoo menarik kedua tangan mungil Soonyoung untuk melingkar di perutnya.</p>

<p>Soonyoung terkejut tapi tak berontak. Ia sudah kepalang lelah dan hanya membalas dengan menyenderkan kepalanya di punggung Wonwoo.</p>

<p>Pikirannya kalut dan ia tak mau banyak menimbang dan berpikir untuk malam ini. Maka ia hanya melakukan yang hatinya ingin lakukan.</p>

<p>“Berangkat” ujar Wonwoo halus.</p>

<p>Anginnya sejuk, pelukkannya semakim erat, jantung keduanya pun berdegup kencang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/soonyoung-mengeratkan-jaketnya-dan-memanjat-naik-ke-atas-motor-matic-tua-milik</guid>
      <pubDate>Sun, 16 Oct 2022 14:39:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>SPARKS </title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/sparks?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Anginnya masih menggelitik tipis kulit putih siswa kelas sebelas yang sedang dibonceng pelan oleh sahabatnya, memacu motor matic kesayangan dengan hati-hati. Baru sepuluh menit hujan berhenti, jalanan beraspal banyak menampung perikan air dari langit bercampur pasir gersang yang terserak lalu-lalang di siang hari, keduanya berangkat dengan santai agar sampai dengan selamat di lokasi. &#xA;&#xA;Dari gerbang besi yang familiar itu keduanya melihat banyak orang yang juga mulai datang, nampaknya semua sama menunggu langit untuk berhenti menurunkan hujannya. &#xA;&#xA;Soonyoung menunjukkan dua tiketnya yang tersimpan di saku celana kepada panitia yang sebenarnya juga sudah cukup akrab ia kenal. Byungchan siswa kelas 10 IPS berapa Soonyoung lupa, mereka kenal pernah saling membantu di ruang OSIS. &#xA;&#xA;&#34;Have fun kak Nyong!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Thank you&#34; balas Soonyoung mengambil kembali potongan dari tiket yang sudah disobek bagian ujungnya oleh panitia. &#xA;&#xA;Setelah mengirim pesan kepada Wonwoo untuk menginformasikan dimana posisinya saat ini, ia kemudian berjalan masuk mencari letak panggung sekolah yang berada di tengah lapangan sepak bola, posisinya di sebelah gedung utama. Lapangan dengan rumput segar warna hijau yang terawat, tanahnya tak menggenang air akibat hujan melainkan langsung menyerap langsung air ke bawah. Memang tidak main-main bisa bersekolah dengan akreditas unggulan seperti ini. &#xA;&#xA;Soonyoung berdiri di samping Jihoon sambil mengecek kembali ponselnya. Wonwoo akan bergabung setelah penampilannya selesai karena waktu pensi yang diundur sehingga beberapa penampilan akan dibuat padat jedanya. &#xA;&#xA;Saat mengunci layar ponselnya ternyata sudah ada Seungkwan yang menarik jaketnya rapat-rapat di sebelah Jihoon mengomel panjang, rupanya kedinginan akibat cuaca malam ini. &#xA;&#xA;Beberapa penampilan dari siswa sekolah mereka sudah disaksikan, diselingi pengumuman dari pertandingan-pertandingan yang sudah diadakan selama seminggu ini. Sahutan riuh saat kelas masing-masing naik ke atas panggung menggambil hadiahnya sebagai pemenang. &#xA;&#xA;Soonyoung tidak mengikuti pertandingan apapun selain kebersihan kelas bersama teman sekelasnya, ia sudah cukup lelah mengurus kelas dan tugas dari guru yang terkadang mendadak diminta. &#xA;&#xA;Mendapatkan bocoran dari sang ketua OSIS Bambam infonya pengumuman pemenang kebersihan kelas berada di setlist terakhir jadi Soonyoung akan bersabar menunggu sambil menikmati penampilan teman-teman sekolahnya di atas panggung. &#xA;&#xA;Riuh kerumunan di sekitar terdengar semakin nyaring bahkan lebih memekakkan telinga dibanding pembagian hadiah juara basket tahunan sekolah ini. &#xA;&#xA;Sudah berdiri dengan percaya diri di atas panggung lima pemuda tampan yang rupanya menjadi magnet penonton malam ini. &#xA;&#xA;Dua wajah yang sangat familiar baginya ada di sana, sejujurnya Soonyoung juga terkejut mengetahui betapa populernya dua orang itu di antara siswa sekolahnya.&#xA;&#xA;Just give me a reason&#xA;To give my heart beating &#xA;Don&#39;t worry it&#39;s safe right here in my arms  &#xA;As the world falls apart around us&#xA;All we can do is hold on, hold on&#xA;&#xA;The Beginning - ONE OK ROCK&#xA;&#xA;Suara lembut tanpa instrument musik pada intro lagu membuat Soonyoung menganga disambut tabuhan drum Wonwoo. Penonton dibuat histeris saat petikan jari dari gitar listrik Mingyu dan Dokyeom bersahutan menarik suara Seungcheol keluar dengan tajam dan garang. Ia tak menyangka suara seperti itu dapat keluar dari seseorang seperti Seungcheol yang paling pendiam diantara mereka berlima.  Vernon pun seperti tersedot ke dalam dunianya sendiri dengan bass besar yang berkalung di lehernya. Kelima pemuda itu membuat udara dingin akibat hujan beberapa waktu lalu menjadi panas. Temperatur tiba-tiba naik seiring penampilan mereka yang begitu energik, tidak ada penonton yang tak menggerakkan tubuhnya  mengikutin alunan musik dari siswa-siswa paling populer di sekolah itu. Semua hanyut dalam musik kencang dengan sajian wajah tampan dan suara merdu di atas sana. &#xA;&#xA;Penampilan mereka sukses membuat acara pensi malam itu semakin meriah. &#xA;&#xA;Total 10 menit setelah turun panggung, Wonwoo kini sudah menyusul Soonyoung di tengah lapangan bergabung dengan siswa lainnya. Dokyeom dan Mingyu pun ikut mengekor ingin menikmati acara ini. &#xA;&#xA;Di panggung sudah ada penampilan lain dengan lagu dari siswa kelas sepuluh. &#xA;&#xA;It&#39;s you &#xA;Loving&#39;s so easy to do&#xA;It&#39;s easy baby&#xA;&#xA;It&#39;s You - MAX&#xA;&#xA;Membuat suasana malam menjadi romantis, beberapa siswa saling merangkul entah sahabat atau pasangan di sebelahnya saat ini. Tubuh mengikuti irama lembut dari musik akustik yang terasa ringan. &#xA;&#xA;Kebetulan lagu ini adalah lagu favorite Soonyoung, otomatis ia pun ikut menyanyikan liriknya, sambil beberapa kali melirik Wonwoo menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan pelan, tidak bermaksud apa-apa Soonyoung hanya sangat menyukai lagu ini. &#xA;&#xA;Wonwoo membalas dengan senyuman tipis kemudian merangkulkan lengannya ke pundak Soonyoung, mengikuti alur gerak tubuh yang lebih kecil. Soonyoung hanya menoleh sebentar dan membiarkan tangan itu bertengger di pundaknya. &#xA;&#xA;Oh Wonwoo sadar, ia menyukai orang di sampingnya ini, ada letupan kembang api di dadanya, menggelitik sedikit membuat pusing.&#xA;&#xA;Memang, terkadang logika juga harus mengalah dan menyerah. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Anginnya masih menggelitik tipis kulit putih siswa kelas sebelas yang sedang dibonceng pelan oleh sahabatnya, memacu motor <em>matic</em> kesayangan dengan hati-hati. Baru sepuluh menit hujan berhenti, jalanan beraspal banyak menampung perikan air dari langit bercampur pasir gersang yang terserak lalu-lalang di siang hari, keduanya berangkat dengan santai agar sampai dengan selamat di lokasi.</p>

<p>Dari gerbang besi yang <em>familiar</em> itu keduanya melihat banyak orang yang juga mulai datang, nampaknya semua sama menunggu langit untuk berhenti menurunkan hujannya.</p>

<p>Soonyoung menunjukkan dua tiketnya yang tersimpan di saku celana kepada panitia yang sebenarnya juga sudah cukup akrab ia kenal. Byungchan siswa kelas 10 IPS berapa Soonyoung lupa, mereka kenal pernah saling membantu di ruang OSIS.</p>

<p>“Have fun kak Nyong!”</p>

<p>“Thank you” balas Soonyoung mengambil kembali potongan dari tiket yang sudah disobek bagian ujungnya oleh panitia.</p>

<p>Setelah mengirim pesan kepada Wonwoo untuk menginformasikan dimana posisinya saat ini, ia kemudian berjalan masuk mencari letak panggung sekolah yang berada di tengah lapangan sepak bola, posisinya di sebelah gedung utama. Lapangan dengan rumput segar warna hijau yang terawat, tanahnya tak menggenang air akibat hujan melainkan langsung menyerap langsung air ke bawah. Memang tidak main-main bisa bersekolah dengan akreditas unggulan seperti ini.</p>

<p>Soonyoung berdiri di samping Jihoon sambil mengecek kembali ponselnya. Wonwoo akan bergabung setelah penampilannya selesai karena waktu pensi yang diundur sehingga beberapa penampilan akan dibuat padat jedanya.</p>

<p>Saat mengunci layar ponselnya ternyata sudah ada Seungkwan yang menarik jaketnya rapat-rapat di sebelah Jihoon mengomel panjang, rupanya kedinginan akibat cuaca malam ini.</p>

<p>Beberapa penampilan dari siswa sekolah mereka sudah disaksikan, diselingi pengumuman dari pertandingan-pertandingan yang sudah diadakan selama seminggu ini. Sahutan riuh saat kelas masing-masing naik ke atas panggung menggambil hadiahnya sebagai pemenang.</p>

<p>Soonyoung tidak mengikuti pertandingan apapun selain kebersihan kelas bersama teman sekelasnya, ia sudah cukup lelah mengurus kelas dan tugas dari guru yang terkadang mendadak diminta.</p>

<p>Mendapatkan bocoran dari sang ketua OSIS Bambam infonya pengumuman pemenang kebersihan kelas berada di <em>setlist</em> terakhir jadi Soonyoung akan bersabar menunggu sambil menikmati penampilan teman-teman sekolahnya di atas panggung.</p>

<p>Riuh kerumunan di sekitar terdengar semakin nyaring bahkan lebih memekakkan telinga dibanding pembagian hadiah juara basket tahunan sekolah ini.</p>

<p>Sudah berdiri dengan percaya diri di atas panggung lima pemuda tampan yang rupanya menjadi magnet penonton malam ini.</p>

<p>Dua wajah yang sangat <em>familiar</em> baginya ada di sana, sejujurnya Soonyoung juga terkejut mengetahui betapa populernya dua orang itu di antara siswa sekolahnya.</p>

<p><em>Just give me a reason
To give my heart beating
Don&#39;t worry it&#39;s safe right here in my arms<br/>
As the world falls apart around us
All we can do is hold on, hold on</em></p>

<p><strong>The Beginning – ONE OK ROCK</strong></p>

<p>Suara lembut tanpa instrument musik pada intro lagu membuat Soonyoung menganga disambut tabuhan <em>drum</em> Wonwoo. Penonton dibuat histeris saat petikan jari dari gitar listrik Mingyu dan Dokyeom bersahutan menarik suara Seungcheol keluar dengan tajam dan garang. Ia tak menyangka suara seperti itu dapat keluar dari seseorang seperti Seungcheol yang paling pendiam diantara mereka berlima.  Vernon pun seperti tersedot ke dalam dunianya sendiri dengan bass besar yang berkalung di lehernya. Kelima pemuda itu membuat udara dingin akibat hujan beberapa waktu lalu menjadi panas. Temperatur tiba-tiba naik seiring penampilan mereka yang begitu energik, tidak ada penonton yang tak menggerakkan tubuhnya  mengikutin alunan musik dari siswa-siswa paling populer di sekolah itu. Semua hanyut dalam musik kencang dengan sajian wajah tampan dan suara merdu di atas sana.</p>

<p>Penampilan mereka sukses membuat acara pensi malam itu semakin meriah.</p>

<p>Total 10 menit setelah turun panggung, Wonwoo kini sudah menyusul Soonyoung di tengah lapangan bergabung dengan siswa lainnya. Dokyeom dan Mingyu pun ikut mengekor ingin menikmati acara ini.</p>

<p>Di panggung sudah ada penampilan lain dengan lagu dari siswa kelas sepuluh.</p>

<p><em>It&#39;s you
Loving&#39;s so easy to do
It&#39;s easy baby</em></p>

<p><strong>It&#39;s You – MAX</strong></p>

<p>Membuat suasana malam menjadi romantis, beberapa siswa saling merangkul entah sahabat atau pasangan di sebelahnya saat ini. Tubuh mengikuti irama lembut dari musik akustik yang terasa ringan.</p>

<p>Kebetulan lagu ini adalah lagu <em>favorite</em> Soonyoung, otomatis ia pun ikut menyanyikan liriknya, sambil beberapa kali melirik Wonwoo menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan pelan, tidak bermaksud apa-apa Soonyoung hanya sangat menyukai lagu ini.</p>

<p>Wonwoo membalas dengan senyuman tipis kemudian merangkulkan lengannya ke pundak Soonyoung, mengikuti alur gerak tubuh yang lebih kecil. Soonyoung hanya menoleh sebentar dan membiarkan tangan itu bertengger di pundaknya.</p>

<p>Oh Wonwoo sadar, ia menyukai orang di sampingnya ini, ada letupan kembang api di dadanya, menggelitik sedikit membuat pusing.</p>

<p>Memang, terkadang logika juga harus mengalah dan menyerah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/sparks</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Oct 2022 13:24:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Warmest </title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/warmest?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Mengikuti arahan Jihoon tadi, Wonwoo sekarang sudah membawa satu nampan berisi semangkok mie sedap soto tanpa bubuk cabai, satu gelas teh panas tawar dan satu cup puding cokelat yang sudah ia keluarkan dari kulkas sebelum memasak mie agar pudingnya tidak terlalu dingin. &#xA;&#xA;Diletakkannya nampan itu di nakas sebelah tempat tidur Soonyoung, kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. &#xA;&#xA;&#34;Soonyoung...&#34; Panggilnya pelan. &#xA;&#xA;Ibu jarinya ia usapkan halus ke pipi orang di depannya. &#xA;&#xA;&#34;Soonyoung bangun sebentar&#34; &#xA;&#xA;Tidak ada sahutan apa-apa. &#xA;&#xA;Wonwoo memutar kepalanya, harus seperti apa lagi ia membangunkan Soonyoung karena saran Jihoon pun sudah ia ikuti. Menepuk-nepuk pipinya. &#xA;&#xA;Wonwoo menimbang-nimbang hal yang di kepalanya sedang berputar. &#xA;Jika begini terus mie sedap yang sudah dibuatnya susah payah akan membengkak, dingin dan tidak enak lagi.&#xA;&#xA;Maka dengan inisiatif dan berharap cara ini berhasil, Wonwoo kemudian memanjat naik ke atas tempat tidur Soonyoung. &#xA;&#xA;Wonwoo ikut menarik masuk tubuhnya ke dalam selimut yang membungkus Soonyoung. Rasanya benar-benar panas dan gerah tapi ia tidak tahu cara lain, maka tetap ia lakukan. &#xA;&#xA;Wonwoo menyalipkan tangannya di atas tubuh Soonyoung. Melingkarkan tangannya di pinggang yang sedang sakit, dagunya dia istirahatkan di atas puncak kepala Soonyoung. Memanggil namanya pelan agar terbangun. &#xA;&#xA;Wonwoo memeluk Soonyoung yang sedang sakit. Sesekali menepuk-nepuk lengannya lembut. &#xA;&#xA;Sampai akhirnya Soonyoung menggeliat kecil, berbalik membenamkan wajah ke dalam dada Wonwoo, membalas pelukkannya. &#xA;&#xA;Ada yang jantungnya sempat tak berdetak akibat aksi tiba-tiba itu, mengehentikan semua gerak dan kegiatannya kemudian jantungnya berderu kencang dan ia berani sumpah rasanya hampir kehabisan oksigen malam itu. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Mengikuti arahan Jihoon tadi, Wonwoo sekarang sudah membawa satu nampan berisi semangkok mie sedap soto tanpa bubuk cabai, satu gelas teh panas tawar dan satu cup puding cokelat yang sudah ia keluarkan dari kulkas sebelum memasak mie agar pudingnya tidak terlalu dingin.</p>

<p>Diletakkannya nampan itu di nakas sebelah tempat tidur Soonyoung, kemudian ia mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.</p>

<p>“Soonyoung...” Panggilnya pelan.</p>

<p>Ibu jarinya ia usapkan halus ke pipi orang di depannya.</p>

<p>“Soonyoung bangun sebentar”</p>

<p>Tidak ada sahutan apa-apa.</p>

<p>Wonwoo memutar kepalanya, harus seperti apa lagi ia membangunkan Soonyoung karena saran Jihoon pun sudah ia ikuti. Menepuk-nepuk pipinya.</p>

<p>Wonwoo menimbang-nimbang hal yang di kepalanya sedang berputar.
Jika begini terus mie sedap yang sudah dibuatnya susah payah akan membengkak, dingin dan tidak enak lagi.</p>

<p>Maka dengan inisiatif dan berharap cara ini berhasil, Wonwoo kemudian memanjat naik ke atas tempat tidur Soonyoung.</p>

<p>Wonwoo ikut menarik masuk tubuhnya ke dalam selimut yang membungkus Soonyoung. Rasanya benar-benar panas dan gerah tapi ia tidak tahu cara lain, maka tetap ia lakukan.</p>

<p>Wonwoo menyalipkan tangannya di atas tubuh Soonyoung. Melingkarkan tangannya di pinggang yang sedang sakit, dagunya dia istirahatkan di atas puncak kepala Soonyoung. Memanggil namanya pelan agar terbangun.</p>

<p>Wonwoo memeluk Soonyoung yang sedang sakit. Sesekali menepuk-nepuk lengannya lembut.</p>

<p>Sampai akhirnya Soonyoung menggeliat kecil, berbalik membenamkan wajah ke dalam dada Wonwoo, membalas pelukkannya.</p>

<p>Ada yang jantungnya sempat tak berdetak akibat aksi tiba-tiba itu, mengehentikan semua gerak dan kegiatannya kemudian jantungnya berderu kencang dan ia berani sumpah rasanya hampir kehabisan oksigen malam itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/warmest</guid>
      <pubDate>Tue, 11 Oct 2022 15:15:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Moon</title>
      <link>https://milkyways1707.writeas.com/moon?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Soonyoung..Soonyoung..?” Suara ketukan terdengar di balik pintu mahoni itu. &#xA;&#xA;Wonwoo sudah berdiri 30 detik depan kamar paling ujung yang ditempati Soonyoung namun tak kunjung ada jawaban dari penghuninya. &#xA;&#xA;Tidak terdengar suara apa-apa dari dalam padahal biasanya Wonwoo mendengar suara musik dari sana yang dinyalakan oleh Soonyoung untuk menemaninya belajar. &#xA;&#xA;Wonwoo yang khawatir akhirnya memegang gagang pintu dan mendorongnya pelan. Suasananya gelap, lampu kamar itu mati dengan jendela yang masih terbuka tirainya menampakan cahaya dari luar mengarah masuk langsung ke atas tempat tidur yang terdapat gundukan selimut tebal di atasnya. &#xA;&#xA;Wonwoo masih di ujung pintu memanggil namanya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Soonyoung?” &#xA;&#34;You okay?” &#xA;&#xA;Masih tidak ada jawaban namun gundukan selimut itu sedikit bergerak kecil. &#xA;&#xA;Wonwoo menghampiri, dengan setenang mungkin mendekat. Dari ujung selimut ia dapat melihat wajah Soonyoung yang tertidur. &#xA;&#xA;Rambutnya terlihat tak teratur, poninya yang menempel di dahi terkulai lepek dan dari sisi pelipisnnya di penuhi keringat. Wonwoo yang panik langsung menarik selimut itu turun dan menyentuh dahi Soonyoung dengan punggung tangannya. &#xA;&#xA;&#34;YA TUHAN BADAN LO PANAS BANGET SOONYOUNG&#34; sontak Wonwoo terkejut. &#xA;&#xA;Ia kemudian menyentuh pipi yang sedang tertidur itu, warna merah, lehernya berkeringat, rasanya seperti menyentuh ubi rebus yang baru diangkat dari panci kukus. Sangat panas.&#xA;&#xA;Wonwoo mencoba membangunkan Soonyoung namun hanya racauan tak jelas yang dia dapatkan. &#xA;&#xA;Soonyoung tak kunjung membuka matanya. Wonwoo akhirnya dengan cepat berdiri, menyalakan lampu kamar itu dan menutup jendelanya yang masih terbuka kemudian menelepon orang tuanya. &#xA;&#xA;&#34;Halo, mami...&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Soonyoung..Soonyoung..?” Suara ketukan terdengar di balik pintu mahoni itu.</p>

<p>Wonwoo sudah berdiri 30 detik depan kamar paling ujung yang ditempati Soonyoung namun tak kunjung ada jawaban dari penghuninya.</p>

<p>Tidak terdengar suara apa-apa dari dalam padahal biasanya Wonwoo mendengar suara musik dari sana yang dinyalakan oleh Soonyoung untuk menemaninya belajar.</p>

<p>Wonwoo yang khawatir akhirnya memegang gagang pintu dan mendorongnya pelan. Suasananya gelap, lampu kamar itu mati dengan jendela yang masih terbuka tirainya menampakan cahaya dari luar mengarah masuk langsung ke atas tempat tidur yang terdapat gundukan selimut tebal di atasnya.</p>

<p>Wonwoo masih di ujung pintu memanggil namanya pelan.</p>

<p>“Soonyoung?”
“You okay?”</p>

<p>Masih tidak ada jawaban namun gundukan selimut itu sedikit bergerak kecil.</p>

<p>Wonwoo menghampiri, dengan setenang mungkin mendekat. Dari ujung selimut ia dapat melihat wajah Soonyoung yang tertidur.</p>

<p>Rambutnya terlihat tak teratur, poninya yang menempel di dahi terkulai lepek dan dari sisi pelipisnnya di penuhi keringat. Wonwoo yang panik langsung menarik selimut itu turun dan menyentuh dahi Soonyoung dengan punggung tangannya.</p>

<p>“YA TUHAN BADAN LO PANAS BANGET SOONYOUNG” sontak Wonwoo terkejut.</p>

<p>Ia kemudian menyentuh pipi yang sedang tertidur itu, warna merah, lehernya berkeringat, rasanya seperti menyentuh ubi rebus yang baru diangkat dari panci kukus. Sangat panas.</p>

<p>Wonwoo mencoba membangunkan Soonyoung namun hanya racauan tak jelas yang dia dapatkan.</p>

<p>Soonyoung tak kunjung membuka matanya. Wonwoo akhirnya dengan cepat berdiri, menyalakan lampu kamar itu dan menutup jendelanya yang masih terbuka kemudian menelepon orang tuanya.</p>

<p>“Halo, mami...”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://milkyways1707.writeas.com/moon</guid>
      <pubDate>Tue, 11 Oct 2022 14:08:12 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>